MASA REMAJA

Masa remaja merupakan sebuah periode dalam kehidupan manusia yang batasannya usia maupun peranannya seringkali tidak terlalu jelas. Pubertas yang dahulu dianggap sebagai tanda awal keremajaan ternyata tidak lagi valid sebagai patokan atau batasan untuk pengkategorian remaja sebab usia pubertas yang dahulu terjadi pada akhir usia belasan (15-18) kini terjadi pada awal belasan bahkan sebelum usia 11 tahun. Seorang anak berusia 10 tahun mungkin saja sudah (atau sedang) mengalami pubertas namun tidak berarti ia sudah biasa dikatakan sebagai remaja dan sudah siap menghadapi dunia orang dewasa. Ia belum siap menghadapi dunia nyata orang dewasa, meski di saat yang sama ia juga bukan anak-anak lagi. Berbeda dengan balita yang perkembangannya dengan jelas dapat diukur, remaja hampir tidak memiliki pola perkembangan yang pasti. Dalam perkembangannya seringkali mereka menjadi bingung karena kadang-kadang diperlakukan sebagai anak-anak tetapi di lain waktu mereka dituntut untuk bersikap mandiri dan dewasa. Memang banyak perubahan pada diri seseorang sebagai tanda keremajaan, namun seringkali perubahan itu hanya merupakan suatu tanda-tanda fisik dan bukan sebagai pengesahan akan keremajaan seseorang. Namun satu hal yang pasti, konflik yang dihadapi oleh remaja semakin kompleks seiring dengan perubahan pada berbagai dimensi kehidupan dalam diri mereka.

Di masa modern ini, merokok merupakan suatu pemandangan yang sangat tidak asing. Kebiasaan merokok dianggap dapat memberikan kenikmatan bagi si perokok, namun dilain pihak dapat menimbulkan dampak buruk bagi si perokok sendiri maupun orang – orang disekitarnya. Berbagai kandungan zat yang terdapat di dalam rokok memberikan dampak negatif bagi tubuh penghisapnya. Beberapa motivasi yang melatarbelakangi seseorang merokok adalah untuk mendapat pengakuan (anticipatory beliefs), untuk menghilangkan kekecewaan(reliefing beliefs), dan menganggap perbuatannya tersebut tidak melanggar norma ( permissive beliefs/ fasilitative) (Joewana, 2004). Hal ini sejalan dengan kegiatan merokok yang dilakukan oleh remaja yang biasanya dilakukan didepan orang lain, terutama dilakukan di depan kelompoknya karena mereka sangat tertarik kepada kelompok sebayanyaatau dengan kata lain terikat dengan kelompoknya

Maraknya penggunaan rokok dikalangan remaja pada zaman sekarang ini dikarenakan masih banyaknya siswa yang tidak paham terhadap masalah kesehatan, walaupun pada bungkus rokok sudah tertera penyebab dari rokok yaitu “Merokok dapat menyebabkan Kanker, Serangan Jantung, Impotensi dan gangguan Kehamilan serta Janin”. Kita ketahui banyak siswa sebelum berangka maupun sesudah selesai sekolah banyak yang merokok sambil nongkrong. Memang pada masa muda sakit akibat rokok yaitu paru-paru tidak terasa, namun nanti pada saat usia diatas 40 tahun, baru macam-macam penyakit akan muncul seperti yang tertera pada bungkus rokok tersebut. Berdasarkan dari masalah tersebut para pakar Guru-Guru SeJember (GGS) memberikan solusi yaitu dengan cara mengusahakan kurikulum tentang kesehatan (akibat dari merokok) disekolah-sekolah khususnya kalangan remaja dewasa ini.

2.2. Tipe Perilaku Merokok

Telah diungkapkan oleh Leventhal & Chearly (Komasari & Helmi,2000) terdapat tahap dalam perilaku merokok sehingga menjadi perokok, yaitu :

  1. Tahap Prepatory. Seseorang mendapatkan gambaran yang menyenangkan mengenai merokok dengan cara mendengar, melihat atau dari hasil bacaan. Hal-hal ini menimbulkan minat untuk merokok.
  2. Tahap Initiation. Tahap perintisan merokok yaitu tahap apakah seseorang akan meneruskan atau tidak terhadap perilaku merokok.
  3. Tahap Becoming a Smoker. Apabila seseorang telah mengkonsumsi rokok sebanyak empat batang per hari maka mempunyai kecenderungan menjadi perokok.
  4. Tahap Maintenance of Smoking. Tahap ini merokok sudah menjadi salah satu bagian dari cara pengaturan diri (self regulating). Merokok dilakukan untuk memperoleh efek fisiologis yang menyenangkan.

Menurut Smet (1994) ada tiga tipe perokok yang dapat diklasifikasikan menurut banyaknya rokok yang dihisap. Tiga tipe rokok tersebut adalah :

  1. Perokok berat yang menghisap lebih dari 15 batang rokok dalam sehari.
  2. Perokok sedang menghisap 5-14 batang rokok dalam sehari.
  3. Perokok ringan yang menghisap 1-4 batang rokok dalam sehari.

Berdasarkan survey yang dilakukan Komnas Perlindungan Anak 2009 banyak factor lain yang mempengaruhi remaja atau siswa zaman sekarang merokok, antara lain :

  1. Orang tua

Dalam hal ini orang tua sangat berpengaruh terhadap pembentukan tingkah laku anak sehari-hari, karena disini orang tua adalah orang yang sering dekat dengan anak. Sehingga jika orang tua kuarang memperhatikan anak,dimana anak bermain, dengan siapa dia bergaul, maka akibatnya anak menjadi brutal, contohnya saja berani merokok. Sebagai keluarga apalagi orang tua seharusnya wajib mendidik anak dengan baik penuh pengorbanan, keikhlasan, jadi jangan hanya material dan logika keuangan untung rugi saja. Karena disini anak adalah penerus kelurga dan bangsa

Kita ketahui banyak sekali orang tua yang saat ini masih merokok, walaupun didepannya ada anaknya sendiri. Hal inilah yang dapat menyebabkan anak sekarang merokok, berawal dari melihat akhirnya mencoba, sehingga pada akhiranya ketagihan. Jika sudah ketagihan, apalagi masih sekolah, uang masih minta, bias-bisa karena sudah ketagihan maka pada akhirnya muncul niat mencuri. Berdasarkan survey menurut orang yang merokok, kalau tidak merokok itu kecut. Sehingga disarankan supaya orang tua harus tahu mana yang baik dan mana yang jalek buat anak, karena anak 50 % pasti ikut sifat bapaknya. Seharusnya sebagai orang tua yaitu orang yang lebih mengerti juga mengajarkan hal-hal yang baik terhadapnya

Dengan demikian agar anak tidak melakukan atau merokok, orang tua harus sering-sering mengontrol semua apa yang dilakukan anak baik diluar maupun didalam rumah, dengan kata lain yaitu sering-sering berkomunikasi dan janganlah pernah orang tua merokok pada saat ada anak maupun didepan anak. Karena berawal dari keluargalah maka pada akhiranya diikuti oleh anaknya.

Salah satu temuan tentang remaja perokok adalah bahwa anak-anak muda yang berasal dari rumah tangga yang tidak bahagia, dimana orang tua tidak begitu memperhatikan anak-anaknya dan memberikan hukuman fisik yang keras lebih mudah untuk menjadi perokok dibanding anak-anak muda yang berasal dari lingkungan rumah tangga yang bahagia (Baer & Corado dalam Atkinson, Pengantar psikologi, 1999:294).

  1. Sekolah

Sekolah ini adalah tempat no dua selain orang tua yaitu tempat belajar,tempat berkumpul, bermain para siswa. Jadi 50 % siswa berani merokok ini karna adanya pergaulan disekolah. Disini siswa yang masih dibawah umur yang masih memiliki rasa ingin tau yang tinggi, biasanya siswa ikut-ikutan merokok.Seharusnya pada tiap-tiap sekolah ini ada waktu untuk razia(operasi) tas-tas tiap-tiap siswa, sehingga dengan adanya razia seperti itu otomatis hal-hal yang tidak diinginkan seperti membawa rokok, sabu-sabu dan lain-lain yang bersifat negative tidak akan terjadi. Biasanya siswa meletakkan barang-barangnya tersebut ditas, disebabkan tas itu tempatnya cukup luas. Jadi razia ini bisa dilakukan satu kali seminggu, dua kali seminggu tergantung musyawarah semua institusi yang ada disekolah.

Maka seharusnya yang dilakukan pihak sekolah untuk mengatasi siswa merokok selain melakukan razia yaitu dengan cara memberikan peraturan yang ketat yang bisa membuat para siswa enggan merokok. Sehingga dengan adanya peraturan seperti itu pengguna rokok khususnya kalangan remaja bisa diatasi.

  1. Warung dan Kantin

Disini warung maupun kantin merupakan factor-faktor lain yang mempengaruhi siswa merokok. Kita tahu warung maupun kantin adalah tempat dimana siswa membeli sesuatu baik makanan ringan maupun yang lainnya. Biasanya karena penjual ingin warung atau kantinnya laris, penjual warung selain berjualan makanan ringan juga menjual hal yang lain contohnya rokok. Disebabkan rokok ini adalah hal yang sangat digemari kalangan remaja sekarang, bisa menghilangkan setres(menurut kalangan remaja). Jadi hal ini yang dapat merangsang siswa pada zaman sekarang untuk merokok. Seharusnya pihak sekolah terlebih dahulu memberi tahu kepada para penjual warung maupun kantin, supaya tidak menjual rokok pada siswa atau hal-hal yang merugikan siswa. Jika masih tetap menjual rokok, maka cepat-cepat diberi sanksi misalnya dilarang menjual didekat sekolah.

  1. Pengaruh teman.

Berbagai fakta mengungkapkan bahwa semakin banyak remaja merokok maka semakin besar kemungkinan teman-temannya adalah perokok juga dan demikian sebaliknya. Dari fakta tersebut ada dua kemungkinan yang terjadi,

pertama remaja tadi terpengaruh oleh teman-temannya atau bahkan temant-teman remaja tersebut dipengaruhi oleh diri remaja tersebut yang akhirnya mereka semua menjadi perokok. Diantara remaja perokok terdapat 87% mempunyai sekurang-kurangnya satu atau lebih sahabat yang perokok begitu pula dengan remaja non perokok (Al Bachri, 1991)

  1. Faktor Kepribadian.

Orang mencoba untuk merokok karena alasan ingin tahu atau ingin melepaskan diri dari rasa sakit fisik atau jiwa, membebaskan diri dari kebosanan. Namun satu sifat kepribadian yang bersifat prediktif pada pengguna obat-obatan (termasuk rokok) ialah konformitas sosial. Orang yang memiliki skor tinggi pada berbagai tes konformitas sosial lebih mudah menjadi pengguna dibandingkan dengan mereka yang memiliki skor yang rendah (Atkinson,1999).

  1. Pengaruh Iklan.

Melihat iklan di media massa dan elektronik yang menampilkan gambaran bahwa perokok adalah lambang kejantanan atau glamour, membuat remaja seringkali terpicu untuk mengikuti perilaku seperti yang ada dalam iklan tersebut. (Mari Juniarti, Buletin RSKO, tahun IX,1991).

  1. Pergaulan masyarakat

Pergaulan memang sangat penting bagi anak-anak tingkat SMA sekarang. Namun pergaulan yang salah juga dapat mengakibatkan dampak negative bagi perkembangan anak. Pada lingkungan masyarakat tentunya ini adalah tempat dimana anak-anak bermain baik anak-anak dengan anak-anak, anak-anak dengan bapak-bapak maupun anak-anak dengan anak yang dewasa. Sehingga dari pergaulan yang beragam tersebut bias muncul sianak ingin merokok. Dikarenakan rata-rata bapak-bapak maupun orang-orang dewasa zaman inibanyak mengkonsumsi rokok.

.

2.3.      Motif Perilaku Merokok

Laventhal & Chearly (dalam Oskamp, 1984) menyatakan motif seseorang merokok terbagi menjadi dua motif utama , yaitu :

  1. Kebiasaan

Perilaku merokok menjadi sebuah perilaku yang harus tetap dilakukan tanpa adanya motif yang bersifat negative ataupun positif. Seseorang merokok hanya untuk meneruskan perilakunnya tanpa tujuan tertentu.

  1. Reaksi emosi yang positif

Merokok digunakan untuk menghasilkan emosi yang positif, misalnya rasa senang, relaksasi, dan kenikmatan rasa. Merokok juga dapat menunjukkan kejantanan (kebanggan diri) dan menunjukkan kedewasaan.

  1. Reaksi untuk penurunan emosi

Merokok ditujukan untuk mengurangi rasa tegang, kecemasan biasa, ataupun kecemasan yang timbul karena adanya interaksi dengan orang lain.

  1. Alasan Sosial

Merokok ditujukan untuk mengikuti kebiasaan kelompok (umumnya pada remaja dan anak-anak), identifikasi dengan perokok lain , dan untuk menentuka image diri seseorang. Merokok pada anak-anak juga dapat disebabkan adanya paksaan teman-temannya.

  1. Kecanduan dan ketagihan

Seseorang merokok karena mengaku telah mengalami kecanduan. Kecanduan terjadi karena adanya nikotin yang terkandung di dalam rokok. Semula hanya mencoba-coba rokok, akhirnya tidak dapat menghentikan perilaku tersebut karena kebutuhan tubuh akan nikotin.

2.4. Dampak Perilaku Merokok

Ogden (2000) membagi dampak perilaku merokok menjadi dua, yaitu:

  1. Dampak Positif

Merokok menimbulkan dampak positif sedikit sekali, Graham (dalam Ogden,2000) menyatakan bahwa perokok menyebutkan dengan merokok dapat menghasilkan mood positif dan dapat membantu individu menghadapi keadaan-keadaan yang sulit. Smeet (1994) menyebutkan keuntungan merokok yaitu mengurangi ketegangan, membantu berkonsentrasi, dukungan social dan menyenangkan.

  1. Dampak Negatif

Merokok dapat menimbulkan berbagai dampak negative yang sangat berpengaruh bagi kesehatan (Ogden,2000). Merokok bukanlah penyebab suatu penyakit , tetapi pemicu suatu jenis penyakit sehingga dapat dikatakan merokok dapat mendorong munculnya jenis penyakit yang dapat mengakibatkan kematian. Berbagai jenis penyakit yang dapat dipicu karena merokok dimulai dari penyakit di kepala sampai kaki, antara lain (Sitepce, 2001) : penyakit kardiolovaskular, neoplasma (kanker), saluran pernafasan, peningkatan tekanan darah, memperpendek umur, penurunan vertilitas(kesuburan) dan nafsu seksual, sakit mag, gondok, gangguan pembuluh darah, penghambat pengeluaran air seni, amblyopia (penglihatan kabur), kulit menjadi kering, pucat dan keriput, serta polusi udara dalam ruangan (sehingga terjadi iritasi mata, hidung, dan tenggorokan.

2.5.Solusi Penanganan Masalah merokok pada remaja atau siswa

Semua masalah tersebut perlu mendapat perhatian dari berbagai pihak mengingat remaja merupakan calon penerus generasi bangsa. Ditangan remaja lah masa depan bangsa ini digantungkan.

Terdapat beberapa cara yang dapat dilakukan dalam upaya untuk mencegah semakin meningkatnya masalah yang terjadi pada remaja, yaitu antara lain :

  1. Peran Orangtua :

–        Menanamkan pola asuh yang baik pada anak sejak prenatal dan balita

–        Membekali anak dengan dasar moral dan agama

–        Mengerti komunikasi yang baik dan efektif antara orangtua – anak

–        Menjalin kerjasama yang baik dengan guru

–        Menjadi tokoh panutan bagi anak baik dalam perilaku maupun dalam hal

menjaga lingkungan yang sehat

–        Menerapkan disiplin yang konsisten pada anak

–        Hindarkan anak dari NAPZA

  1. Peran Guru :

–        Bersahabat dengan siswa

–        Menciptakan kondisi sekolah yang nyaman

–        Memberikan keleluasaan siswa untuk mengekspresikan diri pada kegiatan

Ekstrakurikuler

–        Menyediakan sarana dan prasarana bermain dan olahraga

–        Meningkatkan peran dan pemberdayaan guru BP

–        Meningkatkan disiplin sekolah dan sangsi yang tegas

–        Meningkatkan kerjasama dengan orangtua, sesama guru dan sekolah lain

–        Meningkatkan keamanan terpadu sekolah bekerjasama dengan Polsek

Setempat

–        Mewaspadai adanya provokato

–        Mengadakan kompetisi sehat, seni budaya dan olahraga antar sekolah

–        Menciptakan kondisi sekolah yang memungkinkan anak berkembang

secara sehat dalah hal fisik, mental, spiritual dan social

–        Meningkatkan deteksi dini penyalahgunaan NAPZA

  1. Peran Pemerintah dan masyarakat :

–        Menghidupkan kembali kurikulum budi pekerti

–        Menyediakan sarana/prasarana yang dapat menampung agresifitas anak

melalui olahraga dan bermain

–          Menegakkan hukum, sangsi dan disiplin yang tegas

–          Memberikan keteladanan

–          Menanggulangi NAPZA, dengan menerapkan peraturan dan hukumnya secara tegas

–          Lokasi sekolah dijauhkan dari pusat perbelanjaan dan pusat hiburan

–          Sebaiknya pemerintah mengadakan seminar atau penyuluhan mengenai bahaya merokok, terutama pada remaja yang duduk di bangku SMP ( diatas 13 tahun), karena berdasarkan penelitian yang dilakukan, sebagian besar ramaja merokok pertama kali ketika berusia 13 tahun

–          Pemerintah membuat Undang-undang yang isinya yaitu boleh merokok namun harus diatas umur 25 tahun, sebab umur 25 tahun  keatas itu sudah dewasa sudah tahu dengan hal yang menyangkut dirinya sendiri baik yang merugikan maupun yang menguntungkan bagi dirinya

–          Pemerintah membuat suatu sepanduk sebagai sponsor dengan maksud agar masyarakat bisa mengetahui lebih dalam. Sehingga penjual maupun pengguna rokok tidak asal-asalan menjual maupun membeli. Memang disisi lain pajak rokok sangat besar bagi Negara, bahkan paling besar pajaknya dibandingkan bahan lain, namun kalau diliat dari akibatnya juga sangat besar selain perusak kesehatan generasi muda asapnya juga bisa menipiskan lapisan ozon.

  1. Peran Media :

–          Sajikan tayangan atau berita tanpa kekerasan (jam tayang sesaui usia)

–          Sampaikan berita dengan kalimat benar dan tepat (tidak provokatif)

–          Adanya rubrik khusus dalam media masa (cetak, elektronik) yang bebas

biaya khusus untuk remaj