MERUMUSKAN ANGGAPAN DASAR

A. Pengertian

Dalam hal ini peneliti harus dapat memberikan sederetan asumsi yang kuat tentang kedudukan permasalahan yang sedang diteliti. Asumsi yang harus diberikan tersebut, diberi nama asumsi dasar atau anggapan dasar. Anggapan dasar ini merupakan landasan teori di dalam pelaporan hasil penelitian nanti.

Menurut Prof. Dr. Winarno Surakhmad M.Sc.Ed. anggapan dasar atau postulat merupakan sebuah titik tolak pemikiran yang kebenarannya diterima oleh penyelidik, dimana setiap penyelidik dapat merumuskan postulat yang berbeda. Seorang penyelidik yang mungkin meragukan sesuatu anggapan dasar yang oleh orang lain diterima sebagai suatu kebenaran.

Dalam melakukan penelitian anggapan – anggapan dasar perlu di-rumuskan secara jelas sebelum melangkah mengumpulkan data. Anggapan- anggapan semacam inilah yang disebut sebagai anggapan dasar, postulat atau asumsi dasar.

Peneliti perlu merumuskan anggapan dasar :

  1. Agar ada dasar berpijak yang kokoh bagi masalah yang sedang diteliti
  2. Untuk mempertegas variabel yang menjadi pusat perhatian
  3. Guna menentukan dan merumuskan hipotesis

B. Cara Menentukan Anggapan Dasar

Seseorang yang masih merasa ragu terhadap suatu hal tentu saja tidak dapat dengan pasti menentukan anggapan bagi hal tersebut. Bagaimana agar kita bisa tahu kebenaran tentang suatu keadaan ? caranya bermacam macam, diantaranya :

1.   Dengan banyak membaca buku, surat kabar atau berita lain

Dalam hal ini Prof. Drs. Sutrisno Hadi, M.A. mengklasifikasikan bahan pustaka ( yang disebut sumber acuan ) menjadi dua kelompok yaitu :

a)      sumber umum : buku teks, ensiklopedi dsb.

b)      Sumber acuan khusus : buletin, jurnal, periodikan ( majalah – majalah yang terbit secara periodik ), skripsi dsb

Dari sumber acuan umum dapat diperoleh teori – teori dan konsep – konsep dasar, sedang dari sumber acuan khusus dapat dicari penemuan – penemuan atau hasil penelitian yang sudah dan sedang dilaksanakan

2.   Dengan banyak menonton berita, ceramah dan pembicaraan orang lain

3.   Dengan banyak berkunjung ketempat

4.   Dengan mengadakan pendugaan mengabstraksi berdasarkan perbendaharaan pengetahuannya

Dengan singkat dapat dikatakan bahwa asumsi dasar, postulat atau anggapan dasar harus didasarkan atas kebenaran yang telah diyakini oleh peneliti.

Sebagai bahan pendukung anggapan dasar, peneliti perlu melakukan studi perpustakaan untuk mengumpulkan teori – teori dari buku maupun penemuan dari penelitian. Apa yang sudah dibaca sebaiknya langsung dicatat pada kartu – kartu. Cara ini disebut dengan istilah pencatatan dengan sistem kartu. Bahan – bahan yang sudah dibaca, dituliskan pada sebuah kartu dengan topik subjek matter atas bagian dari permasalahannya dimana pada setiap kartu dicantumkan sumber keterangan yang diambil agar tidak ada kesulitan apabila buku pinjaman atau sukar kembali ditemukannya. Oleh karenanya penulisannya harus lengkap agar tidak perlu membuka buku sumbernya lagi

Kartu yang digunakan dapat dibuat dari kertas manila berwarna. Untuk masalah yang sama dapat digunakan kartu yang sewarna. Ukuran kartu dapat dibuat sesuai kehendak hati misalnya 15 x 10 cm. kartu – kartu yang sudah diisi disusun sesuai abjad dalam sebuah kotak sehingga memudahkan penelitian dalam membandingkan, mengelompokkan dan menelaah kembali bahan – bahan tersebut.

Merumuskan suatu anggapan dasar bukanlah pekerjan yang mudah, tapi ini membutuhkan suatu pemikiran, renungan dan analisis masalah, sehingga boleh jadi bisa dianggap sukar bagi siapa saja, terutama bagi yang belum biasa meneliti. Untuk melakukan hal ini diperlukan latihan, membiasakan dan banyak melihat contoh seperti di bawah ini.

Judul penelitian :

Studi tentang peranan orang tua terhadap pilihan profesi anak SMA se-Daerah Istimewa Yogyakarta.

Anggapan dasar yang dapat dirumuskan antara lain :

1.   Hubungan antara anak dengan oranga tua cukup erat

2.   Anak tahu tentang keadaan orang tuanya ( pendidikan, pekerjaan, cita – cita terhadap dirinya dsb )

3.   Anak SMA sudah memahami berjenis jenis profesi yang ada, baik dalam wilayah yang sempit maupun wilayah yang luas

MERUMUSKAN HIPOTESIS

A. Pengertian

Agar dapat lebih mudah dipahami, pengertian ini perlu dikutipkan pendapat Drs. Sutrisno Hadi M.A. tentang pemecahan masalah. Seringkali peneliti tidak dapat memecahkan permasalahannya hanya dalam sekali jalan. Permasalahan itu akan diselesaikan bertahap degan cara mengajukan pertanyaan – pertanyaan dan mencari jawabannnya melalui penelitian yang dilakukan.

Jawaban terhadap permasalahn ini dibedakan atas dua hal sesuai dengan taraf pencapaiannya yaitu :

1.   Jawaban permasalahan yang berupa kebenaran pada taraf teoritik, dicapai melalui membaca

2.   Jawaban permasalahn yang berupa kebenaran pada taraf  praktek, dicapai setelah penelitian selesai yaitu setelah pengolahan terhadap data.

Sehubungan dengan pembatasan pengertian tersebut, maka hipotesis dapat diartikan sebagai satu jawaban yang bersifat sementara terhadap permasalahn penelitian, sampai terbukti melalui data yang terkumpul. Dari arti katanya, hipotesis berasal dari dua penggalan kata “hipo” yang artinya “di bawah” dan “thesa” yang artinya “kebenaran” jadi hipotesis yang kemudian cara penelitian disesuaikan dengan ejaan bahasa indonesia menjadi hipotesa, dan berkembang menjadi hipotesis.

Apabila peneliti telah mendalami permasalahan penelitiannya dengan seksama serta menetapkan anggapan dasar, kemudian membuat suatu teori sementara yang kebenaranya masih perlu diuji. Inilah hipotesis peneliti harus berpikir bahwa hipotesisnya itu dapat diuji. Selanjutnya peneliti akan bekerja berdasarkan hipotesis ini. Peneliti mengumpulkan data – data yang paling berguna untuk membuktikan hipotesis. Berdasarkan data yang terkumpul, peneliti akan menguji apakah hipotesis dapat dirumuskan dapat naik status menjadi tesa atau sebaliknya,tumbang sebagai hipotesis apabila ternyata tidak terbukti.

Hal yang perlu diperhatikan oleh peneliti adalah ia tidak boleh mempunyai keinginan kuat agar hipotesisnya terbukti dengan cara mengumpulkan data yang hanya bisa membantu memenuhi keinginannya atau memanipulasi data sehingga mengarah pada keterbuktian hipotesis. Penelitian harus bersikap objektif terhadap data yang terkumpul. Terhadap hipotesis yang sudah dirumuskan, peneliti dapat bersikap dua hal :

1. Menerima keputusan seperti apa adanya seandainya hipotesisnya tidak terbukti ( pada akhir penelitian ).

2. Mengganti hipotesis seandainya melihat tanda – tanda bahwa data yang terkumpul tidak mendukung terbuktinya hipotesis ( pada saat penelitian perlangsung ).

Apabila peneliti mengambil hak kedua, maka di dalam laporan penelitian harus dituliskan proses penggantian ini. Dengan demikian peneliti telah bertindak jujur dan tegas, sesuatu yang memang diharapkan dari seorang peneliti.

Bagaimana mengetahui kedudukan suatu hipotesis ?

1.   Perlu diuji apakah ada data yang menunjuk hubungan antara variabel penyebab dan variabel akibat.

2.   Adanya data yang menunjukkan bahwa akibat yang ada memang ditimbulkan oleh penyebab itu.

3.   Adanya daat yang menunjukkan bahwa tidak ada penyebab lain yang bisa menimbulkan akibat tersebut.

Apabila katiga hal tersebut dapat dibuktikan, maka hipotesis yang dirumuskan, mempunyai kedudukan yang kuat dalam penelitian. Walaupun hipotesis sangat penting sebgai pedoman kerja dalam penelitan, namun tidak semua penelitian harus berorientasikan hipotesis. Jenis penelitian eksploratif, survei, atau kasus dan penelitian development biasanya tidak berhipotesis. Tujuan peneliatian jenis ini untuk mempelajari tentang gejala sebanyak – banyaknya.

Sehubungan dengan hal ini, G.E.R.Brurrough mengatakan bahwa penelitian berhipotesis penting dilakukan bagi :

1. penelitian menghitung banyaknya sesuatu ( magnetude )

2. penelitian tentang perbedaan ( diferensies )

3. penelitian hubungan ( relationship )

Ahli lain yaitu deobolt van dalen mengutarakan adanya tiga bentuk interelationship studies yang termasuk penelitian hipotesis yaitu :

a. Case Studies

b. Causal Coparative Studies

c. Corelations Studies

B. Jenis – Jenis Hipotesis

Hipotesis merupakan suatu pernyataan yang penting kedudukannya dalam peneliti. Oleh karena itu peneliti dituntut untuk dapat merumuskan hipotesis dengan jelas. Seseorang ahli bernama Bored dan Gall ( 1979:61) mengajukan adanya persyaratan untuk hipotesis sebagai berikut :

Ada dua jenis hipotesis yang digunakan dalan penelitian :

1.   Hipotesis Kerja atau Hipotesis Alternatif (Ha)

Hipotesis kerja menyatakan adanya hubungan antara variabel X dan Y, adanya perbedaan antara dua kelompok.

Rumus hipotesis kerja ;

a. jika………………….maka……………

contoh :

Jika orang banyak makan, maka berat badannya akan naik.

b. ada perbedaan antara…………..dan…………………..

contoh :

Ada perbedaan antara penduduk kota dan penduduk desa dalam cara berpakaian

c. ada pengaruh……………..terhadap……………….

contoh :

Ada pengaruh makanan terhadap berat badan.

2.   Hipotesis nol ( null hipotesis ) disingkat Ho

Hipotesis nol disebut juga hipotesis statistik karena biasanya dipakai dalam penelitian yang bersifat statistik, yaitu diuji dengan perhitungan statistik Hipotesis nol menyatakan tidak adanya perbedaan antara dua variabel, atau tidak adanya pengaruh variabel X dan variabel Y. dengan kata lain selisih variabel pertama dan kedua adalah nol atau nihil.

Rumusan hipotesis nol :

a. tidak ada perbedaan antara……………dengan………….

Contoh :

Tidak ada perbedaan antara mahasiswa  tingkat I dan mahasiswa tingkat II dalam disiplin kuliah

b. tidak ada pengaruh……………………terhadap………….

Contoh :

Tidak ada pengaruh jarak dari rumah ke sekolah terhadap kerajinan mengikuti kuliah.

Dalam pembuktian, hipotesis alternatif (Ha) diubah menjadi (Ho) agar peneliti tidak mempunyai prasangka. Peneliti diharapkan jujur, tidak terpengaruh pernyataan ha. Kemudian dikembangkan lagi ke ha pada rumusan akhir pengetesan hipotesis.

C. Kekelirun yang Terjadi dalam  Pengujian Hipotesis

Hipotesis perlu dilakukan secara hati – hati setelah peneliti memperoleh bahan yang lengkap berdasarkan landasan teori yang kuat. Sebab dalam merumuskan hipotesis tidak selamanya benar.

Benardan tidaknya hipotesis tidak ada hubungannya dengan terbukti  dan tidaknya hipotesis tersebut. Mungkin seorang peneliti merumuskan hipotesis yang isinya benar, tetapi setelah data terkumpul dan dianalisis ternyata hipotesis tersebut ditolak, atau tidak terbukti. Sebaliknya mungkin seorang peneliti merumuskan sebuah hipotesis yang salah, tetapi setelah dicocokkan dengan datanya, hipotesis yang salah tersebut terbukti.

Keadaan ini akan berbahaya, apabila mengenai hipotesis tentang sesuatu yang berbahaya.

Contoh:

Belajar tidak mempengaruhi prestasi. Dari data yang terkumpul, memang ternyata anak –anak yang tidak belajar dapat lulus. Maka ditarik kesimpulan bahwa hipotesis tersebut terbukti.

Menurut norma umum kesimpulan ini salah, tapi menurut pembuktin hipotesis mungkin benar. Akibatnya bisa berbahaya apabila disimpulkan oleh siswa  atau mahasiswa bahwa tidak ada gunanya mereka belajar. Yang salah adalah perumusan hipotesisnya. Dalam hal lain dapat terjadi perumusan hipotesisnya benar tetapi ada kesalahan dalam penarikan kesimpulan.apabila terjadi hal semacam itu tidak boleh menyalahkan hipotesisnya.

Kesalahan penarikan kesimpulan mungkin disebabkan karena kesalahan sampel, kesalahan perhitungan ada pada variabel lain yang mengubah hubungan antara variabel belajar dan variabel prestasi yang pada saat pengujian hipotesis ikut berperan.

Misalnya:

Faktor untung – untungan, faktor soal tes, yang sudah bocor, faktor menyontek, dan sebagainnya.

Untuk memperjelas keterangan, berikut ini disampaikan matriks macam kekeliruan ketika membuat kesimpulan tentang hipotesis pada umumnya.

Macam kekeliruan ketika membuat Kesimpulan tentang hipotesis

Kesimpulan dan keputusan Keadaan sebenarnya
Hipotesis benar Hipotesis  salah
Terima hipotesis Tidak  membuat kekeliruan Kekeliruan macam II
Tolak hipotesis Kekeliruan macam I Tidakmembuat kekeliruan

Ditentukan bahwa probabilitas melakukan kekeliruan macm I dinyatakan dengan α (alpha), sedangkanmelakukan kekeliruan macam II dinyatakan engan β (beta). Nama – nama ini digunakan untukmenentukan jenis kesalahan.

Misalnya: Peneliti menetapkan kesalahandengan α = 1 % berarti dapt disimpulkan bahwa ada penyimpangan sebanyak 1%. Besar kecilnya resiko kesimpulanini tergantung darikeberanian peneliti, atau kesediaan peneliti mengalami kesalahan tipe I.

Kesalahan tipe I ini disebut taraf signifikasi pengetesan, artinya kesediaan yang berwujud besarnya probabilitas jika hasil penelitian terhadap sampel akan diterapkan pada populasi. Besarnya taraf  signifikansi ini pada umumnya sudah diterpkan terlebih dahulu misalnya 0,15; 0,5; 0,01, dan sebagainya.

Pada umumnya untuk penelitian – penelitian di bidang ilmu pendidikan digunakan taraf signifikansi 0,05 atau 0,01, sedangkan untuk peneliti obat – obatan yang resikonya menyangkut jiwa manusia, diambil 0,005 atau 0,001, bahkan mungkin 0,0001.

Apabila peneliti menolak hipotesis atas dasar taraf signifikansi 5% berarti sama dengn menolak hipotesis atas dasar taraf  kepercayaan 95%, artiny apabila kesimpulan tersebut diterapkan pada populasi yang terdiri dari 100 orang, akan cocock untuk 95 orang dan bagi 5 orang lainnya terjadi penyimpangan.

D. Cara Menguji Hipotesis

Di dalam menentukan penerimaan dan penolakan hipotesis maka Hipotesis Alternatif (Ha) diubah menjadi Hipotesis nol (Ho).untuk keerluan ini dicontohkanpenerapannya pada sebuah populasi berdistribusi normal, yang digambarkan dengan grafik seperti dibawah.

Dengan asumsi bahwa populasi tergambar dalam kurva normal. Sehingga jika kita menentukan taraf kepercayaan 95% dengan pengetesan 2 ekor, maka akan terdapat 2 daerah kritik, yaitu di ekor kanandan di ekor kiri kurva, masing – masing 21/2 %. Penjelasan mengenai masalah ini lebih lanjut akan diberikan pada langkah penarikan kesimpulan.

Daerah kritik merupakan daerah penolakan hipotesis (hipotesis nihil)  dan disebut daerah signifikansi. Sebaliknya daerah yang terletak di antara dua daerah kritis, yang diarsir, dinamakan daerah penerimaan hiptesis, atau daerah non-signifikansi.

Apaila kita mengetes nilai Z-score, dan dari N-120, dan dari perhitungan Z- score dengan rumus:

Misalnya 1,70, maka letaknya pada kurva adalah sebagai berikut:

Besarnya z-score 1,70 terletak di daerah peerimaan hipotesis nihil. Ini berarti bahwa hipotesis nihilyang dirumuskan, diterima, atau dengan kata lain hiotesis kerja ditolak.

E.   Penelitian Tanpa Hipotesis

Apakah semua penelitian harus berhipoteis?. Ada dua alternatif jawaban dan masing- masing mendasarkan diri pada argumentasi yang kuat.

Pendapat pertama mengatakan, semua penelitian pasti berhipoteis. Semua peneliti diharapkan menentukan jawaban sementara, yang akan diuji berdasarkan data yang  diperoleh. Hipotesis harus ada karena jawaban peneitian juga harus ada, dan butir – butirnya sudah disebut dalam problematika maupun tujuan penelitian.

Pendapat kedua mengatakan, hipotesis hanya dibuat jika dipermasalahkan menunjukkan hubungan antara dua variabelatau lebih. Jawaban untuk satu variabel yang sifatnya deskriptif, tidak perlu dihipotesiskan. Penelitian eksploratif yang jawabannya masih dicari dan sukar diduga, tentu sukar ditebak apa saja, atau bahkan tidak mungkin dihipotesiskan.

Berdasarkan pendapat kedua ini mungkin sekali di dalam sebuah penelitian, banyak hipotesis tidak sama dengan banyaknya problematika dan tujuan penelitian. Mungkin problematika unsur 1 dan 2 yang sifatnya deskriptif tidak diikuti dengan hipotesis , tetapi probematika nomor 3 dihipotesiskan.

Contoh:

Hubungan antara motivasi berprestasi dengan etos kerja para karyawankantor A.

Problematika 1:

Seberapa tinggi motivasi berrestasi keryawan kantor Anggapan? (tidak dihipotesiskan).

Problematika 2:

Seberapa tinggi etos kerja karyawn kantor A? (tidak dihipotesiskan)

Problematika 3:

Apakah ada dan seberapa tinggi hubungan antara motivasi berprestasi dengan etos kerja karyawankantor A?

Hipotesis:

Ada hubungan yang tinggi antara motivasi berprestasi dengn etos kerja karawan kantor A.

TEKNIK PENGAMBILAN SAMPEL

Sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti. Dinamakan penelitian sampel apabila kita bermaksud untuk menggeneralisasikan hasil penelitian sampel. Yang dimaksud menggenerelisasikan adalah mengangkat kesimpulan penelitian sebagai suatu yang berlaku bagi populasi.

Populasi                                            kesimpulan                     disimpulkan

berlaku untuk

populasi

Sebagian                                          sanpel                            data dianalisis

dari populasi                                     diteliti

Penelitian sampel boleh dilaksanakan apabila keadaan subyek di dalam populasi benar – benar homogen. Apabila subyek populasi tidak homogen, maka kesimpulan tidak boleh diberlakukan bagi seluruh populasi.

Beberapa keuntungan jika kita mengunakan sampel:

1.   Karena subyek pada sampellebih sedikit dibandingkan denganpopulasi, maka kerepotannya tentu kurang.

2.   Apabila populasi terlalu besar, maka dikhawatirkan ada yang terlewati.

3.   Dengan penelitian sampel, maka akan lebih efisien (dalam arti ruang, waktu, dan tenaga).

4.   Adakalanya dengan penelitian populasi berarti deskruktif (merusak).

Bayangkan kalau kita harus meneliti keampuhan senjata yang dihasilkan oleh pabrik, misalnya granat. Maka sambil meneliti, kita juga menghabiskannya.

5.   Ada bahaya bias dari orang yang mengumpulkan data. Karena subyeknya banyak, petugaspengumpul data menjadi lelah, sehingga pencatatannya bisa menjadi tidak teliti.

6.   Adakalanya memang tidak dimungkinkan melakukan penelitian populasi.

Bagaimana cara mengambil sampel? Pengambilan sampel harus dilakukan sedemikia rupa sehingga diperoleh sampel (contoh) yang benar – benar dapat berfungsi sebagai contoh, atau dapat mengambarkankeadaan populsi yang sebenarnya. Dengan kata lain sampel harus representatif. Adapun cara – cara pengambilan sampel penelitian ini dapat dilakukan sebagai berikut:

1.   Sampel Random atau Sampel Acak, Sampel Campur

Dalam teknik ini peneliti mencampur subyek –subyek di dalam populasi sehingga semua subyek dianggap sama. Dengan demikian peneliti memberi hak yang sama kepada setiap subyekuntuk memperoleh kesempatan (chance) dipilih menjadi sampel.

Di dalam pengambilan sampel biasanya peneliti sudah menentukan terlebih dahulu besarnya jumlah sampel yang paling baik. Apabila subyeknya kurang dari 100, lebih baik diambil semua sehingga penelitiannya merupakan penelitian populasi. Tetapi jika jumlah subjeknya besar, dapat diambil antara 10 – 15 % atau 20 – 25 % atau lebih, tergantung setidak-tidaknya dari :

a.   Kemampuan peneliti dilihat dari waktu, tenaga dan dana

b.   Sempit luasnya wilayah pengamatan dan subjek, karena hal ini menyangkut banyak sedikitnya data.

c.   Besar kecilnya resiko yang ditanggung oleh peneliti. Untuk penelitian yang resikonya besar, tentu saja jika sampel besar, hasilnya akan lebih baik

Agar diperoleh hasil penelitian yang baik, diperlukan sampel yang baik pula yakni betul-betul mencermikan populasi. Supaya perolehan sampel lebih akurat, diperlukan rumus-rumus penentuan besarnya sampel antara lain disebutkan di bawah ini :

1.   Dengan rumus Jacob Cohen :

dengan ketentuan:

N = ukuran sampel

f 2 = effect size

u = banayknya ubahan yang terkait dalam penelitian

L = fungsi power dari u, diperoleh dari tabel, t.s. 1%

Power ( p ) = 0,95 dan effect size  (f2 ) = 0,1

Harga L tabel dengan t.s. 1% power 0,95 dan u = 5 adalah 19,76.

Maka dengan rumus tersebut didapat :

dibulatkan 204

2. dengan rumus berdasarkan proporsi, ada dua rumus.

a. Dikemukakan oleh Issac & Michael:

Dimana : S      =  ukuran sampel

N      =  ukuran populasi

P       =  proporsi dalam populasi

d       =  ketelitian ( error )

x 2 =  harga tabel chi-kuadrat untuk α tertentu

b. dikemukakan oleh paul leedy :

Dimana : N      =  ukuran sampel

Z       =  standard score untuk α yang dipilih

E       =  sampling error

P       =  proporsi harus dalam populasi

Untuk mempermudah dalam mengikuti uraian, maka akan diambil misala kita mempunyai populasi sebanyak 1000 orang dan sampelnya kita tentukan 200 orang. Setelah seluruh subjek diberi nomor, yaitu nomor 1 sampai dengan 1000, maka sampel ramdom kira lakukan dengan salah satu cara di bawah ini.

a. Undian ( untung-untungan )

Pada kertas kecil-kecil kita tuliskan nomor subjek, satu nomor untuk setiap kertas kemudian kertas ini kita gulung. Dengan tanpa prasangka kita mengambil 200 gulungan kertas, sehingga nomor-nomor yang tertera pada gulungan kertas yang terambil itulah yang merupakan nomor subjek penelitian kita.

b. Ordinal ( tingkat sama )

Setelah 1000 orang subjek kita beri nomor, kita membuat 5 gulungan kertas dengan nomor 1,2,3,4,5. kita ambil satu misalnya setelah dibuka tertera angka 3. oleh karena sampel kita 200 padahal populasinya 1000 maka besarnya sampel seperlima dari populasi. Demikianlah maka kita ambil nomor dengan melompat setiap 5 subjek mulai dari nomor 3, lalu 8,13,18,23 dan seterusnya, dan kalau kita sampai nomor terbawah padahal elum diperoleh 200 subjek, kita kembali ke atas lagi. Nomor-nomor yang terambil itulah nomor subjek sampel penelitian kita.

c.Menggunakan tabel bilangan ramdom

Dalam buku statistik bagian belakang, halaman yang memuat angka-angka yang disusun secara acak. Agar pengambilan sampel terlepas dari perasaan subjektif, sebaiknya peneliti menuliskan langkah-langkah yang akan diambil, misalnya :

1.   Menjatuhkan ujung pensil, menemukan nomor baru

2. Menjatuhkan ujung pensil kedua, menemukan nomor kolom. Pertemuan antara baris dan kolom inilah nomor subjek ke-1 dan seterusnya sampai diperoleh jumalh subjek yang dikehendaki

Jika jumlah subjeknya banyak, kita dapat mengulanglangkah yang sudah kia lalui. Pengambilan sampel dengan cara ramdom ini dapat dilakukan apabila keadaan populasi memang homogen. Bagi populasi yang tidak homogen perlu mempertimbangkan ciri-ciri yang ada.

2.   Sampel Berstrata atau Stratified Sampel

Penentuan strata penelitian harus dilakukan secara hati-hati karena dapat berakibat menyinggung perasaan.

Contoh : strata kekayaan

Kelompok 1 sangat kaya, kelompok II sedang, kelompok III miskin. Dalam hal ini kekayaan tidak perlu ditinjau dari tingkatannya, tetapi keadaan pemilikan harta benda; sehingga di dalam sampling kita kategorikan sebagai cluster sampling, yaitu sampel yang diambil berdasarkan kelompok.

3.   Sampel Wilayah atau Area Probability Sample

Sampel wilayah adalah teknik sampling yang dikaukan dengan mengambil wakil dari setiap wilayah yang terdapat dalam populasi.

Misal kita akan meneliti keberhasilan Kb diseluruh wilayah indonesia oleh karena terdapat 27 provinsi, dan masing-masing berbeda keadaan, maka kita mengambil sampel dari 27 provinsi, sehingga hasilnya mencerminkan keberhasilan kb di seluruh indonesia.

4.   Sampel Proporsi atau Proporsional Sampel, atau Sampel Imbangan

Teknik pengambilan sampel ini dilakukan untuk menyempurnakan penggunaan teknik sampel berstrata atau sampel wilyah. untuk memperoleh samel yang repesentatif, pengambilan subyek dari setiap strata atau setiap wilayahsebanding dengan banyaknya subjekdalam masing – masing strata atau wilayah.

Contoh:

Mahasiswa tingkat I: 500 oarang, tingkat II: 200 orang, tingkat III: 200 orang, tingkat IV: 150 orang, tingkat V: 100 orang, maka pengambilan sampelnya untuk tingkat I sebanyak 21/2 kali tingkatII dan 5kali tingkat V.

Pada umumnya teknikdalam pengambilan sampel penelitian memang tidak tunggal, tetapi gabungan dari 2 atau 3 teknik. Misalnya pengambilan samel dari mahasiswa tingkat I sebanyak 50 dari 500 orangdilakukan dengan acak, demikian jugadari tingkatan –tingkatan lain, maka sudah 3 teknik yang digunakan, yakni berstrata, proporsi, dan acak. Teknik pengambilan sampel seperti inidisebut stratifiled proportional random sampling.

5.   Sampel Bertujuan atau Purposive Sampling

Sampel dilakukan dengan cara mengambil subyekdengan tujuan tertentu. Teknik ini dilakukan karena didasari beberapa pertimbangan, misanya alasan keterbatasan waktu, tenaga, dan dana sehingga tidak dapat mengambil sampel yang besar dan jauh. Adapun syarat – syarat pengambilan sampel diantaranya:

a.   Pengambilan sampel harus dilakukan atas ciri – ciri, sifat –sifat atau karakteristik tertentu, yang merupakan ciri –ciri pokok populasi.

b.   Subyek yang diambil  sebagai sampel benar –benar merupakan subjek yang peling banyak mengandung ciri –ciri yang terdapat pada populasi (key subjectis).

c.   Penentuan karakteristik populasi dilakukan dengan cermat di dalam studi pendahuluan.

Pengambilan sampel dengan teknik bertujuan cukup baik, karena sesuai dengan pertimbangan peneliti sendiri sehimgga dapat mewakili populasi. Kelemahannya adalah bahwa peneliti tidak dapat menggunakan statistik parametiksebagai teknik analisis data, karena tidak memenuhi persyaratan random. Keuntungannya  terletak pada ketepatan peneliti memilih sumber data sesuai dengan variabel yang diteliti.

Menurut pendapat maher dan kawan – kawan (1997; 21-23), seorang manajer profesional harus memiliki kemampuan manajemen akuntansi sekurang –kurangnya  tiga hal:

1.   Menjaga dan mempertahankan kemampuan profesionalnya dengan cara selalu meningkatkan pengetahuan dan keterampilannya.

2. Menunjukkan kemampuannya dalam mengikuti segala peratyran, ketentuan, serta standar teknikalyang berlaku dan relevan engan bidangnya.

3.   Menyiapkan dan membuat laporan serta rekomendasi setelah melalui tahap analisis yang cermat.

6.   Sampel Kuota atau Quota Sample

Teknik ini dilakukan berdasarkan jumlah yang sudah ditentukan. Dalam mengumpulkan data, peneliti menghubungkan subyek yang memenuhi persyaratan ciri – ciri populasi, tanpa menghiraukan dari mana asal subyek tersebut. Dalam hal ini yang dihubungkan adalah subyek yang mudah ditemui, sehingga pengumpulan datanya mudah. Yang perlu di perhatikan adalah  terpenuhinya jumlah yang telah ditetapkan.

7.   Sampel Kelompok atau Cluster Sample

Dalam menentukan jenis cluster atau kelompok harus mempertimbangkan ciri – ciri yang ada. Seperti halnya di dalam masyarakat kita jumpai kelompok – kelompok yang bukan merupakan kelas atau sastra. Seperti di dalam membicarakan masalah persekolahan kita jumpai adanya kelompok sekolah SD, SLTP, SLTA,. Kelompok – kelompok tersebut dapat dipandang sebagai tingkatan atau sastra. Demikiaan juga adanya kelas atau tingkat di masing –masing tingkatan sekolah.

8.   Sampel Kembar atau Double Sample

Sampel kembar merupakan dua buah sampel yang sekaligus diambil oleh peneliti dengan tujuan untuk melengkapi jumlah apabila ada data yang tidak masuk dari sampel pertama, atau untuk mengadakan pengecekan terhadap kebenaran dari data sampel pertama. Biasanya sampel pertama  jumlahnya sangat besar sedangkan sampel kedua digunakan untuk mengecek, dan jumlahnya tidak begitu besar.

About these ads