Latest Entries »

  1. Perlunya  Manajemen  kelas

 

Dalam suatu  kegiatan  belajar  mengajar (KBM) di  sekolah, selalu  terjadi proses  pembelajaran  di dalamnya. Proses  pembelajaran  sendiri dapat  diartikan  sebagai  proses membantu  siswa  belajar,  yang  ditandai  dengan perubahan  perilaku  pada  diri siswa  baik dalam  aspek  kognitif, afektif, maupun psikomotorik. Ada hubungan fungsional antara perbuatan guru mengajar dengan perubahan perilaku peserta didik. Artinya, proses pembelajaran itu memberikan dampak kepada perkembangan peserta didik.

Dampak pembelajaran dapat dibedakan kedalam dampak langsung atau dampak intruksional dan dampak tak langsung atau dampak pengiring. Dampak langsung adalah dampak yang ditimbulkan oleh kegiatan pembelajaran yang telah diprogramkan semula, sedangkan dampak pengiring muncul dari pengaruh dari atau terjadi pengalaman dari lingkungan belajar. Dampak pengiring adalah sesuatu yang bisa terjadi kearah positif maupun negative.

Dampak pengiring pada suatu proses pembelajaran bisa menjadi dampak intruksional dari proses pembelajaran yang lain. Sehingga dampak intruksional dan dampak pengiring akan menjadi satu keterpaduan , kondisi ini merupakan gambaran perilaku efektif dari proses perkembangan peserta didik.

Tampak jelas bahwa pembelajaran yang efektif adalah pembelajaran yang tidak semata-mata memberikan dampak intruksional tapi juga memberikan dampak pengiring positif. Untuk proses pembelajaran yang efektif diperlukannya menejemen tersendiri yaitu menejemen kelas.

Menejemen kelas merupakan perangkat perilaku yang kompleks dimana guru menggunakannya untuk mengembangkan  dan memelihara kondisi kelas yang memungkinkan peserta didik mencapai tujuan pembelajaran secara evisien. Dengan kata lain, menejemen kelas yang efektif menjadi prasyarat utama bagi pembelajaran yang efektif, menejemen kelas dapat dipandang sebagai tugas guru yang amat fundamental.

  1. SEMBILAN  PENDEKATAN manajemen kelas

 

Tidak  ada  satu  pendekatan  pun  yang dianggap  sebagai  pendekatan  terbaik dalam management  kelas. Oleh karena itu, seorang  guru  perlu  memahami  berbagai pendekatan , yang secara  ringkas akan diuraikan sebagai berikut :

  1. Pendekatan otoriter

Pendekatan ini memendang bahwa menejemen kelas adalah proses mengendalikan erilaku peserta didik dalam posisi ini, peranan guru adalah mengembangkan dan memelihara aturan atau disiplin didalam kelas.didalam pendekatan ini, disiplin sama dengan menejemen kelas.

  1. Pendekatan intimidasi

Pendekatan ini juga memandang menejemen kelas sebagai proses mengendalikan perilaku peserta didik hanya saja pada pendekatan ini tampak lebih dilandasi oleh asumsi bahwa perilaku peserta didik paling baik dikendalikan oleh perilaku buruk. Peran guru disini adalah menggiring peserta didik berperilaku sesuai dengan keinginan guru sehingga meteka merasa takut untuk melanggaranya.

  1. Pendekatan permisif

Pendekatan ini bertentangan langsung dengan pendekatan intimidatif. Esensi pendekatan terletak pada peran guru memaksimalkan kebebasan peserta didik, membantu peserta didik merasa bebas melakukan apa yang mereka mau. Jika hal itu tidak dilakukan maka yang terjadi adalah proses menghambat perkembangan peserta didik.

  1. Pendekatan buku masak

Pendekatan ini tidak didasarkan atas konsep teoritis atau landasan psikologis tertentu. Pendekatan ini merupakan kombinasi dari berbagai pandangan dan merupakan himpunan resep bagi guru. Pedekatan ini disebut pendekatan buku masak karena berisikan rakitan daftar tahap apa yang harus dilakukan guru dan tidakdilakukan guru didalam bereaksi atas berbagai situasi  bermasalah, dan peran guru adalah mengikuti peran itu.

  1. Pendekatan instruksional

Pendekatan ini didasarkan pada suatu keyakinan bahwa perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran yang cermat ( carefull ) akan mencegah muncul prilaku bermasalah. Pendekatan ini menekankan bahwa perilaku guru dalam pembelajaran ialah mencegah atau menghentikan perilaku peserta didik yang tidak tepat.

  1. Pendekatan modifikasi perilaku

Pendekatan ini memendan manajemen kelas sebagai proses modifikasi perilaku peserta didik. Peran guru adalah mempercapat tercapainya perilaku yang dikehendaki dan mengurangi atau menkankan perilaku yang baik dikehendaki. Dengan kata lain, guru membantu peserta didik mempelajari perilaku yang tepat dengan menggunakan  prinsip – prinsip pengkondisian dan penguatan.

  1. Pendekatan sosio emosional

Pendekatan ini memangdang manajemen kelas sebagai proses menciptakan iklim sosio – emosional yang positif didalam kelas, peran guru disini adalah mengembangkan iklim sosio emosional kelas yang positif melalui pengembangan hubunga antar pribadi yang sehat. Dalam pendekatan ini juga terkandung peran guru sebagai fasilitator dan motifator bagi peserta didik untuk lebih berkembang dengan optimal.

  1. Pendekatan kelompok

Dalam pendekatan ini menempatkan kelas sebagai suatu sistem social dimana proses kelompok dalam sistem tersebut menjadi hal penting yang paling utama, asumsi dasarnya ialah bahwa pembelajaran itu terjadi didalam kelompok olehkarena itu, hakekat dan perilaku kelompok kelas dipandang sebagai faktor yang memiliki pengaruh berarti  (signifikan) terhadap belajar, bahkan dalam proses belajar indifidual sekalipun. Peran guru ialah mempercepat perkembangan dan terwujudnya kelompok kelas yang efektif.

  1. Pendekatan pluralistic ( james M. cooper ed, 1990 )

Pendekatan jamak / pluralistic ini tidak mengikat guru kepada strategi managerial tunggal melainkan member peluang kepada guru untuk mempertimbangkan seluruh strategi yang dapat dan tepat dilakukan, defenisi managemen kelas yang merefeksikan kejamakan pendekatan itu, kiranya dapat dirumuskan sebagai perangkat kegiatan dimana guru mengembangkan dan memelihara kondisi kelas yang dapat mendorong terjadinya pembelajaran yang efektif dan efisien. Brophy putnan ( good dan brophy 1990 ) menyebutnya sebagai pendekatan optimal yaitu sebagi proses pengembangan lingkungan belajar yang dikehendaki dan menekankan sekecil mungkin pembatasan – pembatasan.

            Dari kesembilan pendekatan diatas dapat disimpulkan bahwa fungsi – fungsi pokok manajemen kelas sebagai berikut :

  1. Fungsi preventif, mencegah munculnya perilaku bermasalah;
  2. Fungsi kuratif, menyembuhkan perilaku bermasalah;
  3. Fungsi pemeliharaan, memelihara kondisi yang positif;
  4. Fungsi pengembangan, mengembangkan kondisi yang kondusif;
  5. Fungsi fasilitator, memfasilitasi kebutuhan – kebutuhan untuk berkembang;
  6. Fungsi motivator, memberikan dorongan untuk berprestasi dan berkembang.

 

C. Pembelajaran dan Manajemen

Dalam pembelajaran mempunyai perangkat kegiatan yaitu mengajar dan manejemn. Kegiatan mengajar dimaksudkan untuk membantu peserta didik mencapai tujuan-tujuan pendidikan melalui interaksi belajar mengajar.

Kegiatan mengajar antara lain:

  1. Mendiagnosis kebutuhan peserta didik
  2. Perencanaan pengajaran
  3. Penyajian informasi
  4. Mengajukan pertanyaan
  5. Menilai kemampuan peserta didik

Kegiatan manajerial untuk menciptakan dan memelihara kondisi yang memungkinkan pembelajaran berlangsung dengan efektif dan efisien misalnya, pemberian hukuman dan pengajaran, pengembangan rapport (hubungan akrab) antara guru dan peserta didik.

Manajemen kelas adalah prasyarat dan sekaligus menjadi aspek penting bagi terjadinya proses pembelajaran yang efektif. Berbagai hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan positif antara perilaku manajemen kelas yang dilakukan guru dengan perilaku yang diharapkan dari peserta didik (James M. Cooper, ed. 1990). Beberapa contoh strategi manajemen kelas yang efektif untuk mengembangkan perilaku peserta didik ialah :

  1. Strategi ororiter efektif untuk mengikuti perilaku yang keliru.
  2. Strategi modifikasi perilaku efektif untuk meningkatkan perilaku yang tepat.
  3. Strategi iklim sosio-emosional efektif untuk mempercepat hubungan antarpribadi yang positif.
  4. Strategi proses kelompok efektif untuk menumbuhkan norma kelompok kelas.

 

  1. 1.      Faktor keragaman dan perkembangan di dalam manajemen kelas

Keragaman individu dan kelompok di antara peserta didik membawa implikasi terhadap manajemen kelas. Keragaman usia, gender (identitas jenis), etnik kecakapan, dan kesiapan belajar adalah faktor-faktor yang harus dipertimbangkan di dalam manajemen kelas.

Menurut Brophy dan Evertson bagaimana guru berperan dalam setiap golongan kelas yang dimaksud, antara lain:

  1. Pada tingkat taman kanak-kanak dan kelas awal
  2. Pada tingkat kelas tengah
  3. Pada tingkat kelas tinggi
  4. Pada tingkat kelas lanjutan

 

  1. 2.      Tahap-tahap proses manajemen kelas

Dalam pendekatan ini ada 4 langkah yang harus ditempuh guru untuk melaksanakan manajemen kelas. (James and Cooper, ed. 1990) :

  1. Merumuskan kondisi kelas yang dikehendaki
  2. Menganalisis kondisi kelas yang ada pada saat ini
  3. Memilih dan menggunakan strategi manajerial
  4. Menilai efektivitas manajerial

 

  1. 3.      Merumuskan spesifikasi kondisi kelas yang dikehendaki

Manajemen kelas adalah proses yang bertujuan, yaitu guru menggunakan berbagai strategi manajerial untuk mencapai tujuan yang telah dirumuskan dan diidentifikasikan dengan baik.

Secara konkret kondisi kelas yang diharapkan terjadi pada saat proses pembelajaran, sebagai berikut :

  1. Siswa menampilkan perilaku berorientasi tugas
  2. Siswa memahami harapan guru dan perilaku sesuai dengan harapan kita.
  3. Siswa menampilkan perilaku belajar yang produktif
  4. Mengikuti aturan yang ditetapkan
  5. Berkomunikasi terbuka dan jujur dan sebagainya

 

  1. 4.      Menganalisis kondisi kelas aktual

Analisis kondisi kelas pada saat ini penting dilakukan untuk dibandingkan dengan kondisi ideal yang telah dirumuskan pada tahap satu. Analisis ini akan membentuk guru untuk mengidentifikasi hal-hal sebagai berikut:

  1. kesenjangan antara kondisi nyata dengan kondisi ideal, dan menetapkan hal-hal yang segera memerlukan perhatian.
  2. masalah-masalah potensial yang bisa muncul sekiranya guru tidak berhasil mencegahnya.
  3. kondisi nyata yang perlu dipelihara, ditingkatkan, dan diperhatikan karena merupakan kondisi yang dikehendaki.

 

Manilai efektivitasmanajerial

Beberapa lembar pengamatan strategi penilaian efektivitas manajerial:

Lembar pengamatan guru

  1. guru mendorong peserta didik berkomunikasi secara terbuka
  2. guru berbicara tentang situasi, pada saat menangani suatu masalah
  3. guru mengekspresikan peranan dan sikap yang sebenarnya pada peserta didik
  4. guru menyatakan harapan secara jelas dan eksplsit kepada peserta didik

 

lembar pengamatan perilaku peserta didik

  1. peserta didik mempelajari mata pelajaran
  2. peserta didik bekerja sama dengan baikdalam kelompok
  3. peserta didik bebas mengekspresikan pikiran dan perasaannya.
  4. peserta didik memandang gurunya secara obyektif

 

  1. 5.        penataan lingkungan fisik kelas
  1. manajemen kelas yang baik terarah pada upaya pencegahan munculnya perilaku masalah.
  2. unsur penting dalam manajemen kelas yaitu berupa penataan lingkungan fisik
  3. dalam penataan kelas ada keterlibatan dan partisipasi peserta didik
  4. wahana lingkunga fisik berpengaruh pada perilaku peserta didik

 

dilihat dari sisi ukuran kelas:

1. kelas kecil

   kelas kecil lebih mudah dikelola daripada kelas besar. Keuntungan bekerja dengan kelas kecil (20 – 25 orang):

-          peserta didik lebih banyak dilibatkan di dalam proses kerja

-          peserta didik dapat dengan cepat mendapat bantuan dari guru jika menghadapi perasalahan

-          peserta didik tidakbanyak mengalami kevakuman karena tidak adanya tugas atau latihan

2. ukuran kelas besar (3 – 40 orang)

    pada umumnya pada ukuran kelas yang seperti ini seorang guru tentunya tidak dapat mendistribusikan perhatiannya secara menyeluruh, oleh karenanya di bagi menjadi kelompok- kelompok kecil. Pengelompokan peserta didik ke dalam kelompok haru dilakukan dengan hati- hati, sesuai dengantujuan pembelajaran:

-          kelompok homogen: kelompok yang terdiri dari peserta didi dengankemampuan dan kebutuhan yang relatif sama.

-          Kelompok heterogen: kelompok yang terdiri dari peserta didik dengan kemampuan dan kebutuhan yang beragam.

Beberapa keuntungan baik dari peserta didik maupun guru dengan bekerja dalam kelompok kecil:

  1. pembelajaran dapat di sesuaikan dengan kebutuhan khusus peserta didik dalam kelompok
  2. guru dapat memantau pekerjaan peserta didik secara langsung
  3. peserta didik yang lamban dan pemalu akan lebih berani bertanya dalam kelompok kecil
  4. peserta didik lebih mampu bertahan menghadapi tugas, karena selalu tersentuh kendali guru
  5. peserta didik merasa lebih bertanggung jawab untuk menyelesaikan tugasnya di dalam kelomppok kecil

TEOREMA MOMENTUM SUDUT
Dalam gerak di 2-D dikenal besaran yang disebut dengan Momentum Sudut terhadap suatu titik tertentu, yaitu “Perkalian antara jarak partikel terhadap titik acuan dengan komponen momentum Linier yang tegak lurus terhadap vector posisi di atas”
L=mrv_θ

L=mrv sin⁡θ

v=rω→θ ̇

Atau dengan menggunakan notasi kinematika dalam koordinat polar :
v_θ= rθ ̇ → θ ̇ = ω
Momentum Sudut dapat pula ditulis
L=mr^2 θ ̇
Dalam 2 D dikenal juga besaran Torka yaitu perkalian antara jarak partikel ke titik acuan dengan komponen gaya yang tegak lurus vector posisi di atas:

τ=rF_θ
=rF sin⁡θ

Laju perubahan momentum sudut terhadap waktu
dL/dt=d/dt (mr^2 θ ̇ )
=m d/dt (r^2 θ ̇ )
=m(dr/dt rθ ̇+r dr/dt θ ̇+r^2 (dθ ̇)/dt)
=m(r ̇rθ ̇+rr ̇θ ̇+r^2 θ ̈ )
=m(2rr ̇θ ̇+r^2 θ ̈ )
dL/dt=2mr r ̇θ ̇+mr^2 θ ̈
Tapi mengingat kinematika dalam koord.polar
a_θ=2r ̇θ ̇+rθ ̈
Jadi bila ma_θ=F_θ → Hukum Newton II
Maka
( dL)/dt=rm a_θ=r Fθ
Atau dL/dt=τ  ini yang disebut dengan Teorema Momentum Sudut.
Perhatikan bahwa di atas (2-D) Momentum Sudut dan Torka bersifat scalar. Tapi sebenarnya momentum sudut dan Torka adalah analogi dari momentum linier dan gaya. Jadi harus bersifat/merupakan besaran vector.
Hal ini disebabkan karena untuk 2-dimensi, arah L dan τ adalah tegak lurus terhadap bidang gerak
Untuk 3-D, perluasannya adalah sebagai berikut:
L ⃑=r ⃑mv sin⁡θ
Karena p ⃑=mv ⃑; v=|v ⃑ |
Maka L ⃑=r ⃑xp ⃑
Dan Torka dapat ditulis
τ = r F sin α
Jadi τ = r ⃑ x F ⃑
Untuk gerak 3D ini berlaku pula Teorema Momentum Sudut sebagai berikut:
dL/dt = (dr ⃑)/dt x p ⃑+ r ⃑ x (dp ⃑)/dt
= v ⃑ x mv ⃑+ r ⃑ x F ⃑
= 0 + r ⃑ x F ⃑
= τ
Kebalikannya
L ⃑_2- L ⃑_1=∫_0^2▒τ ⃑ dt
Bila gaya yang bekerja pada system tidak semuanya berasal dari potensial, ini disebut secara non-konservatif.
F= (-dv)/dx+ F^’
Hukum Gerak Newton untuk system ini dapat ditulis
(md^2 x)/(dt^2 )= -dv/dx+ F^’
atau
(md^2 x)/(dt^2 )+ dv/dx+ F^’
Atau
(md^2 x)/(dt^2 ) dx/dt+ dv/dx dx/dt=F^’ v ; v= dx/dt
atau
d/dt [1/2 m (dx/dt)^2 ]+ dv/dt=F’v
Atau
d/dt [τ+V]=F^’ v←daya

Dengan kata lain, Laju perubahan R, Mekanik system [τ+V] adalah sama dengan Daya dari gaya non-konservatif F’

Gerak Dalam Pengaruh Gaya Konstant

F ⃑=konstan
Untuk F ⃑= (dp ⃑)/dt ; p ⃑=mv ⃑
Dengan massa konstan, maka:
F ⃑=m . (dv ⃑)/dt
Integrasi terhadap waktu memberikan:
∫_(t_o)^t▒F ⃑ dt= ∫_(t_o)^t▒m (dv ⃑)/dt .dt
Atau
v ⃑-(v_o ) ⃑= F ⃑/m t,F ⃑/m= α ⃑

Karena v=(dr ⃗)/dt
Dengan integrasi sekali lagi dapat diperoleh:
v ⃑-(v_o ) ⃑= F ⃑/m t

v ⃑=(v_o ) ⃑+ F ⃑/m t

∫_(r ⃗_0)^r ⃗▒〖dr ⃗ 〗=∫_0^t▒((v_o ) ⃑+ F ⃑/m t) dt

├ r ⃗ ┤|_(r ⃗_0)^r ⃗ =├ ((V_o ) ⃑t+ 1/2 (F ⃑/m) t^2 ) ┤|_0^t

r ⃑-(r_o ) ⃑= (V_o ) ⃑t+ 1/2 (F ⃑/m) t^2→GLBB

Gerak Dalam Gaya Bergantug Waktu : F ⃑= F ⃑(t)

Hukum Gerak memberikan:
∫▒F ⃑ (t)dt= ∫▒m (dv ⃑)/dt dt

=mv ⃑- mv ⃗_0

Karena:
P ⃑=mv ⃑

Maka hubungan di atas yang dikenal dengan Teorema momentum yang dapat ditulis sbb:
∆p ⃑=∫▒F ⃑ dt ← Impuls

Contoh:
Suatu electron bergerak sepanjang sb.x dipengaruhi oleh medan listrik E ⃑ dalam arah sb.x dengan besar
E= E_0 cos⁡〖(wt+〗 φ_0)

Tentukan vektor kecepatan dan percepatan ?

jawab∶

Gaya yang dialami electron adalah:
F=-qE=-qE_0 cos⁡〖(wt+〗 φ_0)i ̂
“Dalam contoh ini, gerak hanya satu dimensi, jadi tidak perlu pakai notasi vektor”
Solusi:
Persamaan Gerak dari system elektron ini adalah:
∆p=mv ⃗-mv ⃗_0=∫▒F dt
atau
v ⃗-v ⃗_0=□((-qE_0)/m) ∫_0^t▒cos⁡(ωt+φ_0 ) dt=├ (-qE_0)/mω sin⁡(ωt+φ_0 ) ┤|_0^t

v ⃗-v ⃗_0=(-qE_0)/mω sin⁡(ωt+φ_0 )+(qE_0)/mω sin⁡(φ_0 )

v ⃗=v ⃗_0+(qE_0)/mω sin⁡(φ_0 )-(qE_0)/mω sin⁡(ωt+φ_0 )

Posisi elektron diberikan oleh:
x-x_0=∫_0^t▒(v ⃗_0+(qE_0)/mω sin⁡(φ_0 )-(qE_0)/mω sin⁡(ωt+φ_0 ) )dt

x-x_0= ├ v ⃗_0+(qE_0)/mω sin⁡(φ_0 )-(qE_0)/(mω^2 ) cos⁡(ωt+φ_0 ) ┤|_0^t
x-x_0= (v ⃗_0+(qE_0)/mω sin⁡(φ_0 ) )t-(qE_0)/(mω^2 ) (cos⁡(ωt+φ_0 )-cos⁡〖φ_0 〗 )

x=x_0+(v ⃗_0+(qE_0)/mω sin⁡(φ_0 ) )t-(qE_0)/(mω^2 ) (cos⁡(ωt+φ_0 )-cos⁡〖φ_0 〗 )
Dari rumus ini didapat t=t(v)
Untuk mencari v tinggal inverse saja v=v(t)
Setelah kita dapatkan rumus kecepatan v=v(t), maka selanjutnya kita dapat mencari rumus posisi
t-t_o=m∫▒dv/F(v)

F(v)=m dv/dt=m dv/dx dx/dt=mv dv/dx

dv/dx=(F(v))/mv⇒dx/dv=mv/(F(v))⇒∫▒〖dx=〗 ∫_(v_o)^v▒(mv dv)/(F(v))
Sehingga
x-x_o=∫_(v_o)^v▒(mv dv)/F(v)
Dari hasil ini akan didapat hubungan x sebagai fungsi v, yaitu:
x=x(v)—– x(t)
x = v(t)

Gaya Bergantung Pada Kecepatan

〖 F〗_x=F_x (v ⃑ )= F_x (v_x 〖,v〗_y 〖,v〗_z )
F ⃑= F ⃑(v ⃑ ) F_y=F_y (v ⃑ )= F_y (v_x 〖,v〗_y 〖,v〗_z )
〖 F〗_z=F_z (v ⃑ )= F_z (v_x 〖,v〗_y 〖,v〗_z )

Gaya yang bergantung pada kecepatan ini misalnya adalah gaya gerak
F=±bv^n
“Tanda negatip dipergunakan untuk n yang ganjil, sedangkan untuk n genap tanda dipilih sedemikian rupa sehingga arah gaya gesek berlawanan dengan arah gerak.”
Sebagai contoh, tinjau gaya gesek yang bekerja pada suatu

benda yang bergerak di atas air (gerak 1D)
F= – bv
Arah gaya berlawanan dengan arah gerak
B= konstanta positip
τ= -bv
Maka:
F=-bv
m dv/dt=-bv
dv/v=-b/m dt
∫_(v_o)^v▒dv/v=-b/m ∫_(t_o)^t▒dt⇚ ∫_(v_o)^v▒dv/F(v) =1/m ∫_(t_o)^t▒dt

ln v/v_0 =-b/m(t-t_0)

v=v_0 e^(-b/m(t-t_0))

Persamaan ini menunjukkan bahwa kecepatan makin
lama makin berkurang.

Sketsa grafik kecepatan diatas :

Untuk mencari posisi:

∫_(x_o)^x▒dx= ∫_0^t▒〖v ⃗ dt〗

x-x_0=∫_(v_o)^v▒(mv dv)/F(v) =-m/b ∫_(v_o)^v▒(v dv)/v

x-x_0=-m/b ├ v┤|_(v_0)^v

x-x_0=-m/b (v-v_0 )

x=x_0-m/b v_0 [exp-b/m (t-t_0 )-1]

=x_0+m/b v_0 [1-exp-b/m (t-t_0 ) ]

x=x_0+m/b v_0 [1-e^(-b/m(t-t_0)) ]

Sketsa grafik posisi diatas :

Jadi: kecepatan benda berkurang sampai akhirnya diam. Posisi benda mula-mula di x_0=0 bergeser di titik 〖x=x〗_0+m/b v_0 dan diam di titik itu.

Pada waktu t→∞

v_∞=0

x-x_0→ (mv_0)/b

Pada konstanta b≪ , maka nilai b/m≪
Sehingga dapat dilakukan uraian deret Taylor untuk suku eksponen:
e^∝=1+∝+∝^2/2!+⋯ ∝≪ → α^3,α^4 dst dapat diabaikan

Jadi dengan b≪ , diperoleh:

v=v_0 (1-b/m t+⋯)

v≅v_0-(b/m v_0 )t
Dan

x-x_0=(mv_0)/b [1-(1-b/m t+1/2 (b/m)^2 t^2-…)]

x=(mv_0)/b [1-(1-b/m t+1/2 (b/m)^2 t^2-…)]

〖x≅v〗_0 (t-t_0 )-1/2 b/m v_0 (t-t_0 )^2

〖≅v〗_0 t-1/2((bv_0)/m)t^2 GLBB

Yang tidak lain adalah solusi persamaan gerak benda yang dipengaruhi gaya konstan sebesar:
F=-bv_0
Contoh berikutnya adalah :
gerak jatuh bebas
dengan memperhitungkan gesekan udara. Persamaan geraknya adalah:
F=-mg-bv_y=-(mg+bv_y)
-(mg+bv_y )=m (dv_y)/dt
Asumsi gerak benda :

Yang penyelesaiannya adalah:

∫_(v_0y)^(v_y)▒〖dv〗_y/〖mg+bv〗_y =-1/m ∫_0^t▒dt

├ ln⁡(〖mg+bv〗_y ) ┤| ■(v_y@v_0y )=-b/m(t-t_o)

ln(〖mg+bv〗_y/〖mg+bv〗_0y )=-b/m(t-t_o)

mg+bv_y=(mg+bv_0y ) e^(-b/m (t-t_0 ) )

v_y=-mg/b+(mg/b+v_0y ) exp⁡〖(-b/m (t-t_o ))〗

Dengan mengintegrasikan sekali lagi di dapatkan posisi:
y-y_0=∫_(t_o)^t▒v_y dt=∫_(t_o)^t▒[-mg/b+(mg/b+v_0 ) exp⁡〖(-b/m (t-t_o ))〗 ] dt

=- mg/b ├ t┤|_(t_0)^t+(mg/b+v_0 )(-m/b) ├ exp⁡〖(-b/m (t-t_o )〗 ┤|_(t_0)^t

=-mg/b (t-t_o )+(mg/b+v_0 )(-m/b)[exp⁡〖-b/m (t-t_o )-1〗 ]

=-mg/b (t-t_o )+m/b (mg/b+v_0 )[〖1-exp〗⁡〖-b/m (t-t_o )〗 ]

y=y_0-mg/b (t-t_o )+m/b (mg/b+v_0 )[〖1-exp〗⁡〖-b/m (t-t_o )〗 ]

Dengan demikian:
v=v_(0 ) pada t=t_0

v=-mg/b pada t→∞

v=〖-v〗_(τ ) (Kecepatan Akhir)

v_y=〖-v〗_(τ )+(v_(τ )+v_(0 ))[exp⁡〖-b/m (t-t_o )〗 ]

Pada t→∞→berbentuk geras lurus beraturan.

Bila kedua contoh di atas digabungkan, diperoleh persoalan gerak peluru dengan memperhitungkan gesekan udara.
Persamaan geraknya:

m dv/dt=-mgj ̂-bv ⃗

dimana
v ⃗=dx/dt i ̂+dy/dt j ̂

Solusi dari persamaan gerak ini telah dihitung yaitu:

v_x=v_(x_0 ) e^(- b/m t)

x-x_0=(mv_(x_0 ))/b [1〖- e〗^(- b/m t) ]

Pilih (x_0,y_0 )=(0,0) , maka dari posisi dalam sumbu x dapat ditulis:

t=-m/b ln((mv_(x_0 )-bx)/(mv_(x_0 ) ))

t=m/b ln((mv_(x_0 ))/(mv_(x_0 )-bx))

Subtitusi ke dalam persamaan posisi sumbu y memberikan:
y=(mg/(bv_(x_0 ) )+v_(y_0 )/v_(x_0 ) )x+(m^2 g)/b^2 ln⁡[1-bx/(mv_(x_0 ) )]
Bila b≪ atau bx/(mv_(x_0 ) )≪ dapat dilakukan aproximasi dengan mengingat:

ln⁡(1-α)≅-α-α^2/2-α^3/3-…

Untuk α≪ , di dapat:

y=(v_(y_0 )/v_(x_0 ) )x-1/2 (g/v_(x_0 ) ) x^2-1/3 bg/〖〖mv〗_(x_0 )〗^3 x^3……….

Bentuk lintasan yang di gambarkan oleh persamaan lintasan di atas dapat dicari dengan melihat nilai asymtoticnya.

v ⃗=v_x i ̂+v_y j ̂

r ⃗=xi ̂+xj ̂

Untuk b≫ diperoleh bahwa:

v ⃗_(t_≫ )≅-mg/b j ̂

t_(t_≫ )≅(mv_(x_0 ))/b

Titik tertinggi yang dapat dicapai oleh peluru dapat dihitung sebagai berikut:

v_y=0 → t_(y_max ) m/b ln⁡[1+〖bv〗_(y_0 )/mg]

Nilai 〖 t〗_(y_max ) disubtitusikan ke persamaan posisi y didapat

y_max=m/b [mg/b+v_(y_0 ) ][1-1/(1+〖bv〗_(y_0 )/mg)]-(m^2 g)/b^2 ln[1+〖bv〗_(y_0 )/mg]

Misalkan b≪ dan mengingat aproximasi

(1+α)^(-1)≅1-α+α^2-α^3+⋯

Didapat:
y_max=〖v^2〗_(y_0 )/2g-〖v^3〗_(y_0 )/〖3mg〗^2

Apllikasi Statistik Maxwell-Boltzmann

Distribusi Kecepatan Molekul
laju rata-rata sebuah molekul dalam suatu sistem gas ideal bersuhu T

Gas Ideal Statistik Maxwell- Boltzmann,
1. Molekul-molekul dapat dibedakan
2. Setiap keadaan energi dapat diisi lebih dari satu molekul

Nj = Jumlah rata-rata molekul yang energinya antara εj dan εj + Δ εj
∆gj = Jumlah keadaan yang energinya antara εj dan εj + Δ εj

Tinjau sistem partikel dalam kotak 3-D:
Φ(ε) = Jumlah keadaan yang energinya kurang dari dan sama dengan εj

Pernyataan energi εj :

Fungsi Partisi Z:

Aproksimasi (PR no 1)

Sekarang kita nyatakan indeks n pada persamaan-persamaan sebelumnya menjadi
indeks v (kecepatan):

Pernyataan energi :

Statistik Maxwell-Boltzmann menjadi:

Jumlah rata-rata molekul yang lajunya antara v dan v + ∆v

Fungsi Distribusi laju Maxwell-Boltzmann

Ketika v = 0, fungsi distribusi bernilai nol. Artinya Tidak ada molekul yang diam

Laju dengan peluang terbesar vm:
PR no 3

Fungsi distribusi MB dinyatakan dalam vm:

PR no 4

Laju rata-rata molekul :

Kelajuan root-mean-square (vrms):

Visualisasi ruang kecepatan:

ΔNV = Jumlah vektor kecepatan yang berujung pada kulit bola, yang kecepatannya antara v dan v + Δv
Volume kulit bola : 4πv2Δv

Jumlah titik representatif tiap satuan volume dalam kulit atau kerapatan ρv :

Tinjau elemen volum ΔvxΔvyΔvz dalam ruang kecepatan Jumlah titik representatif dalam elemen volume ΔvxΔvyΔvz adalah x_NVxVyVz
Sehingga :

= Jumlah molekul yang kecepatannya antara vx dan vx + Δvx , vy dan vy + Δvy ,
vz dan vz + Δvz
Tinjau salahsatu komponen saja, misalkan komponen x:
Jumlah molekul yang kecepatannya antara vx dan vx + Δvx = ΔNVx
Serupa untuk ΔNVy dan ΔNVz

PR no 7

Fungsi distribusi kecepatan Maxwell- Boltzmann untuk satu komponen kecepatanΔvx = ΔNVx

Fungsi distribusi kecepatan Maxwell-Boltzmann untuk satu komponen kecepatan

MEMILIH MASALAH

A.Dari Mana Masalah Diperoleh

Memilih masalah untuk diteliti merupakan tahap yang penting dalam melakukan penelitian, karena pada hakikatnya seluruh proses penelitian yang dijalankan adalah untuk menjawab pertanyaan yang sudah ditentukan sebelumnya. Memilih masalah juga merupakan hal yang tidak mudah karena tidak adanya panduan yang baku. Sekalipun demikian dengan latihan dan kepekaan ilmiah, pemilihan masalah yang tepat dapat dilakukan. masalah dapat diperoleh dari kehidupan sehari- hari karena menjumpai hal- hal yang aneh atau didorong keinginan meningkatkan hasil kerja, selain itu masalah dapat  diperoleh dari membaca buku atau dari orang lain.

B. Masalah Dan Judul Penelitian

Merumuskan masalah adalah suatu cara merumuskan judul selengkapnya. Sebelum seorang peneliti memulai kegiatannya meneliti, harus melalui memulai membuat rancangan terlebih dahulu.

*Perlunya dirumuskan masalah
Perumusan masalah dapat dilakukan dengan cara merumuskan judul selengkapnya namun, demikian walaupun tampaknya masalah sudah dituangkan dalam bentuk judul, pembaca dapat menafsirkan dengan arti yang berbeda dengan maksud peneliti.
Berbagai jenis penelitian dari sudut pandangan tujuan, pendekatan, subjek penelitian dan sifat problematik. Apabila peneliti lain menjelaskan semuanya dalam suatu rumusan judul penelitian , maka akan terjelma sebuah judul yang panjang, yang maksudnya akan memperjelas, boleh jadi bahkan mengaburkan arti.

* Bagaimana peneliti mencari masalah yang akan dikaji, beberapa panduan pokok di bawah ini akan mempermudah bagi kita menemukan masalah:

a.       Masalah sebaiknya merumuskan setidak-tidaknya hubungan antar dua variable atau lebih

b.      Masalah harus dinyatakan secara jelas dan tidak bermakna ganda dan pada umumnya diformulasikan dalam bentuk kalimat tanya.

c.       Masalah harus dapat diuji dengan menggunakan metode empiris, yaitu dimungkinkan adanya pengumpulan data yang akan digunakan sebagai bahan untuk menjawab masalah yang sedang dikaji.maksudnya perumusan masalah yang dibuat memungkinkan peneliti mencari data di lapangan sebagai sarana pembuktiannya. Tujuan utama pengumpulan data ialah untuk membuktikan bahwa masalah yang sedang dikaji dapat dijawab jika peneliti melakukan pencarian dan pengumpulan data. Dengan kata lain masalah memerlukan jawaban, jawaban didapatkan setelah peneliti mengumpulkan data di lapangan dan jawaban masalah merupakan hasil penelitian.

d.      Masalah tidak boleh merepresentasikan masalah posisi moral dan etika.

Sebaiknya peneliti menghindari masalah-masalah yang berkaitan dengan idealisme atau nilai-nilai, karena masalah tersebut lebih sulit diukur dibandingkan dengan masalah yang berhubungan dengan sikap atau kinerja.

Akan lebih baik kalau masalah tersebut dijadikan dalam bentuk seperti:

  1. Hubungan antara kesiapan ujian dan nilai yang diraih
  2. Pengaruh kerajinan mahasiswa terhadap kecepatan kelulusan

Strategi Menentukan Masalah

Salah satu cara untuk membuat perumusan masalah yang baik ialah dengan melakukan proses penyempitan masalah dari yang sangat umum menjadi lebih khusus dan pada akhirnya menjadi masalah yang spesifik dan siap untuk diteliti. Di bawah ini diberikan contoh cara menyempitkan masalah yang berkaitan dengan penelitian dalam dunia bisnis.

Bagaimana merumuskan masalah?
Agar judul penelitian tidak kelihatan panjang, maka yang disebutkan hanya cirri yang ditonjolkan oleh peneliti saja, selebihnya diterangkan di luar judul. Peneliti memulai kegiatannya meneliti, harus memulai membuat rancangan terlebih dahulu. Rancangan tersebut diberi nama desain penelitian. Ada yang menyebutnya dengan istilah proposal penelitian atau usul penelitian. .

C. Jenis Permasalahan

Permasalahan dalam penelitian sering pula disebut dengan istilah problem atau problematik.

Jenis permasalahan tersebut biasanya dijadikan dasar dalam merumuskan judul penelitian:

  1. Peneliti ingin mengetahui status sesuatu

Apabila peneliti bermaksud mengetahui keadaan sesuatu mengenai apa dan bagaimana,berapa banyak,sejauh mana dan sebagainya.maka penelitianya bersifat deskriptif yaitu menjelaskan atau menerangkan peristiwa.

  1. Peneliti ingin membandingkan status dua fenomena atau lebih

Dalam melakukan perbandingan peneliti selalu memandang dua fenomena atau lebih,ditinjau dari persamaan dan perbedaan yang ada.

  1. Peneliti ingin mengetahui hubungan antara dua fenomena atau lebih

Hubungan ini dibagi menjadi dua yaitu hubungan sejajar dan hubungan sebab akibat

Korelasi sejajar:menyangkut penelitian mengenai sikap siswa dengan penelitian orang tua,prestasi bahasa dengan prestasi matematika.

Korelasi sebab akibat:menyangkut penelitian mengenai kedisplinan dengan prestasi belajar,perhatian orang tua dengan tingkat kenakalan anak dan sebagainya.

D. Merumuskan Judul

  1. Penegasan Judul
    Sehubungan dengan kurang lengkapnya rumusan masalah judul penelitian, maka untuk melengkapinya dengan penegasan judul. Dengan demikian , menjadi jelas apa yang diteliti, dari mana data diperoleh , bagaimana mengumpulkan data dan bagaimana menganalisa data.
  2. Alasan pemilihan Judul
    Alasan-alasan yang dapat dikemukakan antara lain :

    1. Pentingnya masalah tersebut diteliti.
    2. Menarik minat peneliti.
    3. Sepanjang pengetahuan peneliti belum ada orang yang meneliti masalah tersebut
    4. Judul diharapkan mencakup
      1. Sifat dan jenis penelitian.
      2. Obyek yang diteliti.
      3. Subyek penelitian.
      4. Lokasi/ daerah penelitian.
      5. Tahun/ terjadinya peristiwa.

Studi Pendahuluan

  1. A. Manfaat studi pendahuluan

Prof. Dr. Winarno Surakhmad menyebutkan tentang studi pendahuluan ini dengan eksploratoris dengan dua langkah, dan perbedaan antara langkah pertama dengan langkah kedua adalah penemuan dan pengalaman. Memilih masalah adalah mendalami masalah itu,sehingga harus dilaksanakan secara sistematis dan intensif.

Dengan telah mengadakan studi pendahuluan, maka boleh jadi dapat dihemat banyak tenaga dan biaya, di samping bagi calon peneliti tersebut menjadi lebih terbuka matanya, menjadi lebih jelas permasalahannya.

Selanjutnya oleh Dr. Winarno dikatakan bahwa setelah studi eksploratoris ini peneliti menjadi jelas terhadap masalah yand dihadapi dari aspek historis, hubungannya dengan ilmu yang lebih luas, situasi dewasa ini, dan kemungkinan-kemungkinan yang akan datang dan lain-lainnya.

  1. Mengetahui dengan pasti apa yang diteliti.
  2. Tahu di mana/kepada siapa informasi dapat diperoleh
  3. Tahu bagaimana cara memperoleh data atau informasi
  4. Dapat menentukan cara  yang tepat untuk menganalisis data
  5. Tahu bagaimana harus mengambil kesimpulan serta memanfaatkan hasil

Sehubungan dengan ini ditambahkan ada manfaat lain dari studi pendahuluan yaitu peneliti menjadi yakin bahwa penelitiannya perlu dan dapat dilaksanakan.

Sebagai pedoman perlu tidaknya penelitian dilaksanakan, peneliti harus ingat

Empat hal yang sudah diutarakan :

  1. Apakah judul penelitian yang akan dilakukan benar-benar sesuai dengan minatnya?
  2. Apakah penelitian ini dapat dilaksanakan?
  3. Apakah untuk penelitian yang akan dilakukan tersedia faktor pendukung?
  4. Apakah hasil penelitian cukup bermanfaat?
  1. B. Cara Mengadakan Studi Pendahuluan

Seperti teori pengumpulan data pada umumnya, maka sumber pengumpulan informasi untuk mengadakan studi pendahuluan ini dapat dilakukan pada 3 objek. Yang dimaksud dengan objek di sini adalah apa yang harus dihubungi, dilihat, diteliti, atau dikunjungi yang kira-kira akan memberikan informasi tentang data yang akan dikunpulkan. Ketiga objek tersebut ada yang berupa tulisan(paper), manusia( person), dan tempat (place).

  1. Paper :dokumen, buku-buku, majalah, atau bahan tertulis lainnya, baik berupa teori, laporan penelitian, atau penemuan sebelumnya. Studi ini dinamakan kepustakaan atau literatur studi.
  2. Person : bertemu , bertanya, dan berkonsultasi dengan para ahli atau sumber.
  3. Place :tempat, lokasi, atau benda-benda yang terdapat di tempat penelitian.

MERUMUSKAN MASALAH

Perumusan masalah dapat dilakukan dengan cara merumuskan judul selengkapnya. Tetapi meskipun masalah sudah dituangkan dalam bentuk judul, pembaca menafsirkan dengan arti yang berbeda. Apabila peneliti menjelaskan semuanya dalam satu rumusan judul penelitian, maka akan terjelma sebuah judul yang panjang.Sebelum seorang peneliti memulai kegiatannya dalam meneliti, harus membuat rancangan terlebih dahulu. Rancangan tersebut diberi nama desain penelitian atau proposal penelitian.

Desain penelitian adalah rencana atau rancangan yang dibuat oleh peneliti sebagai pedoman kegiatan yang akan dilaksanakan dalam penelitian.Dalam desain penelitian sekurang-kurangnya  termuat : judul penelitian, alasan mengadakan penelitian, tujuan meneliti, kegunaan hasil penelitian, landasan teori, penelaahan kepustakaan, metodologi, langkah-langkah jadwal kerja, dan pembiayaan.

Proposal penelitian dibuat oleh peneliti apabila ia membutuhkan bantuan dana. Agar pihak yang memberi bantuan memahami apa yang akan dilakukan peneliti dan berapa besar manfaat hasil penelitian yang diharapkan. Disamping desain, dicantumkan pula perincian rencana kebutuhan dan penggunaan dana. Pada umumnya penelitian itu disponsori oleh pihak yang meberi bantuan dana, maka setiap akan meneliti, membuat proposal terlebih dahulu. Itulah sebabnya pengertian desain dan proposal cenderung disamakan.  Adapun permasalahan yang akan diteliti meliputi :

  1. 1. Penegasan judul

Penegasan judul atau pembatasan masalah sering diartikan sebagai pembatasan pengertian. Oleh karena itu pembatasan masalah perlu ditambahkan pada rancangan penelitian untuk pedoman kerja bagi peneliti sendiri dan bagi orang lain yang akan membantu atau meneruskan penelitiannya.

  1. 2. Alasan pemilihan judul

Alasan-alasan yang dapat dikemukakan dalam pemilihan judul antara lain :

  1. Pentingnya masalah tersebut diteliti karena akan membawa pelaksanaan kerja yang lebih efektif.
  2. Menarik minat peneliti karena dari pengalamannya peneliti mendapatkan gambaran bahwa hal itu sangat menarik.
  1. Sepanjang pengetahuan peneliti belum ada orang yang meneliti masalah tersebut.

Alasan pemilihan judul yang paling tepat adalah adanya kesenjangan antara apa yang diharapkan dengan apa yang terjadi. Kesenjangan inilah perlu diteliti, dicri sebab-sebabnya mengapa terdapat kesenjangan ini.

  1. 3. Problematik

Problematik penelitian adalah bagian pokok dari suatu kegiatan penelitian. Langkahnya disebut perumusan masalah atau perumusan problematik. Didalam langkah ini peneliti mengajukan pertanyaan terhadap dirinya tentang hal-hal yang akan dicari jawabannya melalui kegiatan penelitian. Setelah peneliti memberikan batasan permasalahan, maka akan menjadi jelas apa yang dipermasalahkan. Dikemukakan bahwa problematik adalah pertanyaan-pertanyaan yang diajukan, yang jawabannya akan diperoleh setelah penelitian selesai dilaksanakan.

  1. 4. Tujuan penelitian

Tujuan penelitian adalah rumusan kalimat yang menunujukkan adanya sesuatu hal yang diperoleh setelah penelitian selesai. Sebenarnya tujuan penelitian sama dengan jawaban yang dikehendaki dalam problematik penelitian. Tetapi tujuan penelitian harus lebih luas daripada sekedar hal yang diproblematikkan. Antara problematik, tujuan penelitian serta kesimpulan harus sinkron. Misal, jika pada problematik terdapat 3 hal yang dipertanyakan maka ada 3 hal yang menjadi tujuan, dan selesai penelitian akan ada 3 jawaban dalam kesimpulan.

  1. 5. Kegunaan hasil penelitian

Kegunaan hasil penelitian adalah kelanjutan dari tujuan penelitian. Dengan kata lain dapat dikatakan bahwa kegunaan hasil penelitian merupakan jawaban yang tertera dalam kesimpulan penelitian. Kegunaan hasil penelitian menjadi penting setelah beberapa peneliti tidak dapat mengadakan sebenarnya hasil apa yang diharapkan, dan sejauh mana sumbangannya terhadap kemajuan ilmu pengetahuan.

PENUTUP

  1. A. Kesimpulan

Memilih masalah penelitian adalah suatu langkah awal dari suatu langkah kegiatan penelitian. Masalah merupakan bagian dari kebutuhan seseorang untuk dipecahkan. Orang ingin mengadakan penelitian, karena ia mendapatkan jawaban dari masalah yang dihadapi. Masalah-masalah tersebut datang dari berbagai arah.

Terdapat empat hal yang harus dipenuhi bagi terpilihnya masalah atau judul penelitian , yaitu harus sesuai dengan minat peneliti, harus dapat dilaksanakan, harus tersedia faktor pendukung dan harus bermanfaat.

Setelah memilih masalah, maka langkah selanjutnya adalah mengadakan studi pendahuluan. Manfaat mengadakan studi pendahuluan :

  1. Memperjelas masalah
  2. Menjajaki kemungkina dilanjutkanya penelitian
  3. Mengetahui apa yang sudah dihasilkan orang lain bagi penelitian yang serupa dan bagian mana dari permasalahan yang belum terpecahkan.

Sangat besar manfaatnya bagi para calon ahli peneliti untuk menelusuri lebih jauh apa yang akan di permasalahkan.

Merumuskan masalah penelitian bukanlah pekerjaan yang gampang, tidak sedikit kawan-kawan mahasiswa kebingungan dan tidak jarang pula para ahli mengalami kesulitan dalam hal ini.

Desain penelitian adalah rencana atau rancangan yang dibuat oleh peneliti, sebagai ancar-ancar kegiatan, yanhg akan dilaksanakan. Didalam desain penelitian sekurang-kurangnya termuat: Judul penelitian penegasan masalah, alasan mengadakan penelitian, tujuan meneliti, kegunaan hasil penelitian, landasan teori, penelaahan kepustakaan, metodologi ( meliputi teknik sampling, metode pengumpulan data dan metode analisis data ), langkah-langkah jadwal kerja dan pembiayaan.

MERUMUSKAN ANGGAPAN DASAR

A. Pengertian

Dalam hal ini peneliti harus dapat memberikan sederetan asumsi yang kuat tentang kedudukan permasalahan yang sedang diteliti. Asumsi yang harus diberikan tersebut, diberi nama asumsi dasar atau anggapan dasar. Anggapan dasar ini merupakan landasan teori di dalam pelaporan hasil penelitian nanti.

Menurut Prof. Dr. Winarno Surakhmad M.Sc.Ed. anggapan dasar atau postulat merupakan sebuah titik tolak pemikiran yang kebenarannya diterima oleh penyelidik, dimana setiap penyelidik dapat merumuskan postulat yang berbeda. Seorang penyelidik yang mungkin meragukan sesuatu anggapan dasar yang oleh orang lain diterima sebagai suatu kebenaran.

Dalam melakukan penelitian anggapan – anggapan dasar perlu di-rumuskan secara jelas sebelum melangkah mengumpulkan data. Anggapan- anggapan semacam inilah yang disebut sebagai anggapan dasar, postulat atau asumsi dasar.

Peneliti perlu merumuskan anggapan dasar :

  1. Agar ada dasar berpijak yang kokoh bagi masalah yang sedang diteliti
  2. Untuk mempertegas variabel yang menjadi pusat perhatian
  3. Guna menentukan dan merumuskan hipotesis

B. Cara Menentukan Anggapan Dasar

Seseorang yang masih merasa ragu terhadap suatu hal tentu saja tidak dapat dengan pasti menentukan anggapan bagi hal tersebut. Bagaimana agar kita bisa tahu kebenaran tentang suatu keadaan ? caranya bermacam macam, diantaranya :

1.   Dengan banyak membaca buku, surat kabar atau berita lain

Dalam hal ini Prof. Drs. Sutrisno Hadi, M.A. mengklasifikasikan bahan pustaka ( yang disebut sumber acuan ) menjadi dua kelompok yaitu :

a)      sumber umum : buku teks, ensiklopedi dsb.

b)      Sumber acuan khusus : buletin, jurnal, periodikan ( majalah – majalah yang terbit secara periodik ), skripsi dsb

Dari sumber acuan umum dapat diperoleh teori – teori dan konsep – konsep dasar, sedang dari sumber acuan khusus dapat dicari penemuan – penemuan atau hasil penelitian yang sudah dan sedang dilaksanakan

2.   Dengan banyak menonton berita, ceramah dan pembicaraan orang lain

3.   Dengan banyak berkunjung ketempat

4.   Dengan mengadakan pendugaan mengabstraksi berdasarkan perbendaharaan pengetahuannya

Dengan singkat dapat dikatakan bahwa asumsi dasar, postulat atau anggapan dasar harus didasarkan atas kebenaran yang telah diyakini oleh peneliti.

Sebagai bahan pendukung anggapan dasar, peneliti perlu melakukan studi perpustakaan untuk mengumpulkan teori – teori dari buku maupun penemuan dari penelitian. Apa yang sudah dibaca sebaiknya langsung dicatat pada kartu – kartu. Cara ini disebut dengan istilah pencatatan dengan sistem kartu. Bahan – bahan yang sudah dibaca, dituliskan pada sebuah kartu dengan topik subjek matter atas bagian dari permasalahannya dimana pada setiap kartu dicantumkan sumber keterangan yang diambil agar tidak ada kesulitan apabila buku pinjaman atau sukar kembali ditemukannya. Oleh karenanya penulisannya harus lengkap agar tidak perlu membuka buku sumbernya lagi

Kartu yang digunakan dapat dibuat dari kertas manila berwarna. Untuk masalah yang sama dapat digunakan kartu yang sewarna. Ukuran kartu dapat dibuat sesuai kehendak hati misalnya 15 x 10 cm. kartu – kartu yang sudah diisi disusun sesuai abjad dalam sebuah kotak sehingga memudahkan penelitian dalam membandingkan, mengelompokkan dan menelaah kembali bahan – bahan tersebut.

Merumuskan suatu anggapan dasar bukanlah pekerjan yang mudah, tapi ini membutuhkan suatu pemikiran, renungan dan analisis masalah, sehingga boleh jadi bisa dianggap sukar bagi siapa saja, terutama bagi yang belum biasa meneliti. Untuk melakukan hal ini diperlukan latihan, membiasakan dan banyak melihat contoh seperti di bawah ini.

Judul penelitian :

Studi tentang peranan orang tua terhadap pilihan profesi anak SMA se-Daerah Istimewa Yogyakarta.

Anggapan dasar yang dapat dirumuskan antara lain :

1.   Hubungan antara anak dengan oranga tua cukup erat

2.   Anak tahu tentang keadaan orang tuanya ( pendidikan, pekerjaan, cita – cita terhadap dirinya dsb )

3.   Anak SMA sudah memahami berjenis jenis profesi yang ada, baik dalam wilayah yang sempit maupun wilayah yang luas

MERUMUSKAN HIPOTESIS

A. Pengertian

Agar dapat lebih mudah dipahami, pengertian ini perlu dikutipkan pendapat Drs. Sutrisno Hadi M.A. tentang pemecahan masalah. Seringkali peneliti tidak dapat memecahkan permasalahannya hanya dalam sekali jalan. Permasalahan itu akan diselesaikan bertahap degan cara mengajukan pertanyaan – pertanyaan dan mencari jawabannnya melalui penelitian yang dilakukan.

Jawaban terhadap permasalahn ini dibedakan atas dua hal sesuai dengan taraf pencapaiannya yaitu :

1.   Jawaban permasalahan yang berupa kebenaran pada taraf teoritik, dicapai melalui membaca

2.   Jawaban permasalahn yang berupa kebenaran pada taraf  praktek, dicapai setelah penelitian selesai yaitu setelah pengolahan terhadap data.

Sehubungan dengan pembatasan pengertian tersebut, maka hipotesis dapat diartikan sebagai satu jawaban yang bersifat sementara terhadap permasalahn penelitian, sampai terbukti melalui data yang terkumpul. Dari arti katanya, hipotesis berasal dari dua penggalan kata “hipo” yang artinya “di bawah” dan “thesa” yang artinya “kebenaran” jadi hipotesis yang kemudian cara penelitian disesuaikan dengan ejaan bahasa indonesia menjadi hipotesa, dan berkembang menjadi hipotesis.

Apabila peneliti telah mendalami permasalahan penelitiannya dengan seksama serta menetapkan anggapan dasar, kemudian membuat suatu teori sementara yang kebenaranya masih perlu diuji. Inilah hipotesis peneliti harus berpikir bahwa hipotesisnya itu dapat diuji. Selanjutnya peneliti akan bekerja berdasarkan hipotesis ini. Peneliti mengumpulkan data – data yang paling berguna untuk membuktikan hipotesis. Berdasarkan data yang terkumpul, peneliti akan menguji apakah hipotesis dapat dirumuskan dapat naik status menjadi tesa atau sebaliknya,tumbang sebagai hipotesis apabila ternyata tidak terbukti.

Hal yang perlu diperhatikan oleh peneliti adalah ia tidak boleh mempunyai keinginan kuat agar hipotesisnya terbukti dengan cara mengumpulkan data yang hanya bisa membantu memenuhi keinginannya atau memanipulasi data sehingga mengarah pada keterbuktian hipotesis. Penelitian harus bersikap objektif terhadap data yang terkumpul. Terhadap hipotesis yang sudah dirumuskan, peneliti dapat bersikap dua hal :

1. Menerima keputusan seperti apa adanya seandainya hipotesisnya tidak terbukti ( pada akhir penelitian ).

2. Mengganti hipotesis seandainya melihat tanda – tanda bahwa data yang terkumpul tidak mendukung terbuktinya hipotesis ( pada saat penelitian perlangsung ).

Apabila peneliti mengambil hak kedua, maka di dalam laporan penelitian harus dituliskan proses penggantian ini. Dengan demikian peneliti telah bertindak jujur dan tegas, sesuatu yang memang diharapkan dari seorang peneliti.

Bagaimana mengetahui kedudukan suatu hipotesis ?

1.   Perlu diuji apakah ada data yang menunjuk hubungan antara variabel penyebab dan variabel akibat.

2.   Adanya data yang menunjukkan bahwa akibat yang ada memang ditimbulkan oleh penyebab itu.

3.   Adanya daat yang menunjukkan bahwa tidak ada penyebab lain yang bisa menimbulkan akibat tersebut.

Apabila katiga hal tersebut dapat dibuktikan, maka hipotesis yang dirumuskan, mempunyai kedudukan yang kuat dalam penelitian. Walaupun hipotesis sangat penting sebgai pedoman kerja dalam penelitan, namun tidak semua penelitian harus berorientasikan hipotesis. Jenis penelitian eksploratif, survei, atau kasus dan penelitian development biasanya tidak berhipotesis. Tujuan peneliatian jenis ini untuk mempelajari tentang gejala sebanyak – banyaknya.

Sehubungan dengan hal ini, G.E.R.Brurrough mengatakan bahwa penelitian berhipotesis penting dilakukan bagi :

1. penelitian menghitung banyaknya sesuatu ( magnetude )

2. penelitian tentang perbedaan ( diferensies )

3. penelitian hubungan ( relationship )

Ahli lain yaitu deobolt van dalen mengutarakan adanya tiga bentuk interelationship studies yang termasuk penelitian hipotesis yaitu :

a. Case Studies

b. Causal Coparative Studies

c. Corelations Studies

B. Jenis – Jenis Hipotesis

Hipotesis merupakan suatu pernyataan yang penting kedudukannya dalam peneliti. Oleh karena itu peneliti dituntut untuk dapat merumuskan hipotesis dengan jelas. Seseorang ahli bernama Bored dan Gall ( 1979:61) mengajukan adanya persyaratan untuk hipotesis sebagai berikut :

Ada dua jenis hipotesis yang digunakan dalan penelitian :

1.   Hipotesis Kerja atau Hipotesis Alternatif (Ha)

Hipotesis kerja menyatakan adanya hubungan antara variabel X dan Y, adanya perbedaan antara dua kelompok.

Rumus hipotesis kerja ;

a. jika………………….maka……………

contoh :

Jika orang banyak makan, maka berat badannya akan naik.

b. ada perbedaan antara…………..dan…………………..

contoh :

Ada perbedaan antara penduduk kota dan penduduk desa dalam cara berpakaian

c. ada pengaruh……………..terhadap……………….

contoh :

Ada pengaruh makanan terhadap berat badan.

2.   Hipotesis nol ( null hipotesis ) disingkat Ho

Hipotesis nol disebut juga hipotesis statistik karena biasanya dipakai dalam penelitian yang bersifat statistik, yaitu diuji dengan perhitungan statistik Hipotesis nol menyatakan tidak adanya perbedaan antara dua variabel, atau tidak adanya pengaruh variabel X dan variabel Y. dengan kata lain selisih variabel pertama dan kedua adalah nol atau nihil.

Rumusan hipotesis nol :

a. tidak ada perbedaan antara……………dengan………….

Contoh :

Tidak ada perbedaan antara mahasiswa  tingkat I dan mahasiswa tingkat II dalam disiplin kuliah

b. tidak ada pengaruh……………………terhadap………….

Contoh :

Tidak ada pengaruh jarak dari rumah ke sekolah terhadap kerajinan mengikuti kuliah.

Dalam pembuktian, hipotesis alternatif (Ha) diubah menjadi (Ho) agar peneliti tidak mempunyai prasangka. Peneliti diharapkan jujur, tidak terpengaruh pernyataan ha. Kemudian dikembangkan lagi ke ha pada rumusan akhir pengetesan hipotesis.

C. Kekelirun yang Terjadi dalam  Pengujian Hipotesis

Hipotesis perlu dilakukan secara hati – hati setelah peneliti memperoleh bahan yang lengkap berdasarkan landasan teori yang kuat. Sebab dalam merumuskan hipotesis tidak selamanya benar.

Benardan tidaknya hipotesis tidak ada hubungannya dengan terbukti  dan tidaknya hipotesis tersebut. Mungkin seorang peneliti merumuskan hipotesis yang isinya benar, tetapi setelah data terkumpul dan dianalisis ternyata hipotesis tersebut ditolak, atau tidak terbukti. Sebaliknya mungkin seorang peneliti merumuskan sebuah hipotesis yang salah, tetapi setelah dicocokkan dengan datanya, hipotesis yang salah tersebut terbukti.

Keadaan ini akan berbahaya, apabila mengenai hipotesis tentang sesuatu yang berbahaya.

Contoh:

Belajar tidak mempengaruhi prestasi. Dari data yang terkumpul, memang ternyata anak –anak yang tidak belajar dapat lulus. Maka ditarik kesimpulan bahwa hipotesis tersebut terbukti.

Menurut norma umum kesimpulan ini salah, tapi menurut pembuktin hipotesis mungkin benar. Akibatnya bisa berbahaya apabila disimpulkan oleh siswa  atau mahasiswa bahwa tidak ada gunanya mereka belajar. Yang salah adalah perumusan hipotesisnya. Dalam hal lain dapat terjadi perumusan hipotesisnya benar tetapi ada kesalahan dalam penarikan kesimpulan.apabila terjadi hal semacam itu tidak boleh menyalahkan hipotesisnya.

Kesalahan penarikan kesimpulan mungkin disebabkan karena kesalahan sampel, kesalahan perhitungan ada pada variabel lain yang mengubah hubungan antara variabel belajar dan variabel prestasi yang pada saat pengujian hipotesis ikut berperan.

Misalnya:

Faktor untung – untungan, faktor soal tes, yang sudah bocor, faktor menyontek, dan sebagainnya.

Untuk memperjelas keterangan, berikut ini disampaikan matriks macam kekeliruan ketika membuat kesimpulan tentang hipotesis pada umumnya.

Macam kekeliruan ketika membuat Kesimpulan tentang hipotesis

Kesimpulan dan keputusan Keadaan sebenarnya
Hipotesis benar Hipotesis  salah
Terima hipotesis Tidak  membuat kekeliruan Kekeliruan macam II
Tolak hipotesis Kekeliruan macam I Tidakmembuat kekeliruan

Ditentukan bahwa probabilitas melakukan kekeliruan macm I dinyatakan dengan α (alpha), sedangkanmelakukan kekeliruan macam II dinyatakan engan β (beta). Nama – nama ini digunakan untukmenentukan jenis kesalahan.

Misalnya: Peneliti menetapkan kesalahandengan α = 1 % berarti dapt disimpulkan bahwa ada penyimpangan sebanyak 1%. Besar kecilnya resiko kesimpulanini tergantung darikeberanian peneliti, atau kesediaan peneliti mengalami kesalahan tipe I.

Kesalahan tipe I ini disebut taraf signifikasi pengetesan, artinya kesediaan yang berwujud besarnya probabilitas jika hasil penelitian terhadap sampel akan diterapkan pada populasi. Besarnya taraf  signifikansi ini pada umumnya sudah diterpkan terlebih dahulu misalnya 0,15; 0,5; 0,01, dan sebagainya.

Pada umumnya untuk penelitian – penelitian di bidang ilmu pendidikan digunakan taraf signifikansi 0,05 atau 0,01, sedangkan untuk peneliti obat – obatan yang resikonya menyangkut jiwa manusia, diambil 0,005 atau 0,001, bahkan mungkin 0,0001.

Apabila peneliti menolak hipotesis atas dasar taraf signifikansi 5% berarti sama dengn menolak hipotesis atas dasar taraf  kepercayaan 95%, artiny apabila kesimpulan tersebut diterapkan pada populasi yang terdiri dari 100 orang, akan cocock untuk 95 orang dan bagi 5 orang lainnya terjadi penyimpangan.

D. Cara Menguji Hipotesis

Di dalam menentukan penerimaan dan penolakan hipotesis maka Hipotesis Alternatif (Ha) diubah menjadi Hipotesis nol (Ho).untuk keerluan ini dicontohkanpenerapannya pada sebuah populasi berdistribusi normal, yang digambarkan dengan grafik seperti dibawah.

Dengan asumsi bahwa populasi tergambar dalam kurva normal. Sehingga jika kita menentukan taraf kepercayaan 95% dengan pengetesan 2 ekor, maka akan terdapat 2 daerah kritik, yaitu di ekor kanandan di ekor kiri kurva, masing – masing 21/2 %. Penjelasan mengenai masalah ini lebih lanjut akan diberikan pada langkah penarikan kesimpulan.

Daerah kritik merupakan daerah penolakan hipotesis (hipotesis nihil)  dan disebut daerah signifikansi. Sebaliknya daerah yang terletak di antara dua daerah kritis, yang diarsir, dinamakan daerah penerimaan hiptesis, atau daerah non-signifikansi.

Apaila kita mengetes nilai Z-score, dan dari N-120, dan dari perhitungan Z- score dengan rumus:

Misalnya 1,70, maka letaknya pada kurva adalah sebagai berikut:

Besarnya z-score 1,70 terletak di daerah peerimaan hipotesis nihil. Ini berarti bahwa hipotesis nihilyang dirumuskan, diterima, atau dengan kata lain hiotesis kerja ditolak.

E.   Penelitian Tanpa Hipotesis

Apakah semua penelitian harus berhipoteis?. Ada dua alternatif jawaban dan masing- masing mendasarkan diri pada argumentasi yang kuat.

Pendapat pertama mengatakan, semua penelitian pasti berhipoteis. Semua peneliti diharapkan menentukan jawaban sementara, yang akan diuji berdasarkan data yang  diperoleh. Hipotesis harus ada karena jawaban peneitian juga harus ada, dan butir – butirnya sudah disebut dalam problematika maupun tujuan penelitian.

Pendapat kedua mengatakan, hipotesis hanya dibuat jika dipermasalahkan menunjukkan hubungan antara dua variabelatau lebih. Jawaban untuk satu variabel yang sifatnya deskriptif, tidak perlu dihipotesiskan. Penelitian eksploratif yang jawabannya masih dicari dan sukar diduga, tentu sukar ditebak apa saja, atau bahkan tidak mungkin dihipotesiskan.

Berdasarkan pendapat kedua ini mungkin sekali di dalam sebuah penelitian, banyak hipotesis tidak sama dengan banyaknya problematika dan tujuan penelitian. Mungkin problematika unsur 1 dan 2 yang sifatnya deskriptif tidak diikuti dengan hipotesis , tetapi probematika nomor 3 dihipotesiskan.

Contoh:

Hubungan antara motivasi berprestasi dengan etos kerja para karyawankantor A.

Problematika 1:

Seberapa tinggi motivasi berrestasi keryawan kantor Anggapan? (tidak dihipotesiskan).

Problematika 2:

Seberapa tinggi etos kerja karyawn kantor A? (tidak dihipotesiskan)

Problematika 3:

Apakah ada dan seberapa tinggi hubungan antara motivasi berprestasi dengan etos kerja karyawankantor A?

Hipotesis:

Ada hubungan yang tinggi antara motivasi berprestasi dengn etos kerja karawan kantor A.

TEKNIK PENGAMBILAN SAMPEL

Sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti. Dinamakan penelitian sampel apabila kita bermaksud untuk menggeneralisasikan hasil penelitian sampel. Yang dimaksud menggenerelisasikan adalah mengangkat kesimpulan penelitian sebagai suatu yang berlaku bagi populasi.

Populasi                                            kesimpulan                     disimpulkan

berlaku untuk

populasi

Sebagian                                          sanpel                            data dianalisis

dari populasi                                     diteliti

Penelitian sampel boleh dilaksanakan apabila keadaan subyek di dalam populasi benar – benar homogen. Apabila subyek populasi tidak homogen, maka kesimpulan tidak boleh diberlakukan bagi seluruh populasi.

Beberapa keuntungan jika kita mengunakan sampel:

1.   Karena subyek pada sampellebih sedikit dibandingkan denganpopulasi, maka kerepotannya tentu kurang.

2.   Apabila populasi terlalu besar, maka dikhawatirkan ada yang terlewati.

3.   Dengan penelitian sampel, maka akan lebih efisien (dalam arti ruang, waktu, dan tenaga).

4.   Adakalanya dengan penelitian populasi berarti deskruktif (merusak).

Bayangkan kalau kita harus meneliti keampuhan senjata yang dihasilkan oleh pabrik, misalnya granat. Maka sambil meneliti, kita juga menghabiskannya.

5.   Ada bahaya bias dari orang yang mengumpulkan data. Karena subyeknya banyak, petugaspengumpul data menjadi lelah, sehingga pencatatannya bisa menjadi tidak teliti.

6.   Adakalanya memang tidak dimungkinkan melakukan penelitian populasi.

Bagaimana cara mengambil sampel? Pengambilan sampel harus dilakukan sedemikia rupa sehingga diperoleh sampel (contoh) yang benar – benar dapat berfungsi sebagai contoh, atau dapat mengambarkankeadaan populsi yang sebenarnya. Dengan kata lain sampel harus representatif. Adapun cara – cara pengambilan sampel penelitian ini dapat dilakukan sebagai berikut:

1.   Sampel Random atau Sampel Acak, Sampel Campur

Dalam teknik ini peneliti mencampur subyek –subyek di dalam populasi sehingga semua subyek dianggap sama. Dengan demikian peneliti memberi hak yang sama kepada setiap subyekuntuk memperoleh kesempatan (chance) dipilih menjadi sampel.

Di dalam pengambilan sampel biasanya peneliti sudah menentukan terlebih dahulu besarnya jumlah sampel yang paling baik. Apabila subyeknya kurang dari 100, lebih baik diambil semua sehingga penelitiannya merupakan penelitian populasi. Tetapi jika jumlah subjeknya besar, dapat diambil antara 10 – 15 % atau 20 – 25 % atau lebih, tergantung setidak-tidaknya dari :

a.   Kemampuan peneliti dilihat dari waktu, tenaga dan dana

b.   Sempit luasnya wilayah pengamatan dan subjek, karena hal ini menyangkut banyak sedikitnya data.

c.   Besar kecilnya resiko yang ditanggung oleh peneliti. Untuk penelitian yang resikonya besar, tentu saja jika sampel besar, hasilnya akan lebih baik

Agar diperoleh hasil penelitian yang baik, diperlukan sampel yang baik pula yakni betul-betul mencermikan populasi. Supaya perolehan sampel lebih akurat, diperlukan rumus-rumus penentuan besarnya sampel antara lain disebutkan di bawah ini :

1.   Dengan rumus Jacob Cohen :

dengan ketentuan:

N = ukuran sampel

f 2 = effect size

u = banayknya ubahan yang terkait dalam penelitian

L = fungsi power dari u, diperoleh dari tabel, t.s. 1%

Power ( p ) = 0,95 dan effect size  (f2 ) = 0,1

Harga L tabel dengan t.s. 1% power 0,95 dan u = 5 adalah 19,76.

Maka dengan rumus tersebut didapat :

dibulatkan 204

2. dengan rumus berdasarkan proporsi, ada dua rumus.

a. Dikemukakan oleh Issac & Michael:

Dimana : S      =  ukuran sampel

N      =  ukuran populasi

P       =  proporsi dalam populasi

d       =  ketelitian ( error )

x 2 =  harga tabel chi-kuadrat untuk α tertentu

b. dikemukakan oleh paul leedy :

Dimana : N      =  ukuran sampel

Z       =  standard score untuk α yang dipilih

E       =  sampling error

P       =  proporsi harus dalam populasi

Untuk mempermudah dalam mengikuti uraian, maka akan diambil misala kita mempunyai populasi sebanyak 1000 orang dan sampelnya kita tentukan 200 orang. Setelah seluruh subjek diberi nomor, yaitu nomor 1 sampai dengan 1000, maka sampel ramdom kira lakukan dengan salah satu cara di bawah ini.

a. Undian ( untung-untungan )

Pada kertas kecil-kecil kita tuliskan nomor subjek, satu nomor untuk setiap kertas kemudian kertas ini kita gulung. Dengan tanpa prasangka kita mengambil 200 gulungan kertas, sehingga nomor-nomor yang tertera pada gulungan kertas yang terambil itulah yang merupakan nomor subjek penelitian kita.

b. Ordinal ( tingkat sama )

Setelah 1000 orang subjek kita beri nomor, kita membuat 5 gulungan kertas dengan nomor 1,2,3,4,5. kita ambil satu misalnya setelah dibuka tertera angka 3. oleh karena sampel kita 200 padahal populasinya 1000 maka besarnya sampel seperlima dari populasi. Demikianlah maka kita ambil nomor dengan melompat setiap 5 subjek mulai dari nomor 3, lalu 8,13,18,23 dan seterusnya, dan kalau kita sampai nomor terbawah padahal elum diperoleh 200 subjek, kita kembali ke atas lagi. Nomor-nomor yang terambil itulah nomor subjek sampel penelitian kita.

c.Menggunakan tabel bilangan ramdom

Dalam buku statistik bagian belakang, halaman yang memuat angka-angka yang disusun secara acak. Agar pengambilan sampel terlepas dari perasaan subjektif, sebaiknya peneliti menuliskan langkah-langkah yang akan diambil, misalnya :

1.   Menjatuhkan ujung pensil, menemukan nomor baru

2. Menjatuhkan ujung pensil kedua, menemukan nomor kolom. Pertemuan antara baris dan kolom inilah nomor subjek ke-1 dan seterusnya sampai diperoleh jumalh subjek yang dikehendaki

Jika jumlah subjeknya banyak, kita dapat mengulanglangkah yang sudah kia lalui. Pengambilan sampel dengan cara ramdom ini dapat dilakukan apabila keadaan populasi memang homogen. Bagi populasi yang tidak homogen perlu mempertimbangkan ciri-ciri yang ada.

2.   Sampel Berstrata atau Stratified Sampel

Penentuan strata penelitian harus dilakukan secara hati-hati karena dapat berakibat menyinggung perasaan.

Contoh : strata kekayaan

Kelompok 1 sangat kaya, kelompok II sedang, kelompok III miskin. Dalam hal ini kekayaan tidak perlu ditinjau dari tingkatannya, tetapi keadaan pemilikan harta benda; sehingga di dalam sampling kita kategorikan sebagai cluster sampling, yaitu sampel yang diambil berdasarkan kelompok.

3.   Sampel Wilayah atau Area Probability Sample

Sampel wilayah adalah teknik sampling yang dikaukan dengan mengambil wakil dari setiap wilayah yang terdapat dalam populasi.

Misal kita akan meneliti keberhasilan Kb diseluruh wilayah indonesia oleh karena terdapat 27 provinsi, dan masing-masing berbeda keadaan, maka kita mengambil sampel dari 27 provinsi, sehingga hasilnya mencerminkan keberhasilan kb di seluruh indonesia.

4.   Sampel Proporsi atau Proporsional Sampel, atau Sampel Imbangan

Teknik pengambilan sampel ini dilakukan untuk menyempurnakan penggunaan teknik sampel berstrata atau sampel wilyah. untuk memperoleh samel yang repesentatif, pengambilan subyek dari setiap strata atau setiap wilayahsebanding dengan banyaknya subjekdalam masing – masing strata atau wilayah.

Contoh:

Mahasiswa tingkat I: 500 oarang, tingkat II: 200 orang, tingkat III: 200 orang, tingkat IV: 150 orang, tingkat V: 100 orang, maka pengambilan sampelnya untuk tingkat I sebanyak 21/2 kali tingkatII dan 5kali tingkat V.

Pada umumnya teknikdalam pengambilan sampel penelitian memang tidak tunggal, tetapi gabungan dari 2 atau 3 teknik. Misalnya pengambilan samel dari mahasiswa tingkat I sebanyak 50 dari 500 orangdilakukan dengan acak, demikian jugadari tingkatan –tingkatan lain, maka sudah 3 teknik yang digunakan, yakni berstrata, proporsi, dan acak. Teknik pengambilan sampel seperti inidisebut stratifiled proportional random sampling.

5.   Sampel Bertujuan atau Purposive Sampling

Sampel dilakukan dengan cara mengambil subyekdengan tujuan tertentu. Teknik ini dilakukan karena didasari beberapa pertimbangan, misanya alasan keterbatasan waktu, tenaga, dan dana sehingga tidak dapat mengambil sampel yang besar dan jauh. Adapun syarat – syarat pengambilan sampel diantaranya:

a.   Pengambilan sampel harus dilakukan atas ciri – ciri, sifat –sifat atau karakteristik tertentu, yang merupakan ciri –ciri pokok populasi.

b.   Subyek yang diambil  sebagai sampel benar –benar merupakan subjek yang peling banyak mengandung ciri –ciri yang terdapat pada populasi (key subjectis).

c.   Penentuan karakteristik populasi dilakukan dengan cermat di dalam studi pendahuluan.

Pengambilan sampel dengan teknik bertujuan cukup baik, karena sesuai dengan pertimbangan peneliti sendiri sehimgga dapat mewakili populasi. Kelemahannya adalah bahwa peneliti tidak dapat menggunakan statistik parametiksebagai teknik analisis data, karena tidak memenuhi persyaratan random. Keuntungannya  terletak pada ketepatan peneliti memilih sumber data sesuai dengan variabel yang diteliti.

Menurut pendapat maher dan kawan – kawan (1997; 21-23), seorang manajer profesional harus memiliki kemampuan manajemen akuntansi sekurang –kurangnya  tiga hal:

1.   Menjaga dan mempertahankan kemampuan profesionalnya dengan cara selalu meningkatkan pengetahuan dan keterampilannya.

2. Menunjukkan kemampuannya dalam mengikuti segala peratyran, ketentuan, serta standar teknikalyang berlaku dan relevan engan bidangnya.

3.   Menyiapkan dan membuat laporan serta rekomendasi setelah melalui tahap analisis yang cermat.

6.   Sampel Kuota atau Quota Sample

Teknik ini dilakukan berdasarkan jumlah yang sudah ditentukan. Dalam mengumpulkan data, peneliti menghubungkan subyek yang memenuhi persyaratan ciri – ciri populasi, tanpa menghiraukan dari mana asal subyek tersebut. Dalam hal ini yang dihubungkan adalah subyek yang mudah ditemui, sehingga pengumpulan datanya mudah. Yang perlu di perhatikan adalah  terpenuhinya jumlah yang telah ditetapkan.

7.   Sampel Kelompok atau Cluster Sample

Dalam menentukan jenis cluster atau kelompok harus mempertimbangkan ciri – ciri yang ada. Seperti halnya di dalam masyarakat kita jumpai kelompok – kelompok yang bukan merupakan kelas atau sastra. Seperti di dalam membicarakan masalah persekolahan kita jumpai adanya kelompok sekolah SD, SLTP, SLTA,. Kelompok – kelompok tersebut dapat dipandang sebagai tingkatan atau sastra. Demikiaan juga adanya kelas atau tingkat di masing –masing tingkatan sekolah.

8.   Sampel Kembar atau Double Sample

Sampel kembar merupakan dua buah sampel yang sekaligus diambil oleh peneliti dengan tujuan untuk melengkapi jumlah apabila ada data yang tidak masuk dari sampel pertama, atau untuk mengadakan pengecekan terhadap kebenaran dari data sampel pertama. Biasanya sampel pertama  jumlahnya sangat besar sedangkan sampel kedua digunakan untuk mengecek, dan jumlahnya tidak begitu besar.

MASA REMAJA

Masa remaja merupakan sebuah periode dalam kehidupan manusia yang batasannya usia maupun peranannya seringkali tidak terlalu jelas. Pubertas yang dahulu dianggap sebagai tanda awal keremajaan ternyata tidak lagi valid sebagai patokan atau batasan untuk pengkategorian remaja sebab usia pubertas yang dahulu terjadi pada akhir usia belasan (15-18) kini terjadi pada awal belasan bahkan sebelum usia 11 tahun. Seorang anak berusia 10 tahun mungkin saja sudah (atau sedang) mengalami pubertas namun tidak berarti ia sudah biasa dikatakan sebagai remaja dan sudah siap menghadapi dunia orang dewasa. Ia belum siap menghadapi dunia nyata orang dewasa, meski di saat yang sama ia juga bukan anak-anak lagi. Berbeda dengan balita yang perkembangannya dengan jelas dapat diukur, remaja hampir tidak memiliki pola perkembangan yang pasti. Dalam perkembangannya seringkali mereka menjadi bingung karena kadang-kadang diperlakukan sebagai anak-anak tetapi di lain waktu mereka dituntut untuk bersikap mandiri dan dewasa. Memang banyak perubahan pada diri seseorang sebagai tanda keremajaan, namun seringkali perubahan itu hanya merupakan suatu tanda-tanda fisik dan bukan sebagai pengesahan akan keremajaan seseorang. Namun satu hal yang pasti, konflik yang dihadapi oleh remaja semakin kompleks seiring dengan perubahan pada berbagai dimensi kehidupan dalam diri mereka.

Di masa modern ini, merokok merupakan suatu pemandangan yang sangat tidak asing. Kebiasaan merokok dianggap dapat memberikan kenikmatan bagi si perokok, namun dilain pihak dapat menimbulkan dampak buruk bagi si perokok sendiri maupun orang – orang disekitarnya. Berbagai kandungan zat yang terdapat di dalam rokok memberikan dampak negatif bagi tubuh penghisapnya. Beberapa motivasi yang melatarbelakangi seseorang merokok adalah untuk mendapat pengakuan (anticipatory beliefs), untuk menghilangkan kekecewaan(reliefing beliefs), dan menganggap perbuatannya tersebut tidak melanggar norma ( permissive beliefs/ fasilitative) (Joewana, 2004). Hal ini sejalan dengan kegiatan merokok yang dilakukan oleh remaja yang biasanya dilakukan didepan orang lain, terutama dilakukan di depan kelompoknya karena mereka sangat tertarik kepada kelompok sebayanyaatau dengan kata lain terikat dengan kelompoknya

Maraknya penggunaan rokok dikalangan remaja pada zaman sekarang ini dikarenakan masih banyaknya siswa yang tidak paham terhadap masalah kesehatan, walaupun pada bungkus rokok sudah tertera penyebab dari rokok yaitu “Merokok dapat menyebabkan Kanker, Serangan Jantung, Impotensi dan gangguan Kehamilan serta Janin”. Kita ketahui banyak siswa sebelum berangka maupun sesudah selesai sekolah banyak yang merokok sambil nongkrong. Memang pada masa muda sakit akibat rokok yaitu paru-paru tidak terasa, namun nanti pada saat usia diatas 40 tahun, baru macam-macam penyakit akan muncul seperti yang tertera pada bungkus rokok tersebut. Berdasarkan dari masalah tersebut para pakar Guru-Guru SeJember (GGS) memberikan solusi yaitu dengan cara mengusahakan kurikulum tentang kesehatan (akibat dari merokok) disekolah-sekolah khususnya kalangan remaja dewasa ini.

2.2. Tipe Perilaku Merokok

Telah diungkapkan oleh Leventhal & Chearly (Komasari & Helmi,2000) terdapat tahap dalam perilaku merokok sehingga menjadi perokok, yaitu :

  1. Tahap Prepatory. Seseorang mendapatkan gambaran yang menyenangkan mengenai merokok dengan cara mendengar, melihat atau dari hasil bacaan. Hal-hal ini menimbulkan minat untuk merokok.
  2. Tahap Initiation. Tahap perintisan merokok yaitu tahap apakah seseorang akan meneruskan atau tidak terhadap perilaku merokok.
  3. Tahap Becoming a Smoker. Apabila seseorang telah mengkonsumsi rokok sebanyak empat batang per hari maka mempunyai kecenderungan menjadi perokok.
  4. Tahap Maintenance of Smoking. Tahap ini merokok sudah menjadi salah satu bagian dari cara pengaturan diri (self regulating). Merokok dilakukan untuk memperoleh efek fisiologis yang menyenangkan.

Menurut Smet (1994) ada tiga tipe perokok yang dapat diklasifikasikan menurut banyaknya rokok yang dihisap. Tiga tipe rokok tersebut adalah :

  1. Perokok berat yang menghisap lebih dari 15 batang rokok dalam sehari.
  2. Perokok sedang menghisap 5-14 batang rokok dalam sehari.
  3. Perokok ringan yang menghisap 1-4 batang rokok dalam sehari.

Berdasarkan survey yang dilakukan Komnas Perlindungan Anak 2009 banyak factor lain yang mempengaruhi remaja atau siswa zaman sekarang merokok, antara lain :

  1. Orang tua

Dalam hal ini orang tua sangat berpengaruh terhadap pembentukan tingkah laku anak sehari-hari, karena disini orang tua adalah orang yang sering dekat dengan anak. Sehingga jika orang tua kuarang memperhatikan anak,dimana anak bermain, dengan siapa dia bergaul, maka akibatnya anak menjadi brutal, contohnya saja berani merokok. Sebagai keluarga apalagi orang tua seharusnya wajib mendidik anak dengan baik penuh pengorbanan, keikhlasan, jadi jangan hanya material dan logika keuangan untung rugi saja. Karena disini anak adalah penerus kelurga dan bangsa

Kita ketahui banyak sekali orang tua yang saat ini masih merokok, walaupun didepannya ada anaknya sendiri. Hal inilah yang dapat menyebabkan anak sekarang merokok, berawal dari melihat akhirnya mencoba, sehingga pada akhiranya ketagihan. Jika sudah ketagihan, apalagi masih sekolah, uang masih minta, bias-bisa karena sudah ketagihan maka pada akhirnya muncul niat mencuri. Berdasarkan survey menurut orang yang merokok, kalau tidak merokok itu kecut. Sehingga disarankan supaya orang tua harus tahu mana yang baik dan mana yang jalek buat anak, karena anak 50 % pasti ikut sifat bapaknya. Seharusnya sebagai orang tua yaitu orang yang lebih mengerti juga mengajarkan hal-hal yang baik terhadapnya

Dengan demikian agar anak tidak melakukan atau merokok, orang tua harus sering-sering mengontrol semua apa yang dilakukan anak baik diluar maupun didalam rumah, dengan kata lain yaitu sering-sering berkomunikasi dan janganlah pernah orang tua merokok pada saat ada anak maupun didepan anak. Karena berawal dari keluargalah maka pada akhiranya diikuti oleh anaknya.

Salah satu temuan tentang remaja perokok adalah bahwa anak-anak muda yang berasal dari rumah tangga yang tidak bahagia, dimana orang tua tidak begitu memperhatikan anak-anaknya dan memberikan hukuman fisik yang keras lebih mudah untuk menjadi perokok dibanding anak-anak muda yang berasal dari lingkungan rumah tangga yang bahagia (Baer & Corado dalam Atkinson, Pengantar psikologi, 1999:294).

  1. Sekolah

Sekolah ini adalah tempat no dua selain orang tua yaitu tempat belajar,tempat berkumpul, bermain para siswa. Jadi 50 % siswa berani merokok ini karna adanya pergaulan disekolah. Disini siswa yang masih dibawah umur yang masih memiliki rasa ingin tau yang tinggi, biasanya siswa ikut-ikutan merokok.Seharusnya pada tiap-tiap sekolah ini ada waktu untuk razia(operasi) tas-tas tiap-tiap siswa, sehingga dengan adanya razia seperti itu otomatis hal-hal yang tidak diinginkan seperti membawa rokok, sabu-sabu dan lain-lain yang bersifat negative tidak akan terjadi. Biasanya siswa meletakkan barang-barangnya tersebut ditas, disebabkan tas itu tempatnya cukup luas. Jadi razia ini bisa dilakukan satu kali seminggu, dua kali seminggu tergantung musyawarah semua institusi yang ada disekolah.

Maka seharusnya yang dilakukan pihak sekolah untuk mengatasi siswa merokok selain melakukan razia yaitu dengan cara memberikan peraturan yang ketat yang bisa membuat para siswa enggan merokok. Sehingga dengan adanya peraturan seperti itu pengguna rokok khususnya kalangan remaja bisa diatasi.

  1. Warung dan Kantin

Disini warung maupun kantin merupakan factor-faktor lain yang mempengaruhi siswa merokok. Kita tahu warung maupun kantin adalah tempat dimana siswa membeli sesuatu baik makanan ringan maupun yang lainnya. Biasanya karena penjual ingin warung atau kantinnya laris, penjual warung selain berjualan makanan ringan juga menjual hal yang lain contohnya rokok. Disebabkan rokok ini adalah hal yang sangat digemari kalangan remaja sekarang, bisa menghilangkan setres(menurut kalangan remaja). Jadi hal ini yang dapat merangsang siswa pada zaman sekarang untuk merokok. Seharusnya pihak sekolah terlebih dahulu memberi tahu kepada para penjual warung maupun kantin, supaya tidak menjual rokok pada siswa atau hal-hal yang merugikan siswa. Jika masih tetap menjual rokok, maka cepat-cepat diberi sanksi misalnya dilarang menjual didekat sekolah.

  1. Pengaruh teman.

Berbagai fakta mengungkapkan bahwa semakin banyak remaja merokok maka semakin besar kemungkinan teman-temannya adalah perokok juga dan demikian sebaliknya. Dari fakta tersebut ada dua kemungkinan yang terjadi,

pertama remaja tadi terpengaruh oleh teman-temannya atau bahkan temant-teman remaja tersebut dipengaruhi oleh diri remaja tersebut yang akhirnya mereka semua menjadi perokok. Diantara remaja perokok terdapat 87% mempunyai sekurang-kurangnya satu atau lebih sahabat yang perokok begitu pula dengan remaja non perokok (Al Bachri, 1991)

  1. Faktor Kepribadian.

Orang mencoba untuk merokok karena alasan ingin tahu atau ingin melepaskan diri dari rasa sakit fisik atau jiwa, membebaskan diri dari kebosanan. Namun satu sifat kepribadian yang bersifat prediktif pada pengguna obat-obatan (termasuk rokok) ialah konformitas sosial. Orang yang memiliki skor tinggi pada berbagai tes konformitas sosial lebih mudah menjadi pengguna dibandingkan dengan mereka yang memiliki skor yang rendah (Atkinson,1999).

  1. Pengaruh Iklan.

Melihat iklan di media massa dan elektronik yang menampilkan gambaran bahwa perokok adalah lambang kejantanan atau glamour, membuat remaja seringkali terpicu untuk mengikuti perilaku seperti yang ada dalam iklan tersebut. (Mari Juniarti, Buletin RSKO, tahun IX,1991).

  1. Pergaulan masyarakat

Pergaulan memang sangat penting bagi anak-anak tingkat SMA sekarang. Namun pergaulan yang salah juga dapat mengakibatkan dampak negative bagi perkembangan anak. Pada lingkungan masyarakat tentunya ini adalah tempat dimana anak-anak bermain baik anak-anak dengan anak-anak, anak-anak dengan bapak-bapak maupun anak-anak dengan anak yang dewasa. Sehingga dari pergaulan yang beragam tersebut bias muncul sianak ingin merokok. Dikarenakan rata-rata bapak-bapak maupun orang-orang dewasa zaman inibanyak mengkonsumsi rokok.

.

2.3.      Motif Perilaku Merokok

Laventhal & Chearly (dalam Oskamp, 1984) menyatakan motif seseorang merokok terbagi menjadi dua motif utama , yaitu :

  1. Kebiasaan

Perilaku merokok menjadi sebuah perilaku yang harus tetap dilakukan tanpa adanya motif yang bersifat negative ataupun positif. Seseorang merokok hanya untuk meneruskan perilakunnya tanpa tujuan tertentu.

  1. Reaksi emosi yang positif

Merokok digunakan untuk menghasilkan emosi yang positif, misalnya rasa senang, relaksasi, dan kenikmatan rasa. Merokok juga dapat menunjukkan kejantanan (kebanggan diri) dan menunjukkan kedewasaan.

  1. Reaksi untuk penurunan emosi

Merokok ditujukan untuk mengurangi rasa tegang, kecemasan biasa, ataupun kecemasan yang timbul karena adanya interaksi dengan orang lain.

  1. Alasan Sosial

Merokok ditujukan untuk mengikuti kebiasaan kelompok (umumnya pada remaja dan anak-anak), identifikasi dengan perokok lain , dan untuk menentuka image diri seseorang. Merokok pada anak-anak juga dapat disebabkan adanya paksaan teman-temannya.

  1. Kecanduan dan ketagihan

Seseorang merokok karena mengaku telah mengalami kecanduan. Kecanduan terjadi karena adanya nikotin yang terkandung di dalam rokok. Semula hanya mencoba-coba rokok, akhirnya tidak dapat menghentikan perilaku tersebut karena kebutuhan tubuh akan nikotin.

2.4. Dampak Perilaku Merokok

Ogden (2000) membagi dampak perilaku merokok menjadi dua, yaitu:

  1. Dampak Positif

Merokok menimbulkan dampak positif sedikit sekali, Graham (dalam Ogden,2000) menyatakan bahwa perokok menyebutkan dengan merokok dapat menghasilkan mood positif dan dapat membantu individu menghadapi keadaan-keadaan yang sulit. Smeet (1994) menyebutkan keuntungan merokok yaitu mengurangi ketegangan, membantu berkonsentrasi, dukungan social dan menyenangkan.

  1. Dampak Negatif

Merokok dapat menimbulkan berbagai dampak negative yang sangat berpengaruh bagi kesehatan (Ogden,2000). Merokok bukanlah penyebab suatu penyakit , tetapi pemicu suatu jenis penyakit sehingga dapat dikatakan merokok dapat mendorong munculnya jenis penyakit yang dapat mengakibatkan kematian. Berbagai jenis penyakit yang dapat dipicu karena merokok dimulai dari penyakit di kepala sampai kaki, antara lain (Sitepce, 2001) : penyakit kardiolovaskular, neoplasma (kanker), saluran pernafasan, peningkatan tekanan darah, memperpendek umur, penurunan vertilitas(kesuburan) dan nafsu seksual, sakit mag, gondok, gangguan pembuluh darah, penghambat pengeluaran air seni, amblyopia (penglihatan kabur), kulit menjadi kering, pucat dan keriput, serta polusi udara dalam ruangan (sehingga terjadi iritasi mata, hidung, dan tenggorokan.

2.5.Solusi Penanganan Masalah merokok pada remaja atau siswa

Semua masalah tersebut perlu mendapat perhatian dari berbagai pihak mengingat remaja merupakan calon penerus generasi bangsa. Ditangan remaja lah masa depan bangsa ini digantungkan.

Terdapat beberapa cara yang dapat dilakukan dalam upaya untuk mencegah semakin meningkatnya masalah yang terjadi pada remaja, yaitu antara lain :

  1. Peran Orangtua :

-        Menanamkan pola asuh yang baik pada anak sejak prenatal dan balita

-        Membekali anak dengan dasar moral dan agama

-        Mengerti komunikasi yang baik dan efektif antara orangtua – anak

-        Menjalin kerjasama yang baik dengan guru

-        Menjadi tokoh panutan bagi anak baik dalam perilaku maupun dalam hal

menjaga lingkungan yang sehat

-        Menerapkan disiplin yang konsisten pada anak

-        Hindarkan anak dari NAPZA

  1. Peran Guru :

-        Bersahabat dengan siswa

-        Menciptakan kondisi sekolah yang nyaman

-        Memberikan keleluasaan siswa untuk mengekspresikan diri pada kegiatan

Ekstrakurikuler

-        Menyediakan sarana dan prasarana bermain dan olahraga

-        Meningkatkan peran dan pemberdayaan guru BP

-        Meningkatkan disiplin sekolah dan sangsi yang tegas

-        Meningkatkan kerjasama dengan orangtua, sesama guru dan sekolah lain

-        Meningkatkan keamanan terpadu sekolah bekerjasama dengan Polsek

Setempat

-        Mewaspadai adanya provokato

-        Mengadakan kompetisi sehat, seni budaya dan olahraga antar sekolah

-        Menciptakan kondisi sekolah yang memungkinkan anak berkembang

secara sehat dalah hal fisik, mental, spiritual dan social

-        Meningkatkan deteksi dini penyalahgunaan NAPZA

  1. Peran Pemerintah dan masyarakat :

-        Menghidupkan kembali kurikulum budi pekerti

-        Menyediakan sarana/prasarana yang dapat menampung agresifitas anak

melalui olahraga dan bermain

-          Menegakkan hukum, sangsi dan disiplin yang tegas

-          Memberikan keteladanan

-          Menanggulangi NAPZA, dengan menerapkan peraturan dan hukumnya secara tegas

-          Lokasi sekolah dijauhkan dari pusat perbelanjaan dan pusat hiburan

-          Sebaiknya pemerintah mengadakan seminar atau penyuluhan mengenai bahaya merokok, terutama pada remaja yang duduk di bangku SMP ( diatas 13 tahun), karena berdasarkan penelitian yang dilakukan, sebagian besar ramaja merokok pertama kali ketika berusia 13 tahun

-          Pemerintah membuat Undang-undang yang isinya yaitu boleh merokok namun harus diatas umur 25 tahun, sebab umur 25 tahun  keatas itu sudah dewasa sudah tahu dengan hal yang menyangkut dirinya sendiri baik yang merugikan maupun yang menguntungkan bagi dirinya

-          Pemerintah membuat suatu sepanduk sebagai sponsor dengan maksud agar masyarakat bisa mengetahui lebih dalam. Sehingga penjual maupun pengguna rokok tidak asal-asalan menjual maupun membeli. Memang disisi lain pajak rokok sangat besar bagi Negara, bahkan paling besar pajaknya dibandingkan bahan lain, namun kalau diliat dari akibatnya juga sangat besar selain perusak kesehatan generasi muda asapnya juga bisa menipiskan lapisan ozon.

  1. Peran Media :

-          Sajikan tayangan atau berita tanpa kekerasan (jam tayang sesaui usia)

-          Sampaikan berita dengan kalimat benar dan tepat (tidak provokatif)

-          Adanya rubrik khusus dalam media masa (cetak, elektronik) yang bebas

biaya khusus untuk remaj

RPP

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
( RPP )

Sekolah : SMA
Kelas / Semester : XII (Dua Belas) / II
Mata Pelajaran : FISIKA
Alokasi Waktu : 2 x 45 menit

Standar Kompetensi
3. Menganalisis berbagai besaran fisis pada gejala kuantum dan batas batas berlakunya relativitas Einstein dalam paradigma fisika modern.

Kompetensi Dasar
3.1 Menganalisis secara kualitatif gejala kuantum yang mencakup hakikat dan sifat-sifat radiasi benda hitam serta penerapannya.
Indikator
1. Mendeskripsikan fenomena radiasi benda hitam.
2. Mendeskripsikan hipotesis Planck tentang kuantum cahaya.
3. Menerapkan karakteristik radiasi benda hitam untuk menjelaskan gejala pemanasan global.

A. Tujuan Pembelajaran
Peserta didik dapat:
1. Menjelaskan pengertian benda hitam.
2. Menjelaskan karakteristik radiasi pada benda hitam.
3. Menjelaskan hubungan antara intensitas radiasi benda hitam terhadap panjang gelombang pada berbagai suhu.
4. Menjelaskan aplikasi hukum pergeseran Wien.
5. Menjelaskan aplikasi hukum Stefan-Boltzmann.
6. Menjelaskan aplikasi hukum Rayleigh-Jeans.
7. Menganalisis fenomena pergeseran Wien melalui teori Planck.
8. Membedakan pandangan Rayleigh-Jeans dan Planck mengenai radiasi benda hitam.
9. Menjelaskan aplikasi dari sifat radiasi benda hitam dalam kehidupan sehari-hari.
10. Menjelaskan pengertian efek fotolistrik.
11. Membedakan teori efek fotolistrik menurut teori elektrodinamika klasik dan Enstein.
12. Menjelaskan eksperimen mengukur energi kinetik maksimum.

B. Materi Pembelajaran
Pendahuluan Teori Kuantum

C. Metode Pembelajaran
1. Model : a. Direct Instruction (DI).
b. Cooperative Learning.
2. Metode : a. Diskusi kelompok.
b. Ceramah.
c. Observasi.

D. Langkah-langkah Kegiatan
PERTEMUAN PERTAMA
No. Aktivitas Waktu
1 Kegiatan Pendahuluan
1. Motivasi dan Apersepsi:
i. Apakah setiap benda yang panas memancarkan gelombang elektromagnetik?
ii. Bagaimana hubungan antara kerapatan energi yang dipancarkan benda hitam dengan suhu benda tersebut?
2. Prasyarat pengetahuan:
i. Faktor apakah yang mempengaruhi daya yang dipancarkan gelombang elektromagnetik?
ii. Sebutkan bunyi hukum Stefan-Boltzmann.
10 menit
2 Kegiatan Inti
1. Peserta didik (dibimbing oleh guru) mendiskusikan pengertian benda hitam.
2. Peserta didik memperhatikan penjelasan karakteristik radiasi pada benda hitam yang disampaikan oleh guru.
3. Peserta didik memperhatikan penjelasan guru mengenai hubungan antara intensitas radiasi benda hitam terhadap panjang gelombang pada berbagai suhu.
4. Peserta didik (dibimbing oleh guru) mendiskusikan aplikasi hukum pergeseran Wien.
5. Perwakilan peserta didik diminta untuk menyebutkan hukum pergeseran Wien.
6. Peserta didik memperhatikan contoh soal aplikasi hukum pergeseran Wien yang disampaikan oleh guru.
7. Peserta didik (dibimbing oleh guru) mendiskusikan aplikasi hukum Stefan-Boltzmann.
8. Perwakilan peserta didik diminta untuk menyebutkan hukum Stefan-Boltzmann.
9. Peserta didik memperhatikan contoh soal aplikasi hukum Stefan-Boltzmann yang disampaikan oleh guru.
10. Guru memberikan beberapa soal aplikasi hukum pergeseran Wien dan Stefan-Boltzmann untuk dikerjakan oleh peserta didik.
11. Guru mengoreksi jawaban peserta didik apakah sudah benar atau belum. Jika masih ada peserta didik yang belum dapat menjawab dengan benar, guru dapat langsung memberikan bimbingan.
50 menit
3 Kegiatan Penutup
1. Peserta didik (dibimbing oleh guru) berdiskusi untuk membuat rangkuman.
2. Guru memberikan tugas rumah berupa latihan soal.
10 menit

PERTEMUAN KEDUA

No. Aktivitas Waktu
1 Kegiatan Pendahuluan
1. Motivasi dan Apersepsi:
i. Bagaimana hubungan kerapatan energi yang dipancarkan benda hitam terhadap suhu dan panjang gelombang?
ii. Mengapa energi getaran atom-atom pada benda hitam tidak dapat memiliki nilai sembarang?

2. Prasyarat pengetahuan:
i. Sebutkan bunyi hukum Rayleigh-Jeans.
ii. Apakah peranan teori Planck dalam menjelaskan radiasi benda hitam. 10 menit
2 Kegiatan Inti
1. Peserta didik (dibimbing oleh guru) mendiskusikan aplikasi hukum Rayleigh-Jeans.
2. Perwakilan peserta didik diminta untuk menyebutkan hukum Rayleigh-Jeans.
3. Peserta didik memperhatikan penerapan hukum Rayleigh-Jeans dalam menjelaskan radiasi benda hitam yang disampaikan oleh guru.
4. Peserta didik (dibimbing oleh guru) mendiskusikan aplikasi teori Planck.
5. Peserta didik memperhatikan penerapan teori Planck dalam menjelaskan radiasi benda hitam yang disampaikan oleh guru.
6. Peserta didik memperhatikan penjelasan guru mengenai fenomena pergeseran Wien melalui teori Planck.
7. Peserta didik dalam setiap kelompok mendiskusikan perbedaan pandangan Rayleigh-Jeans dan Planck mengenai radiasi benda hitam.
8. Peserta didik mempresentasikan hasil diskusi kelompok secara klasikal.
9. Guru menanggapi hasil diskusi kelompok peserta didik dan memberikan informasi yang sebenarnya.
10. Peserta didik memperhatikan contoh soal aplikasi teori Planck yang disampaikan oleh guru.
11. Guru memberikan beberapa soal aplikasi teori Planck untuk dikerjakan oleh peserta didik.
12. Guru mengoreksi jawaban peserta didik apakah sudah benar atau belum. Jika masih ada peserta didik yang belum dapat menjawab dengan benar, guru dapat langsung memberikan bimbingan.
13. Peserta didik dalam setiap kelompok mendiskusikan aplikasi dari sifat radiasi benda hitam dalam kehidupan sehari-hari.
14. Setiap kelompok diminta untuk mempresentasikan hasil diskusinya di depan kelompok yang lain.
15. Guru menanggapi hasil diskusi kelompok peserta didik dan memberikan informasi yang sebenarnya. 70 menit
3 Kegiatan Penutup
1. Guru memberikan penghargaan kepada kelompok yang memiliki kinerja dan kerjasama yang baik.
2. Peserta didik (dibimbing oleh guru) berdiskusi untuk membuat rangkuman.
3. Guru memberikan tugas rumah berupa latihan soal. 10 menit

PERTEMUAN KETIGA

No. Aktivitas Waktu
1 Kegiatan Pendahuluan
1. Motivasi dan Apersepsi:
i. Faktor apakah yang mempengaruhi terjadinya efek fotolistrik?
ii. Bagaimana mengukur energi kinetik maksimum elektron foto secara kuantitatif?
2. Prasyarat pengetahuan:
i. Apakah yang dimaksud dengan efek fotolistrik?
ii. Bagaimana diagram eksperimen fotolistrik? 10 menit
2 Kegiatan Inti
1. Guru membimbing peserta didik dalam pembentukan kelompok.
2. Peserta didik (dibimbing oleh guru) mendiskusikan pengertian efek fotolistrik.
3. Peserta didik memperhatikan penjelasan guru mengenai efek fotolistrik menurut teori elektrodinamika klasik.
4. Peserta didik memperhatikan teori efek fotolistrik menurut Einstein yang disampaikan oleh guru.
5. Peserta didik dalam setiap kelompok mendiskusikan perbedaan teori efek fotolistrik menurut teori elektrodinamika klasik dan Einstein.
6. Peserta didik mempresentasikan hasil diskusi kelompok secara klasikal.
7. Guru menanggapi hasil diskusi kelompok peserta didik dan memberikan informasi yang sebenarnya.
8. Peserta didik memperhatikan contoh soal menentukan energi kinetik maksimum elektron yang disampaikan oleh guru.
9. Guru memberikan beberapa soal menentukan energi kinetik maksimum elektron untuk dikerjakan oleh peserta didik.
10. Guru mengoreksi jawaban peserta didik apakah sudah benar atau belum. Jika masih ada peserta didik yang belum dapat menjawab dengan benar, guru dapat langsung memberikan bimbingan.

11. Peserta didik memperhatikan penjelasan guru mengenai eksperimen mengukur energi kinetik maksimum. 70 menit
3 Kegiatan Penutup
1. Guru memberikan penghargaan kepada kelompok yang memiliki kinerja dan kerjasama yang baik.
2. Peserta didik (dibimbing oleh guru) berdiskusi untuk membuat rangkuman.
3. Guru memberikan tugas rumah berupa latihan soal. 10 menit

E. Sumber Belajar
a. Buku Fisika SMA dan MA Inspirasi(XIIB,h. 3-14).
b. Buku referensi yang relefan.

F. Penilaian Hasil Belajar

a. Teknik Penilaian:
1. Tes tertulis

b. Bentuk Instrumen:
1. Tes PG
2. Tes isian
3. Tes uraian

c. Contoh Instrumen:

1. Contoh PG
Frekuensi cahaya tampak 6 x 1014 Hz. Konstanta Planck 6,6 x 10-34 Js, maka besar energi foton adalah ….
A. 1,975 x 10-17 J
B. 2,975 x 10-18 J
C. 3,975 x 10-19 J
D. 4,975 x 10-19 J
E. 5,975 x 10-19 J

2. Contoh isian
Suatu benda hitam pada suhu 127 0C memancarkan energi 180 J/s. Jika suhu benda terus berkurang hingga menjadi 27 0C. Energi yang dipancarkan sekarang menjadi ….

3. Contoh tugas rumah
Jelaskan aplikasi dari sifat radiasi benda hitam dalam kehidupan sehari-hari.

……………,……………….

Mengetahui Kepala SMA Guru MataPelajaran

………………………… ……………………………
NIP. NIP.

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
( RPP )

Sekolah : SMA
Kelas / Semester : XII (Dua belas) / Semester II
Mata Pelajaran : FISIKA
Alokasi Waktu : 2 x 45 menit

Standar Kompetensi
3. Menganalisis berbagai besaran fisis pada gejala kuantum dan batas-batas berlakunya relativitas Einstein dalam paradigma fisika modern.

Kompetensi Dasar
3.2 Mendeskripsikan perkembangan teori atom.

Indikator
1. Mendeskripsikan karakteristik teori atom Thomson, Rutherford, dan Niels Bohr.
2. Menghitung perubahan energi elektron yang mengalami eksitasi.
3. Menghitung panjang gelombang terbesar dan terkecil pada deret Balmer, Lyman, Paschen, Brackett, dan Pfund pada spektrum atom hidrogen.

A. Tujuan Pembelajaran
Peserta didik dapat:
1. Menjelaskan sifat-sifat sinar katoda.
2. Menjelaskan percobaan Thompson dalam mengukur perbandingan muatan dan massa elektron.
3. Menjelaskan percobaan Milikan dalam menentukan muatan dan massa elektron.
4. Menjelaskan perkembangan teori atom.
5. Membedakan keadaan dasar, keadaan tereksitasi, dan keadaan terionisasi.
6. Membedakan peristiwa eksitasi dan deeksitasi.
7. Menjelaskan deret spektrum atom hidrogen.
8. Membedakan deret Balmer, Lyman, Paschen, Brackett, dan Pfund.
9. Menjelaskan efek Zeeman.
10. Membedakan bilangan kuantum utama, orbital, magnetik, dan spin.
11. Menjelaskan pengertian kaidah seleksi.
12. Menyebutkan larangan Pauli.
13. Membedakan kulit dan subkulit.
14. Menjelaskan pengertian konfigurasi elektron.
15. Menuliskan notasi singkat konfigurasi elektron.

B. Materi Pembelajaran
Teori Atom

C. Metode Pembelajaran
1. Model : a. Direct Instruction (DI)
b. Cooperative Learning
2. Metode : a. Diskusi kelompok
b. Ceramah

D. Langkah-langkah Kegiatan

PERTEMUAN PERTAMA

No. Aktivitas Waktu
1 Kegiatan Pendahuluan
1. Motivasi dan Apersepsi:
i. Apakah sinar katoda dapat dibelokkan oleh medan listrik dan medan magnet?
ii. Apakah atom merupakan komponen terkecil penyusun materi?
2. Prasyarat pengetahuan:
i. Sebutksn sifat-sifat sinar katoda.
ii. Bagaimana perkembangan teori atom? 10 menit
2 Kegiatan Inti
1. Guru membimbing peserta didik dalam pembentukan kelompok.
2. Peserta didik (dibimbing oleh guru) mendiskusikan sinar katoda.
3. Peserta didik memperhatikan penjelasan guru mengenai sifat-sifat sinar katoda.
4. Peserta didik memperhatikan penjelasan percobaan Thompson dalam mengukur perbandingan muatan dan massa elektron yang disampaikan oleh guru.
5. Guru menjelaskan percobaan Milikan dalam menentukan muatan dan massa elektron.
6. Peserta didik memperhatikan contoh soal menentukan besar dan jumlah muatan yang disampaikan oleh guru.
7. Guru memberikan beberapa soal menentukan besar dan jumlah muatan untuk dikerjakan oleh peserta didik.
8. Guru mengoreksi jawaban peserta didik apakah sudah benar atau belum. Jika masih terdapat peserta didik yang belum dapat menjawab dengan benar, guru dapat langsung memberikan bimbingan.
9. Peserta didik memperhatikan penjelasan perkembangan teori atom (model atom Thompson, Rutherford, dan Bohr) yang disampaikan oleh guru.
10. Peserta didik secara berkelompok membuat kesimpulan mengenai perkembangan teori atom.
11. Peserta didik mempresentasikan hasil diskusi kelompok secara klasikal.
12. Guru menanggapi hasil diskusi kelompok peserta didik dan memberikan informasi yang sebenarnya.
13. Peserta didik memperhatikan contoh soal menentukan energi atom hidrogen pada tingkat ke-n yang disampaikan oleh guru.
14. Guru memberikan beberapa soal menentukan energi atom hidrogen pada tingkat ke-n untuk dikerjakan oleh peserta didik.
15. Guru mengoreksi jawaban peserta didik apakah sudah benar atau belum. Jika masih terdapat peserta didik yang belum dapat menjawab dengan benar, guru dapat langsung memberikan bimbingan.
70 menit
3 Kegiatan Penutup
1. Peserta didik (dibimbing oleh guru) berdiskusi untuk membuat rangkuman.
2. Guru memberikan penghargaan kepada kelompok yang memiliki kinerja dan kerjasama yang baik.
3. Guru memberikan tugas rumah berupa latihan soal. 10 menit

PERTEMUAN KEDUA

No. Aktivitas Waktu
1 Kegiatan Pendahuluan
1. Motivasi dan Apersepsi:
i. Apa yang terjadi jika atom hidrogen diberikan energi yang cukup besar?
ii. Bagaimana cara menentukan besar momentum sudut elektron?
2. Prasyarat pengetahuan:
i. Apakah yang dimaksud dengan eksitasi?
ii. Apakah yang dimaksud dengan bilangan kuantum orbital?
10 menit
2 Kegiatan Inti
1. Guru membimbing peserta didik dalam pembentukan kelompok.
2. Peserta didik (dibimbing oleh guru) mendiskusikan pengertian keadaan dasar, keadaan tereksitasi, dan keadaan terionisasi.
3. Perwakilan dari tiap kelompok diminta untuk membedakan peristiwa eksitasi dan deeksitasi.
4. Peserta didik (dibimbing oleh guru) mendiskusikan deret spektrum atom hidrogen.
5. Peserta didik memperhatikan penjelasan guru mengenai perbedaan deret Balmer, Lyman, Paschen, Brackett, dan Pfund.
6. Peserta didik memperhatikan contoh soal menentukan panjang gelombang dan energi yang dipancarkan untuk masing-masing deret yang disampaikan oleh guru.
7. Guru memberikan beberapa soal menentukan panjang gelombang dan energi yang dipancarkan untuk masing-masing deret untuk dikerjakan oleh peserta didik.
8. Guru mengoreksi jawaban peserta didik apakah sudah benar atau belum. Jika masih terdapat peserta didik yang belum dapat menjawab dengan benar, guru dapat langsung memberikan bimbingan.
9. Peserta didik (dibimbing oleh guru) mendiskusikan efek Zeeman.
10. Perwakilan peserta didik diminta untuk menyebutkan bilangan kuantum.
11. Peserta didik memperhatikan penjelasan guru mengenai karakteristik bilangan kuantum (utama, orbital, magnetik, dan spin).
12. Peserta didik memperhatikan contoh soal menentukan bilangan kuantum dari sebuah elektron yang disampaikan oleh guru.
13. Guru memberikan beberapa soal menentukan bilangan kuantum dari sebuah elektron untuk dikerjakan oleh peserta didik.
14. Guru mengoreksi jawaban peserta didik apakah sudah benar atau belum. Jika masih terdapat peserta didik yang belum dapat menjawab dengan benar, guru dapat langsung memberikan bimbingan.
70 menit
3 Kegiatan Penutup
1. Guru memberikan penghargaan kepada kelompok yang memiliki kinerja dan kerjasama yang baik.
2. Peserta didik (dibimbing oleh guru) berdiskusi untuk membuat rangkuman.
3. Guru memberikan tugas rumah berupa latihan soal. 10 menit

PERTEMUAN KETIGA

No. Aktivitas Waktu
1 Kegiatan Pendahuluan
1. Motivasi dan Apersepsi:
i. Apakah elektron dapat berpindah dari satu keadaan ke sembarang keadaan lain?
ii. Bagaimana aturan menuliskan notasi singkat konfigurasi elektron?
2. Prasyarat pengetahuan:
i. Apakah yang dimaksud dengan kaidah seleksi?
ii. Apakah yang dimaksud dengan konfigurasi elektron?
10 menit
2 Kegiatan Inti
1. Peserta didik (dibimbing oleh guru) mendiskusikan kaidah seleksi.
2. Perwakilan peserta didik diminta untuk menyebutkan larangan Pauli.
3. Peserta didik memperhatikan penjelasan guru mengenai penempatan elektron-elektron dalam sebuah atom.
4. Peserta didik memperhatikan contoh soal penempatan elektron-elektron dalam sebuah atom yang disampaikan oleh guru.
5. Peserta didik (dibimbing oleh guru) mendiskusikan perbedaan kulit dan subkulit.
6. Perwakilan peserta didik diminta untuk menjelaskan pengertian konfigurasi elektron.
7. Peserta didik memperhatikan penulisan notasi singkat konfigurasi elektron yang disampaikan oleh guru.
8. Peserta didik memperhatikan contoh soal menentukan konfigurasi elektron yang disampaikan oleh guru.
9. Guru memberikan beberapa soal menentukan konfigurasi elektron untuk dikerjakan oleh peserta didik.
10. Guru mengoreksi jawaban peserta didik apakah sudah benar atau belum. Jika masih terdapat peserta didik yang belum dapat menjawab dengan benar, guru dapat langsung memberikan bimbingan. 70 menit
3 Kegiatan Penutup
1. Peserta didik (dibimbing oleh guru) berdiskusi untuk membuat rangkuman.
2. Guru memberikan tugas rumah berupa latihan soal. 10 menit

E. Sumber Belajar

a. Buku Fisika SMA dan MA Jl. 3B (Esis) halaman 63-86
b. Buku referensi yang relevan
c. Lingkungan

F. Penilaian Hasil Belajar

a. Teknik Penilaian:
1. Tes tertulis
2. Penugasan
b. Bentuk Instrumen:
1. Tes PG
2. Tes uraian
3. Tugas rumah

c. Contoh Instrumen:
1. Contoh tes PG
Sebuah pesawat luar angkasa bergerak dengan kecepatan 0,1 c. Jika penumpang berjalan sejauh 50 m, maka jarak menurut pengamat di bumi adalah ….
A. 49,8 m D. 42,8 m
B. 39,8 m E. 41,8 m
C. 39,9 m

2. Contoh tes uraian
Sebuah partikel bergerak sedemikian cepat sehingga energi totalnya mencapai 1,1 kali energi diamnya. Hitunglah:
A. kecepatan gerak partikel
B. eenergi kinetik partikel
3. Contoh tugas rumah
Buatlah artikel tentang penerapan kesetaraan massa dan energi pada teknologi nuklir.

…………………….,……………….

Mengetahui Kepala SMA Guru Mata Pelajaran

……………………………………. ………………………………………..
NIP. NIP.

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
( RPP )

Sekolah :
Kelas / Semester : XII (Dua belas) / Semester II
Mata Pelajaran : FISIKA
Alokasi Waktu : 2 x 45 menit

Standar Kompetensi
4. Menunjukkan penerapan konsep fisika inti dan radioaktivitas dalam teknologi dan kehidupan sehari-hari.

Kompetensi Dasar
4.1 Mengidentifikasi karakteristik inti atom dan radioaktivitas.

Indikator
1. Mendeskripsikan karakteristik inti atom.
2. Mendeskripsikan karakteristik radioaktivitas.
3. Mendeskripsikan prinsip kesetaraan massa dan energi pada konsep energi ikat inti.

A. Tujuan Pembelajaran
Peserta didik dapat:
1. Menjelaskan pengertian nukleon.
2. Menjelaskan konsep partikel penyusun atom.
3. Membedakan nomor atom dan nomor massa atom.
4. Menghitung jumlah proton, elektron, dan neutron suatu atom berdasarkan nomor atom dan nomor massanya.
5. Menjelaskan konsep isotop, isoton, dan isobar pada atom.
6. Mengklasifikasikan unsur ke dalam isotop, isoton, dan isobar.
7. Menghitung jari-jari inti atom berdasarkan nomor massa atom.
8. Menjelaskan konsep satuan massa atom.
9. Menjelaskan pengertian defek massa.
10. Menghitung energi ikat rata-rata per nukleon.
11. Menjelaskan pengertian radioaktivitas.
12. Menganalisis peristiwa radioaktivitas yang terjadi pada inti atom yang tidak stabil.
13. Membedakan peluruhan alfa, beta, dan gamma.
14. Menghitung laju peluruhan dan waktu paroh pada inti atom yang tidak stabil.

B. Materi Pembelajaran
Inti Atom dan Radioaktivitas

C. Metode Pembelajaran
1. Model : a. Direct Instruction (DI)
b. Cooperative Learning
2. Metode : a. Diskusi kelompok
b. Observasi
c. Ceramah
D. Langkah-langkah Kegiatan
PERTEMUAN PERTAMA
No. Aktivitas Waktu
1 Kegiatan Pendahuluan
1. Motivasi dan Apersepsi:
i. Apakah partikel penyusun inti atom?
ii. Mengapa isotop-isotop dari unsur yang sama mempunyai sifat kimia yang sama?
2. Prasyarat pengetahuan:
i. Apakah yang dimaksud dengan nukleon?
ii. Apakah yang dimaksud dengan isotop? 10 menit
2 Kegiatan Inti
1. Guru membimbing peserta didik dalam pembentukan kelompok.
2. Peserta didik (dibimbing oleh guru) mendiskusikan pengertian nukleon.
3. Peserta didik memperhatikan penjelasan guru mengenai partikel penyusun inti.
4. Peserta didik (dibimbing oleh guru) mendiskusikan perbedaan nomor atom dan nomor massa atom.
5. Peserta didik memperhatikan penjelasan guru menentukan jumlah proton, elektron, dan neutron suatu atom berdasarkan nomor atom dan nomor massanya.
6. Peserta didik memperhatikan contoh soal menentukan jumlah proton, elektron, dan neutron suatu atom berdasarkan nomor atom dan nomor massanya yang disampaikan oleh guru.
7. Guru memberikan beberapa soal menentukan jumlah proton, elektron, dan neutron suatu atom berdasarkan nomor atom dan nomor massanya untuk dikerjakan oleh peserta didik.
8. Guru mengoreksi jawaban peserta didik apakah sudah benar atau belum. Jika masih ada peserta didik yang belum dapat menjawab dengan benar, guru dapat langsung memberikan bimbingan.
9. Peserta didik (dibimbing oleh guru) mendiskusikan pengertian isotop.
10. Peserta didik memperhatikan penjelasan guru mengenai contoh isotop umum dari beberapa unsur.
11. Peserta didik mendiskusikan dengan kelompoknya mengenai pengertian isobar dan isoton.
12. Peserta didik dalam setiap kelompok mendiskusikan contoh isoton dan isobar dari beberapa unsur.
13. Peserta didik mempresentasikan hasil diskusi kelompok secara klasikal.
14. Guru menanggapi hasil diskusi kelompok peserta didik dan memberikan informasi yang sebenarnya.
15. Peserta didik memperhatikan contoh soal mengklasifikasikan unsur ke dalam isotop, isoton, dan isobar yang disampaikan oleh guru.
16. Guru memberikan beberapa soal mengklasifikasikan unsur ke dalam isotop, isoton, dan isobar untuk dikerjakan oleh peserta didik.
17. Guru mengoreksi jawaban peserta didik apakah sudah benar atau belum. Jika masih ada peserta didik yang belum dapat menjawab dengan benar, guru dapat langsung memberikan bimbingan.

70 menit
3 Kegiatan Penutup
1. Guru memberikan penghargaan kepada kelompok yang memiliki kinerja dan kerjasama yang baik.
2. Peserta didik (dibimbing oleh guru) berdiskusi untuk membuat rangkuman.
3. Guru memberikan tugas rumah berupa latihan soal. 10 menit

PERTEMUAN KEDUA

No. Aktivitas Waktu
1 Kegiatan Pendahuluan
1. Motivasi dan Apersepsi:
i. Mengapa massa inti hasil pengukuran selalu lebih kecil di banding perhitungan?
ii. Atom apakah yang memiliki inti paling stabil?
2. Prasyarat pengetahuan:
i. Apakah yang dimaksud dengan defek massa?
ii. Bagaimana grafik energi ikat rata-rata per nukleon?
10 menit
2 Kegiatan Inti
1. Peserta didik (dibimbing oleh guru) mendiskusikan ukuran inti.
2. Peserta didik memperhatikan penjelasan guru menghitung jari-jari inti atom berdasarkan nomor massa atom.
3. Peserta didik memperhatikan contoh soal menentukan jari-jari inti atom berdasarkan nomor massa atom yang disampaikan oleh guru.
4. Guru memberikan beberapa soal menentukan jari-jari inti atom berdasarkan nomor massa atom untuk dikerjakan oleh peserta didik.
5. Guru mengoreksi jawaban peserta didik apakah sudah benar atau belum. Jika masih terdapat peserta didik yang belum dapat menjawab dengan benar, guru dapat langsung memberikan bimbingan.
6. Peserta didik (dibimbing oleh guru) mendiskusikan satuan massa atom.
7. Perwakilan peserta didik diminta untuk menjelaskan pengertian defek massa.
8. Peserta didik memperhatikan penjelasan guru mendapatkan rumusan energi ikat rata-rata per nukleon.
9. Peserta didik memperhatikan penjelasan guru mengenai grafik energi ikat rata-rata per nukleon.
10. Peserta didik memperhatikan contoh soal menentukan energi ikat per nukleon dari sebuah atom yang disampaikan oleh guru.
11. Guru memberikan beberapa soal menentukan energi ikat per nukleon dari sebuah atom untuk dikerjakan oleh peserta didik.
12. Guru mengoreksi jawaban peserta didik apakah sudah benar atau belum. Jika masih terdapat peserta didik yang belum dapat menjawab dengan benar, guru dapat langsung memberikan bimbingan.
13. Peserta didik memperhatikan penjelasan guru mengenai kurva kestabilan unsur-unsur berdasarkan nomor atom 70 menit
3 Kegiatan Penutup
1. Peserta didik (dibimbing oleh guru) berdiskusi untuk membuat rangkuman.
2. Guru memberikan tugas rumah berupa latihan soal.
10 menit

PERTEMUAN KETIGA

No. Aktivitas Waktu
1 Kegiatan Pendahuluan
1. Motivasi dan Apersepsi:
i. Apakah peristiwa radioaktivitas terjadi pada inti yang tidak stabil?
ii. Sinar apakah yang membelok sesuai dengan arah pembelokan muatan negatif?
2. Prasyarat pengetahuan:
i. Apakah yang dimaksud dengan radioaktivitas?
ii. Apakah yang dimaksud dengan sinar beta (β)?
10 menit
2 Kegiatan Inti
1. Guru membimbing peserta didik dalam pembentukan kelompok.
2. Peserta didik (dibimbing oleh guru) mendiskusikan pengertian radioaktivitas.
3. Peserta didik memperhatikan penjelasan guru mengenai peristiwa radioaktivitas yang terjadi pada inti atom yang tidak stabil.
4. Peserta didik dalam setiap kelompok mendiskusikan perbedaan sinar alfa (α), sinar beta (β), dan sinar gamma (γ).
5. Peserta didik mempresentasikan hasil diskusi kelompok secara klasikal.
6. Guru menanggapi hasil diskusi kelompok peserta didik dan memberikan informasi yang sebenarnya.
7. Peserta didik memperhatikan perbedaan peluruhan alfa, beta, dan gamma yang disampaikan oleh guru.
8. Peserta didik memperhatikan contoh soal menuliskan reaksi lengkap dari peluruhan alfa, beta, dan gamma yang disampaikan oleh guru.
9. Guru memberikan beberapa soal menuliskan reaksi lengkap dari peluruhan alfa, beta, dan gamma untuk dikerjakan oleh peserta didik.
10. Guru mengoreksi jawaban peserta didik apakah sudah benar atau belum. Jika masih terdapat peserta didik yang belum dapat menjawab dengan benar, guru dapat langsung memberikan bimbingan.
70 menit
3 Kegiatan Penutup
1. Guru memberikan penghargaan kepada kelompok yang memiliki kinerja dan kerjasama yang baik.
2. Peserta didik (dibimbing oleh guru) berdiskusi untuk membuat rangkuman.
3. Guru memberikan tugas rumah berupa latihan soal. 10 menit

PERTEMUAN KEEMPAT

No. Aktivitas Waktu
1 Kegiatan Pendahuluan
1. Motivasi dan Apersepsi:
i. Faktor apakah yang mempengaruhi laju peluruhan suatu sampel radioaktif?
ii. Dapatkah suatu unsur radioaktif meluruh secara terus-menerus?
2. Prasyarat pengetahuan:
i. Apakah yang dimaksud dengan peluruhan?
ii. Apakah yang dimaksud dengan deret radioaktif? 10 menit
2 Kegiatan Inti
1. Peserta didik (dibimbing oleh guru) mendiskusikan pengertian peluruhan.
2. Peserta didik memperhatikan penjelasan guru untuk mendapatkan persamaan laju peluruhan.
3. Perwakilan peserta didik diminta untuk menyebutkan faktor yang mempengaruhi laju peluruhan.
4. Peserta didik (dibimbing oleh guru) mendiskusikan pengertian waktu paroh.
5. Peserta didik memperhatikan rumusan untuk mendapatkan persamaan waktu paroh, konstanta peluruhan, dan aktivitas peluruhan yang disampaikan oleh guru.
6. Peserta didik memperhatikan contoh soal menentukan waktu paroh, konstanta peluruhan, dan aktivitas peluruhan yang disampaikan oleh guru.
7. Guru memberikan beberapa soal menentukan waktu paroh, konstanta peluruhan, dan aktivitas peluruhan untuk dikerjakan oleh peserta didik.
8. Guru mengoreksi jawaban peserta didik apakah sudah benar atau belum. Jika masih terdapat peserta didik yang belum dapat menjawab dengan benar, guru dapat langsung memberikan bimbingan.
9. Peserta didik memperhatikan penjelasan guru mengenai deret radioaktif.
70 menit
3 Kegiatan Penutup
1. Peserta didik (dibimbing oleh guru) berdiskusi untuk membuat rangkuman.
2. Guru memberikan tugas rumah berupa latihan soal. 10 menit

E. Sumber Belajar

a. Buku Fisika SMA dan MA Jl. 3B (Esis) halaman 87-118
b. Buku referensi yang relevan
c. Lingkungan

F. Penilaian Hasil Belajar

a. Teknik Penilaian:
1. Tes tertulis

b. Bentuk Instrumen:

1. Tes PG
2. Tes isian
3. Tes uraian

c. Contoh Instrumen:
1. Contoh tes PG
Gambaran dari suatu inti atom dapat diketahui dari ….
A. massa atom
B. nomor atom
C. jumlah nukleon dalam inti
D. nomor atom dan nomor massa
E. semua jawaban salah
2. Contoh tes isian
Ketika inti melakukan peluruhan beta negatif, maka sifat inti yang dihasilkan dibandingkan inti asal adalah ….
3. Contoh tes uraian
Hituglah defek massa, energi ikat, dan energi ikat per nukleon dari:
a. inti nitrogen b. inti helium

………………,……………….

Mengetahui Kepala SMA Guru Mata Pelajaran

…………………………………… ……………………………..
NIP. NIP.

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
( RPP )

Sekolah :
Kelas / Semester : XII (Dua belas) / Semester II
Mata Pelajaran : FISIKA
Alokasi Waktu : 2 x 45 menit

Standar Kompetensi
4. Menunjukkan penerapan konsep fisika inti dan radioaktivitas dalam teknologi dan kehidupan sehari-hari.

Kompetensi Dasar
4.2 Mendeskripsikan pemanfaatan radioaktif dalam teknologi dan kehidupan sehari-hari.

Indikator
1. Mendeskripsikan skema reaktor nuklir dan manfaatnya.
2. Mendeskripsikan karakteristik radioisotop.
3. Mendeskripsikan pemanfaatan radioaktif dalam bidang kesehatan, industri, dan pertanian.
4. Mendeskripsikan penghitungan umur fosil atau batuan dengan menggunakan prinsip waktu paroh.
5. Menunjukkan bahaya radioaktif dan cara mengurangi risikonya.

A. Tujuan Pembelajaran

Peserta didik dapat:
1. Menjelaskan pengertian transmutasi.
2. Menjelaskan syarat terjadinya reaksi inti.
3. Menuliskan persamaan reaksi inti.
4. Membedakan reaksi eksotermik dan reaksi endotermik.
5. Menjelaskan pengertian fisi nuklir.
6. Menjelaskan proses fisi nuklir.
7. Menjelaskan proses reaksi fisi berantai.
8. Menyebutkan moderator reaktor fisi.
9. Menjelaskan skema reaktor nuklir dan manfaatnya.
10. Menjelaskan pengertian fusi nuklir.
11. Menjelaskan proses fusi nuklir.
12. Menjelaskan efek yang ditimbulkan oleh radiasi.
13. Menjelaskan pengertian dosis terabsorpsi.
14. Menjelaskan pengertian keefektifan biologi relatif atau faktor kualitas.
15. Menjelaskan pengertian dosis efektif.
16. Menjelaskan pemanfaatan radioaktif dalam bidang kesehatan, industri, dan pertanian.
17. Menghitung umur fosil atau batuan dengan menggunakan prinsip waktu paroh.
18. Menjelaskan bahaya radioaktif dan cara mengurangi risikonya.

B. Materi Pembelajaran
Energi Inti dan Efek Radiasi

C. Metode Pembelajaran
1. Model : a. Direct Instruction (DI)
b. Cooperative Learning
2. Metode : a. Diskusi kelompok
b. Observasi
c. Ceramah

D. Langkah-langkah Kegiatan

PERTEMUAN PERTAMA

No. Aktivitas Waktu
1 Kegiatan Pendahuluan
1. Motivasi dan Apersepsi:
i. Bagaimana cara menulis persamaan reaksi inti?
ii. Bagaimana cara kerja moderator dalam reaktor nuklir?
2. Prasyarat pengetahuan:
i. Apakah yang dimaksud dengan reaksi inti?
ii. Apakah yang dimaksud dengan moderator?
10 menit
2 Kegiatan Inti
1. Guru membimbing peserta didik dalam pembentukan kelompok.
2. Peserta didik (dibimbing oleh guru) mendiskusikan pengertian transmutasi.
3. Peserta didik memperhatikan penulisan persamaan reaksi inti yang disampaikan oleh guru.
4. Peserta didik memperhatikan contoh soal menentukan jenis partikel yang belum ditulis dalam persamaan reaksi inti yang disampaikan oleh guru.
5. Peserta didik dalam setiap kelompok mendiskusikan perbedaan reaksi eksotermik dan reaksi endotermik.
6. Peserta didik mempresentasikan hasil diskusi kelompok secara klasikal.
7. Guru menanggapi hasil diskusi kelompok peserta didik dan memberikan informasi yang sebenarnya.
8. Peserta didik memperhatikan penjelasan guru mendapatkan persamaan energi yang dihasilkan dari reaksi inti.
9. Peserta didik memperhatikan contoh soal menentukan energi yang dihasilkan dari reaksi inti yang disampaikan oleh guru.
10. Guru memberikan beberapa soal menentukan energi yang dihasilkan dari reaksi inti untuk dikerjakan oleh peserta didik.
11. Guru mengoreksi jawaban peserta didik apakah sudah benar atau belum. Jika masih terdapat peserta didik yang belum dapat menjawab dengan benar, guru dapat langsung memberikan bimbingan.
12. Peserta didik (dibimbing oleh guru) mendiskusikan pengertian reaksi fisi nuklir.
13. Peserta didik memperhatikan proses reaksi fisi nuklir dan proses reaksi fisi berantai yang disampaikan oleh guru.
14. Peserta didik (dibimbing oleh guru) mendiskusikan pengertian moderator.
15. Perwakilan dari tiap kelompok diminta untuk menyebutkan moderator reaktor fisi.
16. Peserta didik memperhatikan penjelasan guru mengenai skema reaktor nuklir dan manfaatnya.
70 menit
3 Kegiatan Penutup
1. Guru memberikan penghargaan kepada kelompok yang memiliki kinerja dan kerjasama yang baik.
2. Peserta didik (dibimbing oleh guru) berdiskusi untuk membuat rangkuman.
3. Guru memberikan tugas rumah berupa latihan soal. 10 menit

PERTEMUAN KEDUA

No. Aktivitas Waktu
1 Kegiatan Pendahuluan
1. Motivasi dan Apersepsi:
i. Apakah syarat terjadinya reaksi fusi nuklir?
ii. Bagaimana cara mengukur efek radiasi?
2. Prasyarat pengetahuan:
i. Apakah yang dimaksud dengan fusi nuklir?
ii. Apakah yang dimaksud dengan dosis terabsorpsi?
10 menit
2 Kegiatan Inti
1. Peserta didik (dibimbing oleh guru) mendiskusikan pengertian fusi nuklir.
2. Peserta didik memperhatikan penjelasan guru mengenai proses fusi nuklir.
3. Peserta didik memperhatikan penjelasan kurva energi ikat per nukleon sebagai fungsi nomor massa yang disampaikan oleh guru.
4. Peserta didik memperhatikan contoh soal menentukan energi yang dihasilkan dari reaksi fisi dan fusi yang disampaikan oleh guru.
5. Guru memberikan beberapa soal menentukan energi yang dihasilkan dari reaksi fisi dan reaksi fusi untuk dikerjakan oleh peserta didik.
6. Guru mengoreksi jawaban peserta didik apakah sudah benar atau belum. Jika masih terdapat peserta didik yang belum dapat menjawab dengan benar, guru dapat langsung memberikan bimbingan.
7. Peserta didik (dibimbing oleh guru) mendiskusikan efek yang ditimbulkan oleh radiasi.
8. Peserta didik memperhatikan penjelasan guru mengenai pengertian dosis terabsorpsi.
9. Perwakilan peserta didik diminta untuk menyebutkan satuan dosis terabsorpsi.
10. Peserta didik memperhatikan penjelasan guru mengenai pengertian keefektifan biologi relatif atau faktor kualitas dan dosis efektif.
11. Peserta didik memperhatikan contoh soal menentukan dosis terabsorpsi dan dosis efektif yang disampaikan oleh guru.

12. Guru memberikan beberapa soal menentukan dosis terabsorpsi dan dosis efektif untuk dikerjakan oleh peserta didik.
13. Guru mengoreksi jawaban peserta didik apakah sudah benar atau belum. Jika masih terdapat peserta didik yang belum dapat menjawab dengan benar, guru dapat langsung memberikan bimbingan.
70 menit
3 Kegiatan Penutup
1. Peserta didik (dibimbing oleh guru) berdiskusi untuk membuat rangkuman.
2. Guru memberikan tugas rumah berupa latihan soal. 10 menit

PERTEMUAN KETIGA

No. Aktivitas Waktu
1 Kegiatan Pendahuluan
1. Motivasi dan Apersepsi:
i. Apakah manfaat radioisotop dalam kehidupan sehari-hari?
ii. Isotop karbon berapakah yang digunakan untuk menentukan umur fosil?
2. Prasyarat pengetahuan:
i. Apakah yang dimaksud dengan radioisotop?
ii. Bagaimana menentukan umur fosil dengan karbon?
10 menit
2 Kegiatan Inti
1. Guru membimbing peserta didik dalam pembentukan kelompok, masing-masing kelompok terdiri dari 3-4 siswa laki-laki dan perempuan yang berbeda kemampuannya.
2. Peserta didik memperhatikan karakteristik radioisotop yang disampaikan oleh guru.
3. Peserta didik (dibimbing oleh guru) mendiskusikan pemanfaatan, bahaya, dan cara mengurangi risiko radioaktif dalam kehidupan sehari-hari.
4. Guru membagi tugas kelompok:
i. 2 kelompok diberi tugas untuk menjelaskan pemanfaatan radioaktif dalam bidang kesehatan.

ii. 2 kelompok diberi tugas untuk menjelaskanpemanfaatan radioaktif dalam bidang industri.
iii. 2 kelompok diberi tugas untuk menjelaskan pemanfaatan radioaktif dalam bidang pertanian.
iv. 2 kelompok diberi tugas untuk menjelaskan pemanfaatan radioaktif untuk menghitung umur fosil dengan menggunakan prinsip waktu paroh.
v. 2 kelompok diberi tugas untuk menjelaskan bahaya radioaktif dan cara mengurangi risikonya.
5. Tugas kelompok diberikan 1 minggu sebelum proses pembelajaran dilaksanakan.
6. Setiap kelompok diminta untuk menuliskannya dalam bentuk karya tulis.
7. Setiap kelompok diminta untuk mempresentasikan hasil diskusinya di depan kelompok yang lain.
8. Guru menanggapi hasil diskusi kelompok peserta didik dan memberikan informasi yang sebenarnya.
70 menit
3 Kegiatan Penutup
1. Guru memberikan penghargaan kepada kelompok yang memiliki kinerja dan kerjasama yang baik.
2. Peserta didik (dibimbing oleh guru) berdiskusi untuk membuat rangkuman.
3. Guru memberikan tugas rumah berupa latihan soal. 10 menit

E. Sumber Belajar
a. Buku Fisika SMA dan MA Jl. 3B (Esis) halaman 119-144
b. Buku referensi yang relevan
c. Lingkungan

F. Penilaian Hasil Belajar
a. Teknik Penilaian:
1. Tes tertulis
2. Penugasan
b. Bentuk Instrumen:
1. Tes PG
2. Tes isian
3. Tes uraian
4. Tugas rumah
c. Contoh Instrumen:
1. Contoh tes PG
Waktu paroh C-14 5.730 tahun. Fosil tulang mengandung C-14 sebesar 25%, umur tulang tersebut adalah ….
A. 11.460 tahun D. 2.865 tahun
B. 5.872,5 tahun E. 5.730 tahun
C. 1.432,5 tahun
2. Contoh tes isian
Isotop yang bersifat radioaktif disebut ….
3. Contoh tes uraian
Sebutkan pemanfaatan radioaktif dalam bidang kesehatan, industri, dan pertanian.
4. Contoh tugas rumah
Buatlah poster yang memuat skema reaktor nuklir disertai nama bagian dan fungsinya masing-masing.

……………..,……………….

Mengetahui Kepala SMA Guru Mata Pelajaran

……………………. …………………………
NIP. NIP.

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
( RPP )

Sekolah : SMA
Kelas / Semester : XII (Dua Belas) / II
Mata Pelajaran : FISIKA
Alokasi Waktu : 2 x 45 menit

Standar Kompetensi
3. Menganalisis berbagai besaran fisis pada gejala kuantum dan batas batas berlakunya relativitas Einstein dalam paradigma fisika modern.

Kompetensi Dasar
3.1 Menganalisis secara kualitatif gejala kuantum yang mencakup hakikat dan sifat-sifat radiasi benda hitam serta penerapannya.
Indikator
1. Mendeskripsikan fenomena radiasi benda hitam.
2. Mendeskripsikan hipotesis Planck tentang kuantum cahaya.
3. Menerapkan karakteristik radiasi benda hitam untuk menjelaskan gejala pemanasan global.

A. Tujuan Pembelajaran
Peserta didik dapat:
1. Menjelaskan pengertian benda hitam.
2. Menjelaskan karakteristik radiasi pada benda hitam.
3. Menjelaskan hubungan antara intensitas radiasi benda hitam terhadap panjang gelombang pada berbagai suhu.
4. Menjelaskan aplikasi hukum pergeseran Wien.
5. Menjelaskan aplikasi hukum Stefan-Boltzmann.
6. Menjelaskan aplikasi hukum Rayleigh-Jeans.
7. Menganalisis fenomena pergeseran Wien melalui teori Planck.
8. Membedakan pandangan Rayleigh-Jeans dan Planck mengenai radiasi benda hitam.
9. Menjelaskan aplikasi dari sifat radiasi benda hitam dalam kehidupan sehari-hari.
10. Menjelaskan pengertian efek fotolistrik.
11. Membedakan teori efek fotolistrik menurut teori elektrodinamika klasik dan Enstein.
12. Menjelaskan eksperimen mengukur energi kinetik maksimum.

B. Materi Pembelajaran
Pendahuluan Teori Kuantum

C. Metode Pembelajaran
1. Model : a. Direct Instruction (DI).
b. Cooperative Learning.
2. Metode : a. Diskusi kelompok.
b. Ceramah.
c. Observasi.

D. Langkah-langkah Kegiatan
PERTEMUAN PERTAMA
No. Aktivitas Waktu
1 Kegiatan Pendahuluan
1. Motivasi dan Apersepsi:
i. Apakah setiap benda yang panas memancarkan gelombang elektromagnetik?
ii. Bagaimana hubungan antara kerapatan energi yang dipancarkan benda hitam dengan suhu benda tersebut?
2. Prasyarat pengetahuan:
i. Faktor apakah yang mempengaruhi daya yang dipancarkan gelombang elektromagnetik?
ii. Sebutkan bunyi hukum Stefan-Boltzmann.
10 menit
2 Kegiatan Inti
1. Peserta didik (dibimbing oleh guru) mendiskusikan pengertian benda hitam.
2. Peserta didik memperhatikan penjelasan karakteristik radiasi pada benda hitam yang disampaikan oleh guru.
3. Peserta didik memperhatikan penjelasan guru mengenai hubungan antara intensitas radiasi benda hitam terhadap panjang gelombang pada berbagai suhu.
4. Peserta didik (dibimbing oleh guru) mendiskusikan aplikasi hukum pergeseran Wien.
5. Perwakilan peserta didik diminta untuk menyebutkan hukum pergeseran Wien.
6. Peserta didik memperhatikan contoh soal aplikasi hukum pergeseran Wien yang disampaikan oleh guru.
7. Peserta didik (dibimbing oleh guru) mendiskusikan aplikasi hukum Stefan-Boltzmann.
8. Perwakilan peserta didik diminta untuk menyebutkan hukum Stefan-Boltzmann.
9. Peserta didik memperhatikan contoh soal aplikasi hukum Stefan-Boltzmann yang disampaikan oleh guru.
10. Guru memberikan beberapa soal aplikasi hukum pergeseran Wien dan Stefan-Boltzmann untuk dikerjakan oleh peserta didik.
11. Guru mengoreksi jawaban peserta didik apakah sudah benar atau belum. Jika masih ada peserta didik yang belum dapat menjawab dengan benar, guru dapat langsung memberikan bimbingan.
50 menit
3 Kegiatan Penutup
1. Peserta didik (dibimbing oleh guru) berdiskusi untuk membuat rangkuman.
2. Guru memberikan tugas rumah berupa latihan soal.
10 menit

PERTEMUAN KEDUA

No. Aktivitas Waktu
1 Kegiatan Pendahuluan
1. Motivasi dan Apersepsi:
i. Bagaimana hubungan kerapatan energi yang dipancarkan benda hitam terhadap suhu dan panjang gelombang?
ii. Mengapa energi getaran atom-atom pada benda hitam tidak dapat memiliki nilai sembarang?

2. Prasyarat pengetahuan:
i. Sebutkan bunyi hukum Rayleigh-Jeans.
ii. Apakah peranan teori Planck dalam menjelaskan radiasi benda hitam. 10 menit
2 Kegiatan Inti
1. Peserta didik (dibimbing oleh guru) mendiskusikan aplikasi hukum Rayleigh-Jeans.
2. Perwakilan peserta didik diminta untuk menyebutkan hukum Rayleigh-Jeans.
3. Peserta didik memperhatikan penerapan hukum Rayleigh-Jeans dalam menjelaskan radiasi benda hitam yang disampaikan oleh guru.
4. Peserta didik (dibimbing oleh guru) mendiskusikan aplikasi teori Planck.
5. Peserta didik memperhatikan penerapan teori Planck dalam menjelaskan radiasi benda hitam yang disampaikan oleh guru.
6. Peserta didik memperhatikan penjelasan guru mengenai fenomena pergeseran Wien melalui teori Planck.
7. Peserta didik dalam setiap kelompok mendiskusikan perbedaan pandangan Rayleigh-Jeans dan Planck mengenai radiasi benda hitam.
8. Peserta didik mempresentasikan hasil diskusi kelompok secara klasikal.
9. Guru menanggapi hasil diskusi kelompok peserta didik dan memberikan informasi yang sebenarnya.
10. Peserta didik memperhatikan contoh soal aplikasi teori Planck yang disampaikan oleh guru.
11. Guru memberikan beberapa soal aplikasi teori Planck untuk dikerjakan oleh peserta didik.
12. Guru mengoreksi jawaban peserta didik apakah sudah benar atau belum. Jika masih ada peserta didik yang belum dapat menjawab dengan benar, guru dapat langsung memberikan bimbingan.
13. Peserta didik dalam setiap kelompok mendiskusikan aplikasi dari sifat radiasi benda hitam dalam kehidupan sehari-hari.
14. Setiap kelompok diminta untuk mempresentasikan hasil diskusinya di depan kelompok yang lain.
15. Guru menanggapi hasil diskusi kelompok peserta didik dan memberikan informasi yang sebenarnya. 70 menit
3 Kegiatan Penutup
1. Guru memberikan penghargaan kepada kelompok yang memiliki kinerja dan kerjasama yang baik.
2. Peserta didik (dibimbing oleh guru) berdiskusi untuk membuat rangkuman.
3. Guru memberikan tugas rumah berupa latihan soal. 10 menit

PERTEMUAN KETIGA

No. Aktivitas Waktu
1 Kegiatan Pendahuluan
1. Motivasi dan Apersepsi:
i. Faktor apakah yang mempengaruhi terjadinya efek fotolistrik?
ii. Bagaimana mengukur energi kinetik maksimum elektron foto secara kuantitatif?
2. Prasyarat pengetahuan:
i. Apakah yang dimaksud dengan efek fotolistrik?
ii. Bagaimana diagram eksperimen fotolistrik? 10 menit
2 Kegiatan Inti
1. Guru membimbing peserta didik dalam pembentukan kelompok.
2. Peserta didik (dibimbing oleh guru) mendiskusikan pengertian efek fotolistrik.
3. Peserta didik memperhatikan penjelasan guru mengenai efek fotolistrik menurut teori elektrodinamika klasik.
4. Peserta didik memperhatikan teori efek fotolistrik menurut Einstein yang disampaikan oleh guru.
5. Peserta didik dalam setiap kelompok mendiskusikan perbedaan teori efek fotolistrik menurut teori elektrodinamika klasik dan Einstein.
6. Peserta didik mempresentasikan hasil diskusi kelompok secara klasikal.
7. Guru menanggapi hasil diskusi kelompok peserta didik dan memberikan informasi yang sebenarnya.
8. Peserta didik memperhatikan contoh soal menentukan energi kinetik maksimum elektron yang disampaikan oleh guru.
9. Guru memberikan beberapa soal menentukan energi kinetik maksimum elektron untuk dikerjakan oleh peserta didik.
10. Guru mengoreksi jawaban peserta didik apakah sudah benar atau belum. Jika masih ada peserta didik yang belum dapat menjawab dengan benar, guru dapat langsung memberikan bimbingan.

11. Peserta didik memperhatikan penjelasan guru mengenai eksperimen mengukur energi kinetik maksimum. 70 menit
3 Kegiatan Penutup
1. Guru memberikan penghargaan kepada kelompok yang memiliki kinerja dan kerjasama yang baik.
2. Peserta didik (dibimbing oleh guru) berdiskusi untuk membuat rangkuman.
3. Guru memberikan tugas rumah berupa latihan soal. 10 menit

E. Sumber Belajar
a. Buku Fisika SMA dan MA Inspirasi(XIIB,h. 3-14).
b. Buku referensi yang relefan.

F. Penilaian Hasil Belajar

a. Teknik Penilaian:
1. Tes tertulis

b. Bentuk Instrumen:
1. Tes PG
2. Tes isian
3. Tes uraian

c. Contoh Instrumen:

1. Contoh PG
Frekuensi cahaya tampak 6 x 1014 Hz. Konstanta Planck 6,6 x 10-34 Js, maka besar energi foton adalah ….
A. 1,975 x 10-17 J
B. 2,975 x 10-18 J
C. 3,975 x 10-19 J
D. 4,975 x 10-19 J
E. 5,975 x 10-19 J

2. Contoh isian
Suatu benda hitam pada suhu 127 0C memancarkan energi 180 J/s. Jika suhu benda terus berkurang hingga menjadi 27 0C. Energi yang dipancarkan sekarang menjadi ….

3. Contoh tugas rumah
Jelaskan aplikasi dari sifat radiasi benda hitam dalam kehidupan sehari-hari.

……………,……………….

Mengetahui Kepala SMA Guru MataPelajaran

………………………… ……………………………
NIP. NIP.

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
( RPP )

Sekolah : SMA
Kelas / Semester : XII (Dua belas) / Semester II
Mata Pelajaran : FISIKA
Alokasi Waktu : 2 x 45 menit

Standar Kompetensi
3. Menganalisis berbagai besaran fisis pada gejala kuantum dan batas-batas berlakunya relativitas Einstein dalam paradigma fisika modern.

Kompetensi Dasar
3.2 Mendeskripsikan perkembangan teori atom.

Indikator
1. Mendeskripsikan karakteristik teori atom Thomson, Rutherford, dan Niels Bohr.
2. Menghitung perubahan energi elektron yang mengalami eksitasi.
3. Menghitung panjang gelombang terbesar dan terkecil pada deret Balmer, Lyman, Paschen, Brackett, dan Pfund pada spektrum atom hidrogen.

A. Tujuan Pembelajaran
Peserta didik dapat:
1. Menjelaskan sifat-sifat sinar katoda.
2. Menjelaskan percobaan Thompson dalam mengukur perbandingan muatan dan massa elektron.
3. Menjelaskan percobaan Milikan dalam menentukan muatan dan massa elektron.
4. Menjelaskan perkembangan teori atom.
5. Membedakan keadaan dasar, keadaan tereksitasi, dan keadaan terionisasi.
6. Membedakan peristiwa eksitasi dan deeksitasi.
7. Menjelaskan deret spektrum atom hidrogen.
8. Membedakan deret Balmer, Lyman, Paschen, Brackett, dan Pfund.
9. Menjelaskan efek Zeeman.
10. Membedakan bilangan kuantum utama, orbital, magnetik, dan spin.
11. Menjelaskan pengertian kaidah seleksi.
12. Menyebutkan larangan Pauli.
13. Membedakan kulit dan subkulit.
14. Menjelaskan pengertian konfigurasi elektron.
15. Menuliskan notasi singkat konfigurasi elektron.

B. Materi Pembelajaran
Teori Atom

C. Metode Pembelajaran
1. Model : a. Direct Instruction (DI)
b. Cooperative Learning
2. Metode : a. Diskusi kelompok
b. Ceramah

D. Langkah-langkah Kegiatan

PERTEMUAN PERTAMA

No. Aktivitas Waktu
1 Kegiatan Pendahuluan
1. Motivasi dan Apersepsi:
i. Apakah sinar katoda dapat dibelokkan oleh medan listrik dan medan magnet?
ii. Apakah atom merupakan komponen terkecil penyusun materi?
2. Prasyarat pengetahuan:
i. Sebutksn sifat-sifat sinar katoda.
ii. Bagaimana perkembangan teori atom? 10 menit
2 Kegiatan Inti
1. Guru membimbing peserta didik dalam pembentukan kelompok.
2. Peserta didik (dibimbing oleh guru) mendiskusikan sinar katoda.
3. Peserta didik memperhatikan penjelasan guru mengenai sifat-sifat sinar katoda.
4. Peserta didik memperhatikan penjelasan percobaan Thompson dalam mengukur perbandingan muatan dan massa elektron yang disampaikan oleh guru.
5. Guru menjelaskan percobaan Milikan dalam menentukan muatan dan massa elektron.
6. Peserta didik memperhatikan contoh soal menentukan besar dan jumlah muatan yang disampaikan oleh guru.
7. Guru memberikan beberapa soal menentukan besar dan jumlah muatan untuk dikerjakan oleh peserta didik.
8. Guru mengoreksi jawaban peserta didik apakah sudah benar atau belum. Jika masih terdapat peserta didik yang belum dapat menjawab dengan benar, guru dapat langsung memberikan bimbingan.
9. Peserta didik memperhatikan penjelasan perkembangan teori atom (model atom Thompson, Rutherford, dan Bohr) yang disampaikan oleh guru.
10. Peserta didik secara berkelompok membuat kesimpulan mengenai perkembangan teori atom.
11. Peserta didik mempresentasikan hasil diskusi kelompok secara klasikal.
12. Guru menanggapi hasil diskusi kelompok peserta didik dan memberikan informasi yang sebenarnya.
13. Peserta didik memperhatikan contoh soal menentukan energi atom hidrogen pada tingkat ke-n yang disampaikan oleh guru.
14. Guru memberikan beberapa soal menentukan energi atom hidrogen pada tingkat ke-n untuk dikerjakan oleh peserta didik.
15. Guru mengoreksi jawaban peserta didik apakah sudah benar atau belum. Jika masih terdapat peserta didik yang belum dapat menjawab dengan benar, guru dapat langsung memberikan bimbingan.
70 menit
3 Kegiatan Penutup
1. Peserta didik (dibimbing oleh guru) berdiskusi untuk membuat rangkuman.
2. Guru memberikan penghargaan kepada kelompok yang memiliki kinerja dan kerjasama yang baik.
3. Guru memberikan tugas rumah berupa latihan soal. 10 menit

PERTEMUAN KEDUA

No. Aktivitas Waktu
1 Kegiatan Pendahuluan
1. Motivasi dan Apersepsi:
i. Apa yang terjadi jika atom hidrogen diberikan energi yang cukup besar?
ii. Bagaimana cara menentukan besar momentum sudut elektron?
2. Prasyarat pengetahuan:
i. Apakah yang dimaksud dengan eksitasi?
ii. Apakah yang dimaksud dengan bilangan kuantum orbital?
10 menit
2 Kegiatan Inti
1. Guru membimbing peserta didik dalam pembentukan kelompok.
2. Peserta didik (dibimbing oleh guru) mendiskusikan pengertian keadaan dasar, keadaan tereksitasi, dan keadaan terionisasi.
3. Perwakilan dari tiap kelompok diminta untuk membedakan peristiwa eksitasi dan deeksitasi.
4. Peserta didik (dibimbing oleh guru) mendiskusikan deret spektrum atom hidrogen.
5. Peserta didik memperhatikan penjelasan guru mengenai perbedaan deret Balmer, Lyman, Paschen, Brackett, dan Pfund.
6. Peserta didik memperhatikan contoh soal menentukan panjang gelombang dan energi yang dipancarkan untuk masing-masing deret yang disampaikan oleh guru.
7. Guru memberikan beberapa soal menentukan panjang gelombang dan energi yang dipancarkan untuk masing-masing deret untuk dikerjakan oleh peserta didik.
8. Guru mengoreksi jawaban peserta didik apakah sudah benar atau belum. Jika masih terdapat peserta didik yang belum dapat menjawab dengan benar, guru dapat langsung memberikan bimbingan.
9. Peserta didik (dibimbing oleh guru) mendiskusikan efek Zeeman.
10. Perwakilan peserta didik diminta untuk menyebutkan bilangan kuantum.
11. Peserta didik memperhatikan penjelasan guru mengenai karakteristik bilangan kuantum (utama, orbital, magnetik, dan spin).
12. Peserta didik memperhatikan contoh soal menentukan bilangan kuantum dari sebuah elektron yang disampaikan oleh guru.
13. Guru memberikan beberapa soal menentukan bilangan kuantum dari sebuah elektron untuk dikerjakan oleh peserta didik.
14. Guru mengoreksi jawaban peserta didik apakah sudah benar atau belum. Jika masih terdapat peserta didik yang belum dapat menjawab dengan benar, guru dapat langsung memberikan bimbingan.
70 menit
3 Kegiatan Penutup
1. Guru memberikan penghargaan kepada kelompok yang memiliki kinerja dan kerjasama yang baik.
2. Peserta didik (dibimbing oleh guru) berdiskusi untuk membuat rangkuman.
3. Guru memberikan tugas rumah berupa latihan soal. 10 menit

PERTEMUAN KETIGA

No. Aktivitas Waktu
1 Kegiatan Pendahuluan
1. Motivasi dan Apersepsi:
i. Apakah elektron dapat berpindah dari satu keadaan ke sembarang keadaan lain?
ii. Bagaimana aturan menuliskan notasi singkat konfigurasi elektron?
2. Prasyarat pengetahuan:
i. Apakah yang dimaksud dengan kaidah seleksi?
ii. Apakah yang dimaksud dengan konfigurasi elektron?
10 menit
2 Kegiatan Inti
1. Peserta didik (dibimbing oleh guru) mendiskusikan kaidah seleksi.
2. Perwakilan peserta didik diminta untuk menyebutkan larangan Pauli.
3. Peserta didik memperhatikan penjelasan guru mengenai penempatan elektron-elektron dalam sebuah atom.
4. Peserta didik memperhatikan contoh soal penempatan elektron-elektron dalam sebuah atom yang disampaikan oleh guru.
5. Peserta didik (dibimbing oleh guru) mendiskusikan perbedaan kulit dan subkulit.
6. Perwakilan peserta didik diminta untuk menjelaskan pengertian konfigurasi elektron.
7. Peserta didik memperhatikan penulisan notasi singkat konfigurasi elektron yang disampaikan oleh guru.
8. Peserta didik memperhatikan contoh soal menentukan konfigurasi elektron yang disampaikan oleh guru.
9. Guru memberikan beberapa soal menentukan konfigurasi elektron untuk dikerjakan oleh peserta didik.
10. Guru mengoreksi jawaban peserta didik apakah sudah benar atau belum. Jika masih terdapat peserta didik yang belum dapat menjawab dengan benar, guru dapat langsung memberikan bimbingan. 70 menit
3 Kegiatan Penutup
1. Peserta didik (dibimbing oleh guru) berdiskusi untuk membuat rangkuman.
2. Guru memberikan tugas rumah berupa latihan soal. 10 menit

E. Sumber Belajar

a. Buku Fisika SMA dan MA Jl. 3B (Esis) halaman 63-86
b. Buku referensi yang relevan
c. Lingkungan

F. Penilaian Hasil Belajar

a. Teknik Penilaian:
1. Tes tertulis
2. Penugasan
b. Bentuk Instrumen:
1. Tes PG
2. Tes uraian
3. Tugas rumah

c. Contoh Instrumen:
1. Contoh tes PG
Sebuah pesawat luar angkasa bergerak dengan kecepatan 0,1 c. Jika penumpang berjalan sejauh 50 m, maka jarak menurut pengamat di bumi adalah ….
A. 49,8 m D. 42,8 m
B. 39,8 m E. 41,8 m
C. 39,9 m

2. Contoh tes uraian
Sebuah partikel bergerak sedemikian cepat sehingga energi totalnya mencapai 1,1 kali energi diamnya. Hitunglah:
A. kecepatan gerak partikel
B. eenergi kinetik partikel
3. Contoh tugas rumah
Buatlah artikel tentang penerapan kesetaraan massa dan energi pada teknologi nuklir.

…………………….,……………….

Mengetahui Kepala SMA Guru Mata Pelajaran

……………………………………. ………………………………………..
NIP. NIP.

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
( RPP )

Sekolah :
Kelas / Semester : XII (Dua belas) / Semester II
Mata Pelajaran : FISIKA
Alokasi Waktu : 2 x 45 menit

Standar Kompetensi
4. Menunjukkan penerapan konsep fisika inti dan radioaktivitas dalam teknologi dan kehidupan sehari-hari.

Kompetensi Dasar
4.1 Mengidentifikasi karakteristik inti atom dan radioaktivitas.

Indikator
1. Mendeskripsikan karakteristik inti atom.
2. Mendeskripsikan karakteristik radioaktivitas.
3. Mendeskripsikan prinsip kesetaraan massa dan energi pada konsep energi ikat inti.

A. Tujuan Pembelajaran
Peserta didik dapat:
1. Menjelaskan pengertian nukleon.
2. Menjelaskan konsep partikel penyusun atom.
3. Membedakan nomor atom dan nomor massa atom.
4. Menghitung jumlah proton, elektron, dan neutron suatu atom berdasarkan nomor atom dan nomor massanya.
5. Menjelaskan konsep isotop, isoton, dan isobar pada atom.
6. Mengklasifikasikan unsur ke dalam isotop, isoton, dan isobar.
7. Menghitung jari-jari inti atom berdasarkan nomor massa atom.
8. Menjelaskan konsep satuan massa atom.
9. Menjelaskan pengertian defek massa.
10. Menghitung energi ikat rata-rata per nukleon.
11. Menjelaskan pengertian radioaktivitas.
12. Menganalisis peristiwa radioaktivitas yang terjadi pada inti atom yang tidak stabil.
13. Membedakan peluruhan alfa, beta, dan gamma.
14. Menghitung laju peluruhan dan waktu paroh pada inti atom yang tidak stabil.

B. Materi Pembelajaran
Inti Atom dan Radioaktivitas

C. Metode Pembelajaran
1. Model : a. Direct Instruction (DI)
b. Cooperative Learning
2. Metode : a. Diskusi kelompok
b. Observasi
c. Ceramah
D. Langkah-langkah Kegiatan
PERTEMUAN PERTAMA
No. Aktivitas Waktu
1 Kegiatan Pendahuluan
1. Motivasi dan Apersepsi:
i. Apakah partikel penyusun inti atom?
ii. Mengapa isotop-isotop dari unsur yang sama mempunyai sifat kimia yang sama?
2. Prasyarat pengetahuan:
i. Apakah yang dimaksud dengan nukleon?
ii. Apakah yang dimaksud dengan isotop? 10 menit
2 Kegiatan Inti
1. Guru membimbing peserta didik dalam pembentukan kelompok.
2. Peserta didik (dibimbing oleh guru) mendiskusikan pengertian nukleon.
3. Peserta didik memperhatikan penjelasan guru mengenai partikel penyusun inti.
4. Peserta didik (dibimbing oleh guru) mendiskusikan perbedaan nomor atom dan nomor massa atom.
5. Peserta didik memperhatikan penjelasan guru menentukan jumlah proton, elektron, dan neutron suatu atom berdasarkan nomor atom dan nomor massanya.
6. Peserta didik memperhatikan contoh soal menentukan jumlah proton, elektron, dan neutron suatu atom berdasarkan nomor atom dan nomor massanya yang disampaikan oleh guru.
7. Guru memberikan beberapa soal menentukan jumlah proton, elektron, dan neutron suatu atom berdasarkan nomor atom dan nomor massanya untuk dikerjakan oleh peserta didik.
8. Guru mengoreksi jawaban peserta didik apakah sudah benar atau belum. Jika masih ada peserta didik yang belum dapat menjawab dengan benar, guru dapat langsung memberikan bimbingan.
9. Peserta didik (dibimbing oleh guru) mendiskusikan pengertian isotop.
10. Peserta didik memperhatikan penjelasan guru mengenai contoh isotop umum dari beberapa unsur.
11. Peserta didik mendiskusikan dengan kelompoknya mengenai pengertian isobar dan isoton.
12. Peserta didik dalam setiap kelompok mendiskusikan contoh isoton dan isobar dari beberapa unsur.
13. Peserta didik mempresentasikan hasil diskusi kelompok secara klasikal.
14. Guru menanggapi hasil diskusi kelompok peserta didik dan memberikan informasi yang sebenarnya.
15. Peserta didik memperhatikan contoh soal mengklasifikasikan unsur ke dalam isotop, isoton, dan isobar yang disampaikan oleh guru.
16. Guru memberikan beberapa soal mengklasifikasikan unsur ke dalam isotop, isoton, dan isobar untuk dikerjakan oleh peserta didik.
17. Guru mengoreksi jawaban peserta didik apakah sudah benar atau belum. Jika masih ada peserta didik yang belum dapat menjawab dengan benar, guru dapat langsung memberikan bimbingan.

70 menit
3 Kegiatan Penutup
1. Guru memberikan penghargaan kepada kelompok yang memiliki kinerja dan kerjasama yang baik.
2. Peserta didik (dibimbing oleh guru) berdiskusi untuk membuat rangkuman.
3. Guru memberikan tugas rumah berupa latihan soal. 10 menit

PERTEMUAN KEDUA

No. Aktivitas Waktu
1 Kegiatan Pendahuluan
1. Motivasi dan Apersepsi:
i. Mengapa massa inti hasil pengukuran selalu lebih kecil di banding perhitungan?
ii. Atom apakah yang memiliki inti paling stabil?
2. Prasyarat pengetahuan:
i. Apakah yang dimaksud dengan defek massa?
ii. Bagaimana grafik energi ikat rata-rata per nukleon?
10 menit
2 Kegiatan Inti
1. Peserta didik (dibimbing oleh guru) mendiskusikan ukuran inti.
2. Peserta didik memperhatikan penjelasan guru menghitung jari-jari inti atom berdasarkan nomor massa atom.
3. Peserta didik memperhatikan contoh soal menentukan jari-jari inti atom berdasarkan nomor massa atom yang disampaikan oleh guru.
4. Guru memberikan beberapa soal menentukan jari-jari inti atom berdasarkan nomor massa atom untuk dikerjakan oleh peserta didik.
5. Guru mengoreksi jawaban peserta didik apakah sudah benar atau belum. Jika masih terdapat peserta didik yang belum dapat menjawab dengan benar, guru dapat langsung memberikan bimbingan.
6. Peserta didik (dibimbing oleh guru) mendiskusikan satuan massa atom.
7. Perwakilan peserta didik diminta untuk menjelaskan pengertian defek massa.
8. Peserta didik memperhatikan penjelasan guru mendapatkan rumusan energi ikat rata-rata per nukleon.
9. Peserta didik memperhatikan penjelasan guru mengenai grafik energi ikat rata-rata per nukleon.
10. Peserta didik memperhatikan contoh soal menentukan energi ikat per nukleon dari sebuah atom yang disampaikan oleh guru.
11. Guru memberikan beberapa soal menentukan energi ikat per nukleon dari sebuah atom untuk dikerjakan oleh peserta didik.
12. Guru mengoreksi jawaban peserta didik apakah sudah benar atau belum. Jika masih terdapat peserta didik yang belum dapat menjawab dengan benar, guru dapat langsung memberikan bimbingan.
13. Peserta didik memperhatikan penjelasan guru mengenai kurva kestabilan unsur-unsur berdasarkan nomor atom 70 menit
3 Kegiatan Penutup
1. Peserta didik (dibimbing oleh guru) berdiskusi untuk membuat rangkuman.
2. Guru memberikan tugas rumah berupa latihan soal.
10 menit

PERTEMUAN KETIGA

No. Aktivitas Waktu
1 Kegiatan Pendahuluan
1. Motivasi dan Apersepsi:
i. Apakah peristiwa radioaktivitas terjadi pada inti yang tidak stabil?
ii. Sinar apakah yang membelok sesuai dengan arah pembelokan muatan negatif?
2. Prasyarat pengetahuan:
i. Apakah yang dimaksud dengan radioaktivitas?
ii. Apakah yang dimaksud dengan sinar beta (β)?
10 menit
2 Kegiatan Inti
1. Guru membimbing peserta didik dalam pembentukan kelompok.
2. Peserta didik (dibimbing oleh guru) mendiskusikan pengertian radioaktivitas.
3. Peserta didik memperhatikan penjelasan guru mengenai peristiwa radioaktivitas yang terjadi pada inti atom yang tidak stabil.
4. Peserta didik dalam setiap kelompok mendiskusikan perbedaan sinar alfa (α), sinar beta (β), dan sinar gamma (γ).
5. Peserta didik mempresentasikan hasil diskusi kelompok secara klasikal.
6. Guru menanggapi hasil diskusi kelompok peserta didik dan memberikan informasi yang sebenarnya.
7. Peserta didik memperhatikan perbedaan peluruhan alfa, beta, dan gamma yang disampaikan oleh guru.
8. Peserta didik memperhatikan contoh soal menuliskan reaksi lengkap dari peluruhan alfa, beta, dan gamma yang disampaikan oleh guru.
9. Guru memberikan beberapa soal menuliskan reaksi lengkap dari peluruhan alfa, beta, dan gamma untuk dikerjakan oleh peserta didik.
10. Guru mengoreksi jawaban peserta didik apakah sudah benar atau belum. Jika masih terdapat peserta didik yang belum dapat menjawab dengan benar, guru dapat langsung memberikan bimbingan.
70 menit
3 Kegiatan Penutup
1. Guru memberikan penghargaan kepada kelompok yang memiliki kinerja dan kerjasama yang baik.
2. Peserta didik (dibimbing oleh guru) berdiskusi untuk membuat rangkuman.
3. Guru memberikan tugas rumah berupa latihan soal. 10 menit

PERTEMUAN KEEMPAT

No. Aktivitas Waktu
1 Kegiatan Pendahuluan
1. Motivasi dan Apersepsi:
i. Faktor apakah yang mempengaruhi laju peluruhan suatu sampel radioaktif?
ii. Dapatkah suatu unsur radioaktif meluruh secara terus-menerus?
2. Prasyarat pengetahuan:
i. Apakah yang dimaksud dengan peluruhan?
ii. Apakah yang dimaksud dengan deret radioaktif? 10 menit
2 Kegiatan Inti
1. Peserta didik (dibimbing oleh guru) mendiskusikan pengertian peluruhan.
2. Peserta didik memperhatikan penjelasan guru untuk mendapatkan persamaan laju peluruhan.
3. Perwakilan peserta didik diminta untuk menyebutkan faktor yang mempengaruhi laju peluruhan.
4. Peserta didik (dibimbing oleh guru) mendiskusikan pengertian waktu paroh.
5. Peserta didik memperhatikan rumusan untuk mendapatkan persamaan waktu paroh, konstanta peluruhan, dan aktivitas peluruhan yang disampaikan oleh guru.
6. Peserta didik memperhatikan contoh soal menentukan waktu paroh, konstanta peluruhan, dan aktivitas peluruhan yang disampaikan oleh guru.
7. Guru memberikan beberapa soal menentukan waktu paroh, konstanta peluruhan, dan aktivitas peluruhan untuk dikerjakan oleh peserta didik.
8. Guru mengoreksi jawaban peserta didik apakah sudah benar atau belum. Jika masih terdapat peserta didik yang belum dapat menjawab dengan benar, guru dapat langsung memberikan bimbingan.
9. Peserta didik memperhatikan penjelasan guru mengenai deret radioaktif.
70 menit
3 Kegiatan Penutup
1. Peserta didik (dibimbing oleh guru) berdiskusi untuk membuat rangkuman.
2. Guru memberikan tugas rumah berupa latihan soal. 10 menit

E. Sumber Belajar

a. Buku Fisika SMA dan MA Jl. 3B (Esis) halaman 87-118
b. Buku referensi yang relevan
c. Lingkungan

F. Penilaian Hasil Belajar

a. Teknik Penilaian:
1. Tes tertulis

b. Bentuk Instrumen:

1. Tes PG
2. Tes isian
3. Tes uraian

c. Contoh Instrumen:
1. Contoh tes PG
Gambaran dari suatu inti atom dapat diketahui dari ….
A. massa atom
B. nomor atom
C. jumlah nukleon dalam inti
D. nomor atom dan nomor massa
E. semua jawaban salah
2. Contoh tes isian
Ketika inti melakukan peluruhan beta negatif, maka sifat inti yang dihasilkan dibandingkan inti asal adalah ….
3. Contoh tes uraian
Hituglah defek massa, energi ikat, dan energi ikat per nukleon dari:
a. inti nitrogen b. inti helium

………………,……………….

Mengetahui Kepala SMA Guru Mata Pelajaran

…………………………………… ……………………………..
NIP. NIP.

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
( RPP )

Sekolah :
Kelas / Semester : XII (Dua belas) / Semester II
Mata Pelajaran : FISIKA
Alokasi Waktu : 2 x 45 menit

Standar Kompetensi
4. Menunjukkan penerapan konsep fisika inti dan radioaktivitas dalam teknologi dan kehidupan sehari-hari.

Kompetensi Dasar
4.2 Mendeskripsikan pemanfaatan radioaktif dalam teknologi dan kehidupan sehari-hari.

Indikator
1. Mendeskripsikan skema reaktor nuklir dan manfaatnya.
2. Mendeskripsikan karakteristik radioisotop.
3. Mendeskripsikan pemanfaatan radioaktif dalam bidang kesehatan, industri, dan pertanian.
4. Mendeskripsikan penghitungan umur fosil atau batuan dengan menggunakan prinsip waktu paroh.
5. Menunjukkan bahaya radioaktif dan cara mengurangi risikonya.

A. Tujuan Pembelajaran

Peserta didik dapat:
1. Menjelaskan pengertian transmutasi.
2. Menjelaskan syarat terjadinya reaksi inti.
3. Menuliskan persamaan reaksi inti.
4. Membedakan reaksi eksotermik dan reaksi endotermik.
5. Menjelaskan pengertian fisi nuklir.
6. Menjelaskan proses fisi nuklir.
7. Menjelaskan proses reaksi fisi berantai.
8. Menyebutkan moderator reaktor fisi.
9. Menjelaskan skema reaktor nuklir dan manfaatnya.
10. Menjelaskan pengertian fusi nuklir.
11. Menjelaskan proses fusi nuklir.
12. Menjelaskan efek yang ditimbulkan oleh radiasi.
13. Menjelaskan pengertian dosis terabsorpsi.
14. Menjelaskan pengertian keefektifan biologi relatif atau faktor kualitas.
15. Menjelaskan pengertian dosis efektif.
16. Menjelaskan pemanfaatan radioaktif dalam bidang kesehatan, industri, dan pertanian.
17. Menghitung umur fosil atau batuan dengan menggunakan prinsip waktu paroh.
18. Menjelaskan bahaya radioaktif dan cara mengurangi risikonya.

B. Materi Pembelajaran
Energi Inti dan Efek Radiasi

C. Metode Pembelajaran
1. Model : a. Direct Instruction (DI)
b. Cooperative Learning
2. Metode : a. Diskusi kelompok
b. Observasi
c. Ceramah

D. Langkah-langkah Kegiatan

PERTEMUAN PERTAMA

No. Aktivitas Waktu
1 Kegiatan Pendahuluan
1. Motivasi dan Apersepsi:
i. Bagaimana cara menulis persamaan reaksi inti?
ii. Bagaimana cara kerja moderator dalam reaktor nuklir?
2. Prasyarat pengetahuan:
i. Apakah yang dimaksud dengan reaksi inti?
ii. Apakah yang dimaksud dengan moderator?
10 menit
2 Kegiatan Inti
1. Guru membimbing peserta didik dalam pembentukan kelompok.
2. Peserta didik (dibimbing oleh guru) mendiskusikan pengertian transmutasi.
3. Peserta didik memperhatikan penulisan persamaan reaksi inti yang disampaikan oleh guru.
4. Peserta didik memperhatikan contoh soal menentukan jenis partikel yang belum ditulis dalam persamaan reaksi inti yang disampaikan oleh guru.
5. Peserta didik dalam setiap kelompok mendiskusikan perbedaan reaksi eksotermik dan reaksi endotermik.
6. Peserta didik mempresentasikan hasil diskusi kelompok secara klasikal.
7. Guru menanggapi hasil diskusi kelompok peserta didik dan memberikan informasi yang sebenarnya.
8. Peserta didik memperhatikan penjelasan guru mendapatkan persamaan energi yang dihasilkan dari reaksi inti.
9. Peserta didik memperhatikan contoh soal menentukan energi yang dihasilkan dari reaksi inti yang disampaikan oleh guru.
10. Guru memberikan beberapa soal menentukan energi yang dihasilkan dari reaksi inti untuk dikerjakan oleh peserta didik.
11. Guru mengoreksi jawaban peserta didik apakah sudah benar atau belum. Jika masih terdapat peserta didik yang belum dapat menjawab dengan benar, guru dapat langsung memberikan bimbingan.
12. Peserta didik (dibimbing oleh guru) mendiskusikan pengertian reaksi fisi nuklir.
13. Peserta didik memperhatikan proses reaksi fisi nuklir dan proses reaksi fisi berantai yang disampaikan oleh guru.
14. Peserta didik (dibimbing oleh guru) mendiskusikan pengertian moderator.
15. Perwakilan dari tiap kelompok diminta untuk menyebutkan moderator reaktor fisi.
16. Peserta didik memperhatikan penjelasan guru mengenai skema reaktor nuklir dan manfaatnya.
70 menit
3 Kegiatan Penutup
1. Guru memberikan penghargaan kepada kelompok yang memiliki kinerja dan kerjasama yang baik.
2. Peserta didik (dibimbing oleh guru) berdiskusi untuk membuat rangkuman.
3. Guru memberikan tugas rumah berupa latihan soal. 10 menit

PERTEMUAN KEDUA

No. Aktivitas Waktu
1 Kegiatan Pendahuluan
1. Motivasi dan Apersepsi:
i. Apakah syarat terjadinya reaksi fusi nuklir?
ii. Bagaimana cara mengukur efek radiasi?
2. Prasyarat pengetahuan:
i. Apakah yang dimaksud dengan fusi nuklir?
ii. Apakah yang dimaksud dengan dosis terabsorpsi?
10 menit
2 Kegiatan Inti
1. Peserta didik (dibimbing oleh guru) mendiskusikan pengertian fusi nuklir.
2. Peserta didik memperhatikan penjelasan guru mengenai proses fusi nuklir.
3. Peserta didik memperhatikan penjelasan kurva energi ikat per nukleon sebagai fungsi nomor massa yang disampaikan oleh guru.
4. Peserta didik memperhatikan contoh soal menentukan energi yang dihasilkan dari reaksi fisi dan fusi yang disampaikan oleh guru.
5. Guru memberikan beberapa soal menentukan energi yang dihasilkan dari reaksi fisi dan reaksi fusi untuk dikerjakan oleh peserta didik.
6. Guru mengoreksi jawaban peserta didik apakah sudah benar atau belum. Jika masih terdapat peserta didik yang belum dapat menjawab dengan benar, guru dapat langsung memberikan bimbingan.
7. Peserta didik (dibimbing oleh guru) mendiskusikan efek yang ditimbulkan oleh radiasi.
8. Peserta didik memperhatikan penjelasan guru mengenai pengertian dosis terabsorpsi.
9. Perwakilan peserta didik diminta untuk menyebutkan satuan dosis terabsorpsi.
10. Peserta didik memperhatikan penjelasan guru mengenai pengertian keefektifan biologi relatif atau faktor kualitas dan dosis efektif.
11. Peserta didik memperhatikan contoh soal menentukan dosis terabsorpsi dan dosis efektif yang disampaikan oleh guru.

12. Guru memberikan beberapa soal menentukan dosis terabsorpsi dan dosis efektif untuk dikerjakan oleh peserta didik.
13. Guru mengoreksi jawaban peserta didik apakah sudah benar atau belum. Jika masih terdapat peserta didik yang belum dapat menjawab dengan benar, guru dapat langsung memberikan bimbingan.
70 menit
3 Kegiatan Penutup
1. Peserta didik (dibimbing oleh guru) berdiskusi untuk membuat rangkuman.
2. Guru memberikan tugas rumah berupa latihan soal. 10 menit

PERTEMUAN KETIGA

No. Aktivitas Waktu
1 Kegiatan Pendahuluan
1. Motivasi dan Apersepsi:
i. Apakah manfaat radioisotop dalam kehidupan sehari-hari?
ii. Isotop karbon berapakah yang digunakan untuk menentukan umur fosil?
2. Prasyarat pengetahuan:
i. Apakah yang dimaksud dengan radioisotop?
ii. Bagaimana menentukan umur fosil dengan karbon?
10 menit
2 Kegiatan Inti
1. Guru membimbing peserta didik dalam pembentukan kelompok, masing-masing kelompok terdiri dari 3-4 siswa laki-laki dan perempuan yang berbeda kemampuannya.
2. Peserta didik memperhatikan karakteristik radioisotop yang disampaikan oleh guru.
3. Peserta didik (dibimbing oleh guru) mendiskusikan pemanfaatan, bahaya, dan cara mengurangi risiko radioaktif dalam kehidupan sehari-hari.
4. Guru membagi tugas kelompok:
i. 2 kelompok diberi tugas untuk menjelaskan pemanfaatan radioaktif dalam bidang kesehatan.

ii. 2 kelompok diberi tugas untuk menjelaskanpemanfaatan radioaktif dalam bidang industri.
iii. 2 kelompok diberi tugas untuk menjelaskan pemanfaatan radioaktif dalam bidang pertanian.
iv. 2 kelompok diberi tugas untuk menjelaskan pemanfaatan radioaktif untuk menghitung umur fosil dengan menggunakan prinsip waktu paroh.
v. 2 kelompok diberi tugas untuk menjelaskan bahaya radioaktif dan cara mengurangi risikonya.
5. Tugas kelompok diberikan 1 minggu sebelum proses pembelajaran dilaksanakan.
6. Setiap kelompok diminta untuk menuliskannya dalam bentuk karya tulis.
7. Setiap kelompok diminta untuk mempresentasikan hasil diskusinya di depan kelompok yang lain.
8. Guru menanggapi hasil diskusi kelompok peserta didik dan memberikan informasi yang sebenarnya.
70 menit
3 Kegiatan Penutup
1. Guru memberikan penghargaan kepada kelompok yang memiliki kinerja dan kerjasama yang baik.
2. Peserta didik (dibimbing oleh guru) berdiskusi untuk membuat rangkuman.
3. Guru memberikan tugas rumah berupa latihan soal. 10 menit

E. Sumber Belajar
a. Buku Fisika SMA dan MA Jl. 3B (Esis) halaman 119-144
b. Buku referensi yang relevan
c. Lingkungan

F. Penilaian Hasil Belajar
a. Teknik Penilaian:
1. Tes tertulis
2. Penugasan
b. Bentuk Instrumen:
1. Tes PG
2. Tes isian
3. Tes uraian
4. Tugas rumah
c. Contoh Instrumen:
1. Contoh tes PG
Waktu paroh C-14 5.730 tahun. Fosil tulang mengandung C-14 sebesar 25%, umur tulang tersebut adalah ….
A. 11.460 tahun D. 2.865 tahun
B. 5.872,5 tahun E. 5.730 tahun
C. 1.432,5 tahun
2. Contoh tes isian
Isotop yang bersifat radioaktif disebut ….
3. Contoh tes uraian
Sebutkan pemanfaatan radioaktif dalam bidang kesehatan, industri, dan pertanian.
4. Contoh tugas rumah
Buatlah poster yang memuat skema reaktor nuklir disertai nama bagian dan fungsinya masing-masing.

……………..,……………….

Mengetahui Kepala SMA Guru Mata Pelajaran

……………………. …………………………
NIP. NIP.

suku tengger jawa timur

Suku Tengger
Suku tengger adalah suku yang tinggal disekitar gunung bromo, jawa timur yakni menempatati sebagian wilayah kabupaten pasuruan, kabupaten probolinggo, dan kabupaten malang. Komunitas suku tengger berkisar antara 500 ribu orang yang tersebar di tiga kabupaten tersebut. Etnis yang paling terdekat dengan suku tengger adalah suku jawa namun terdapat perbedaan yang sangat menonjol antara keduanya, terutama dari sistem kebudayaannya.
1. Asal usul terbentuknya Suku Tengger
Suku tengger terbentuk sekitar abad ke sepuluh saat kerajaan majapahit mengalami kemunduran dan saat Islam mulai menyebar. Pada saat itu kerajaan majapahit diserang dari berbagai daerah, sehingga bingung mencari tempat pengungsian. Demikian juga dengan dewa-dewa mulai pergi bersemayam di sekitar gunung bromo, yaitu dilereng gunung pananjakan, di sekitar situ juga tinggal seorang pertapa yang suci. Suatu hari istrinya melahirkan seorang bayi laki-laki yang tampan, wajahnya bercahaya, menampakan kesehatan dan kekuatan yang luar biasa. Untuk itu anak tersebut diberi nama Joko Seger, yang artinya joko yang sehat dan kuat.
Disekitar gunung itu juga lahir bayi perempuan titisan dewa, wajahnya cantik dan elok, waktu dilahirkan bayi itu tidak menangis, diam dan begitu tenang. Sehingga anak tersebut diberi nama Roro Anteng, yang artinya Roro yang tenang dan pendiam. Semakin hari Joko Seger tumbuh menjadi seorang lelaki dewasa begitupun Roro Anteng juga tumbuh menjadi seorang perempuan yang cantik dan baik hati. Roro Anteng telah terpikat pada Joko Seger, namun pada suatu hari ia dipinang oleh seorang Raja yang terkenal sakti, kuat, dan jahat. Sehingga ia tidak berani menolak lamarannya. Kemudian Roro Anteng mengajukan persyaratan pada pelamar itu agar dibuatkan lautan di tengah gunung dalam waktu satu malam. Pelamar itu mengerjakan dengan alat sebuah tempurung kelapa (batok kelapa). Dan pekerjaan itu hampir selesai, melihat kenyataan itu hati Roro Anteng gelisah dan memikirkan cara menggagalkannya, Kemudian Roro Anteng mulai menumbuk padi ditengah malam. Sehingga membangunkan ayam-ayam, ayam-ayam pun mulai berkokok seolah-olah fajar sudah menyingsing. Raja itu marah karena tidak bisa memenuhi permintaan Roro Anteng tepat pada waktunya. Akhirnya batok yang ia gunakan untuk mengeruk pasir tersebut dilemparnya hingga tertelungkup di dekat gunung bromo dan berubah menjadi sebuah gunung yang dinamakan gunung batok. Dengan kegagalan raja tadi akhirnya Roro Anteng menikah dengan Joko Seger. Dan membangun sebuah pemukiman kemudian memerintah dikawasan tengger tersebut dengan nama Purbowasesa Mangkurat Ing Tengger. Yang artinya Penguasa Tengger yang budiman. Nama tengger di ambil dari gabungan akhir suku kata Roro Anteng dan Joko Seger. Tengger juga berarti moral tinggi, simbol perdamaian abadi.
Roro Anteng dan Joko Seger belum juga dikaruniai momongan setelah sekian tahun menikah, maka diputuskan untuk naik kepuncak gunung bromo. Tiba-tiba ada suara gaib menyatakan jika mereka ingin mempunyai anak mereka harus bersemedi agar doa nya terkabul dengan syarat apabila mendapatkan keturunan anak bungsu harus dikorbankan ke kawah gunung bromo. Akhirnya merekapun mendapatkan keturunan 25 orang putra dan putri. Namun Roro Anteng mengingkari janjinya maka terjadilah gunung bromo menyemburkan api, dan anak bungsunya “Kesuma” dijilat api dan masuk ke kawah gunung bromo, kemudian terdengarlah suara gaib, bahwa kesuma telah dikorbankan, dan Hyang Widi telah menyelamatkan seluruh penduduk, maka penduduk harus hidup tentram damai dengan menyembah Hyang Widi, selain penduduk juga di peringatkan bahwa setiap bulan kasada pada hari ke empat belas mengadakan sesaji ke kawah gunung bromo, dan kebiasaan tersebut diikuti sampai sekarang oleh masyarakat tengger dengan mengadakan upacara yang disebut Kesada setiap tahunnya.
2. Sistem Kebudayaan Suku Tengger.
Menurut C Kluckhon dalam bukunya categories of culture menemukakan sistem kebudayaan yang secara Universal dimiliki oleh seluruh masyarat didunia, yang unsur-unsurnya meliputi sistem bahasa , sistem kesenian, sistem teknologi, sistem religi, sistem kemasyarakatan, sistem pengetahuan dan sistem mata pencarian. Pada masyarakat suku Tengger Unsur-unsur kebudayaan universial itu sebagai berikut :

a) Sistem Bahasa
Bahasa yang digunakan oleh suku tengger adalah bahasa jawa tapi dialek yang digunakan berbeda yaitu dialek tengger. Dialek tengger dituturkan di daerah gunung brom termasuk di wilayah pasuruan, probolinggo, malang dan lumanjang. Dialek ini dianggap turunan bahasa kawi, dan banyak mempertahankan kalimat-kalimat kuno yang sudah tidak digunakan dalam bahasa jawa modern.
b) Sistem Kesenian
Seni Tari
Tari yang biasa dipentaskan adalah tari Roro Anteng dan Joko Seger yang dimulai sebelum pembukaan upacara Kasada.
c) Seni bangunan
Bangunan untuk peribadatan berupa pura disebut punden, danyam, dan poten. Poten adalah sebidang tanah dilautan pasir sebagai tempat berlangsungnya upacara Kasada. Poten dibagi menjadi tiga mandala atau zone yaitu :
• Mandala utama disebut jeroan yaitu tempat pelaksanaan pemujaan yang terdiri dari padma, bedawang, nala, bangunan sekepat, dan kori agung candi bentar.
• Mandala madya atau zone tengah, disebut juga jaba tengah yaitu tempat persiapan pengiring upacara yang terdiri dari kori agung candi bentar bale kentongan, dan Bale Bengong.
• Mandala nista atau zone depan, disebut juga jaba sisi yaitu tempat peralhian dari luar kedalam pura yang terdiri dari bangunan candi bentar dan bangunan penunjang lainnya.
d) Sistem Teknologi
Seiring dengan banyak pengaruh yang masuk kedalam masyarakat tradisional seperti melalui pariwisata atau teknolgi komunikasi terilah culturual change dan perubahan kebudayaan sehingga sistem teknologi juga berkembang seperti halnya masyarakat jawa modern.
e) Sistem Religi
Agama yang dianut sebagian besar suku tengger adalah Hindu, Islam dan Kristen. Masyarakat tengger dikenal taat dengan aturan agama Hindu. Mereka yakin merupakan keturunan langsung dari majapahit. Gungung brahma (Bromo) dipercayai sebagai gunung suci dengan mengadakan berbagai macam upacra-upacara yang dipimpin oleh seorang dukun yang sangat dihormati dan disegani. Masyarakat tengger bahkan lebih memilih tidak mempunyai kepala pemerintahan desa dari pada tidak memiliki pemimpin ritual. Para dukun pandita tidak bisa di jabat oleh sembarang orang, banyak persyaratan yang harus dipenuhi sebagai perantara doa-doa mereka. Upacara-upacara yang dilakukan masyarakat tengger diantaranya:
1. Yahya kasada, Upacara ini ilakukan pada 14 bulan kasada, mereka membawa ongkek yang berisi sesaji dari hasil pertanian, ternak dan sebagainya. Lalu dilemparkan kekawah gunung bromo agar mendapatkan berkah dan diberikan keselamatan oleh yang maha kuasa.
2. Upacara Karo, Hari raya terbesar masyarakat tngger aalah upacara karo atau hari raya karo. Masyarakat menyambutnya dengan suka cita dengan membeli pakaian baru, perabotan, makan, minuman, melimpah, dengan tujuan mengadakan pemujaan terhadap sang Hyang Widi Wasa.
3. Upacara Kapat, jatuh pada bulan ke empat, bertujuan untuk memohon brekah keselamatan serta selamat kiblat, yaitu pemujaan terhadap arah mata angin.
4. Upacara kawalu, jatuh pada bulan kedelapan, masyarakat mengirimkan sesaji ke kepala desa, dengan tujuan untuk kesehatan Bumi, air, api, angin, matahari, bulan dan bintang.
5. Upacara kasanga, jatuh pada bulan kesembilan. Masyarakat berkelilling desa dengan membunyikan kentongan dan membawa obor tujuannya adalah memohon keselamatan.
6. Upacara kasada, Jatuh pada saat bulan Purnama (ke dua belas) tahun saka, Upacara ini isebut sebagai upacara kuban
7. Upacara Unan, Unan, diadakan lima tahun sekali dengan tujuan mengaaan penghormatan terhadap roh leluhur.

f) System Perkawinan
Sebelum ada Undang-Undang perkawinan banyak anak-anak suku Tengger yang kawin dalam usia belia, misalnya pada usia 10-14 tahun. Namun, pada masa sekarang hal tersebut sudah banyak berkurang dan pola perkawinannya endogami. Adat perkawinan yang diterapkan oleh siuku Tengger tidak berbeda jauh dengan adat perkawinan orang Jawa hanya saja yang bertindak sebagai penghulu dan wali keluarga adalah dukun Pandita. Adat menetap setelah menikah adalah neolokal, yaitu pasangan suami-istri bertempat tinggal di lingkungan yang baru. Untuk sementara pasangan pengantin berdiam terlebih dahulu dilingkungan kerabat istri.
g) Sistem Kemasyarakatan
Masyarakat suku Tengger terdiri atas kelompok-kelompok desa yang masing-masing kelompok tersebut dipimpin oleh tetua. Dan seluruh perkampungan ini dipimpin oleh seorang kepala adat. Masyarakat suku Tengger amat percaya dan menghormati dukun di wilayah mereka dibandingkan pejabat administratif karena dukun sangat berpengaruh dalam kehidupan masyarakat Tengger. Masyarakat Tengger mengangkat masyarakat lain dari luar masyarakat Tengger sebagai warga kehormatan dan tidak semuanya bisa menjadi warga kehormatan di masyarakat Tengger. Masyarakat muslim Tengger biasanya tinggal di desa-desa yang agak bawah sedangkan Hindu Tengger tinggal didesa-desa yang ada di atasnya.Masyarakat tengger menjungjung tinggi nilai persamaan, demokrasi, dan kehidupan masyarakat, sosok seorang pemimpin spritual seperti duun lebih disegani dari pada pemimpin administratif. Masyarakat tengger memunyai hukum sendiri diluar hukum formal yang berlaku alam negara. Dengan hukum itu mereka sudah bisa mengatur an mengendalikan berbagi persoalan dalam kehidupan masyarakatnya.
h) Sistem Pengetahuan
Sistem Pengetahuan masyarakat tengger pada umumnya masih tradisional, an masih berorientasi paa kebudayan lama, namun karna aanya pengaruh dari luar melalui pariwisata maupun komunikasi maka sistem pengetahuannya sudah mulai mengacu ke sistem pengetahuan yang modern.Pendidikan pada masyarakat Tengger sudah mulai terlihat dan maju dengan dibangunnya sekolah-sekolah, baik tingkat dasar maupun menengah disekitar kawasan Tengger. Sumber pengetahuan lain adalah mengenai penggunaan mantra-mantra tertentu oleh masyarakat Tengger.
i) Sistem Mata Pencarian
Sistem mata pencarian masyarakat suku tengger kebanyakan adalah petani dan penambang, tanaman yang diusahakan adalah sayur-sayuran sedangakan dalam hal penambangan, yang ditambang adalah pasir dan belerang. Pada masa kini masyarakat Tengger umumnya hidup sebagai petani di ladang. Prinsip mereka adalah tidak mau menjual tanah (ladang) mereka pada orang lain. Macam hasil pertaniannya adalah kentang, kubis, wortel, tembakau, dan jagung. Jagung adalah makanan pokok suku Tengger. Selain bertani, ada sebagian masyarakat Tengger yang berprofesi menjadi pemandu wisatawan di Bromo. Salah satu cara yang digunakan adalah dengan menawarkan kuda yang mereka miliki untuk disewakan kepada wisatawan.

B. Pluralisme Suku Tengger di Ngadas – Poncokusumo
Keelokan Desa Ngadas, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang, bukan saja pada panorama alamnya, tapi juga keanegaragaman adat istiadat dan budaya di dalamnya. Desa yang dihuni Suku Tengger itu mampu mempertahankan budaya di tengah derasnya arus globalisasi.
Desa Ngadas yang terletak di lereng Gunung Semeru tidak ubahnya seperti desa lainnya di wilayah kabupaten. Yang membedakan adalah kebudayaan Suku Tengger yang tetap terjaga kuat di desa ini. Padahal masyarakatnya sangat plural dari sisi keyakinan. Sebab, di desa ini sekitar 1.820 warganya menganut agama yang beragam. Ada yang beragama Islam, Buddha, dan Hindu. Namun, keyakinan berbeda itu tak menyurutkan masyarakatnya mempertahankan adat Suku Tengger. Tak hanya orang dewasa, tapi juga ditanamkan sejak dini pada anak-anak. Dengan kuatnya menjaga ada istiadat itu, Desa Ngadas diakui menjadi Desa Tengger. Yakni desa yang didiami oleh Suku Tengger asli yang sangat kuat mempertahankan dan menjalankan budaya dan adapt istiadat Tengger.
Di Jawa Timur, ada 37 Desa Tengger. Di wilayah Kabupaten Malang hanya ada satu. Yakni Desa Ngadas. Sebelumnya, di wilayah kabupaten ada tiga Desa Tengger. Yakni Desa Gubuk Klakah (Poncokusumo), Desa Tosari (Tumpang), dan Desa Ngadas sendiri. Namun sekarang Desa Tosari dan Desa Gubuk Klakah sudah tergerus zaman sehingga hanya sebagian kecil saja masyarakatnya yang mempertahankan tradisi Tengger. Karena itu, keduanya tidak lagi masuk dalam golongan Desa Tengger.
Tidak masuknya Desa Tosari dan Desa Gubuk Klakah di jajaran Desa Tengger tidak lepas pergeseran nilai budaya pada masyarakatnya. Maklum saja, letak geografis di dua desa itu sudah berada di bawah Desa Ngadas. Sehingga transformasi dan akulturasi budaya lebih cepat karena akses jalan ke perkotaan lebih enak.
Kondisi itu berbeda dengan Desa Ngadas. Lokasinya di ujung timur kabupaten yang terpisah dengan desa lain membuat desa ini sangat orisinil dalam manjalankan ada dan budaya Tengger. Baik adat desa maupun spiritualitas. Mereka tetap memegang teguh budaya yang diwariskan nenek moyangnya. Itu misalnya ditunjukkan dengan menghormati para leluhur yang babat alas (buka lahan) menghidupi keluarganya. Mereka tetap meyakini leluhur akan menciptakan kedamaian di desa. Karena itu, di makam Mbah Sadek – orang yang diyakini sebagai pembabat alas pertama Desa Ngadas yang meninggal tahun 1831 – hingga kini masih tetap terjaga. Bahkan di makam yang disakralkan masyarakat tersebut sering digunakan berbagai upacara adat. Terutama saat melakukan ritual bersih desa.
Begitu juga roda pemerintahan. Kepala desa lebih mudah mengatur sistem pemerintahannya. Mengingat dengan kondisi masyarakat yang mudah diatur, roda pemerintahan desa bisa berjalan sesuai dengan kesepakatan bersama. Walau masyarakatnya tidak tahu politik, warga Ngadas sebenarnya sudah sejak dulu sadar berpolitik. Misalnya, masalah pemilihan kepala desa. Calon kepala desa diajukan oleh masyarakat. Mereka yang ditunjuk harus siap lahir batin. Pengajuan para calonnya pun melalui rapat adat.
Setelah diajukan dan memenuhi persyaratan pencalonan, masyarakatlah yang akan mengumpulkan dana untuk pesta demokrasi tersebut. Sedangkan para calon tidak boleh mengeluarkan sedikit pun. Begitu juga saat terpilih, calon yang kalah harus bijaksana ikut mengantar atau mengarak kades terpilih ke balai desa.
Walau tidak mengeluarkan uang satu sen pun, tugas kades di desa tidaklah mudah. Selain menjalankan pemerintahan desa, dia juga menjadi pelayan masyarakat yang baik. Misalnya, saat orang akan melahirkan. Dia harus siap kapan pun mengantar. Selain itu kades juga dituntut memberikan keputusan yang tepat saat mengambil sebuah kebijakan. “Warga memang tidak paham politik. Tetapi sejak dahulu sudah sadar berpolitik,” ungkap Kades Ngadas Kartono pada Radar.
Dengan memiliki kesadaran berpolitik secara alami, kondisi desa tetap aman. Tidak ada yang mempermasalahkan siapa yang menjadi pimpinan desa. Masyarakat tetap menerima dan menghormati hasil pemilihan yang telah dilakukan.
Selain bertugas menjalankan pemerintahan, kades juga diminta menjaga adat istiadat desa. Salah satunya menjaga tanah desa tetap utuh dimiliki warga desa sendiri. Warga dari desa tetangga atau luar desa dilarang membeli tanah di kawasan Desa ngadas. Karena itu tanah di desa tersebut tetap utuh dikelola masyarakat sendiri. Itu juga menjadi salah satu faktor mengapa kebudayaan di Ngadas tetap terjaga.
Hingga sekarang, tanah pertanian yang ada semuanya dikelola masyarakat. Tidak satu pun penduduk luar desa yang mengelola. Walau diberi harga yang sangat tinggi, aturan adat, masyarakat tidak boleh menjualnya. Hanya boleh pada masyarakat yang ada di desa, sedangkan hasil pertanian maupun peternakan dijual kepada pengepul. Kebanyakan para pengepul sayuran dating langsung ke desa tersebut. Mereka langsung membeli tanaman dari petani. Harganya pun mengikuti pasar. Tergantung musim panen pada saat itu, para petani menggunakan pupuk organik. Pupuk tersebut didapat dari kotoran atau sisa makanan hewan ternak yang mereka pelihara di ladang. Karena pupuk dari kotoran hewan itulah tanaman di Desa Ngadas tumbuh subur. Dan resep tersbut sudah turun-temurun diwariskan oleh nenek moyang warga sekitar

DEVINISI SILABUS

A.Pengertian Silabus 

Menurut  pendapat  beberapa ahli :

  • Garis besar, ringkasan, ikhtisar, atau pokok-pokok isi/materi pembelajaran (salim, 1987:98)
  • Merupakan seperangkat rencana serta pengaturan pelaksanaan pembelajara dan penilaian yang disusun secara sitematis memuat komponen-komponen yang saling berkaitan untuk mencapai penguasaan kompetensi dasar (Yulaelawati,2004:123)
  •  Salah satu rancangan kurikulum pembelajaran, merupakan ringkasan isi komponen-komponen kurikulum, dan penjabaran lebih lanjut dari standar kompetensi, kompetensi dasar, dan pokok-pokok/uraian materi yang harus dipelajari siswa ke dalam rincian kegiatan dan strategi pembelajaran, kegiatan dan strategi penilaian, dan alokasi waktu per mata pelajaran per satuan pendidikan dan per kelas
  • Salah satu tahapan pengembangan kurikulum, khususnya untuk menjawab “apa yang harus dipelajari?”
  • Merupakan hasil atau produk pengembangan disain pembelajaran, seperti PDKBM, GBPP, dsb.

 Isi Silabus :
Berkenaan dengan komponen silabus lebih rinci dikemukan oleh nurhadi ( 2004:142) bahwa silabus berisi uraian program yang mencantumkan:

  • Bidang studi yang diajarkan
  • Tingkat sekolah dan semester
  •  Pengelompokan kompetensi dasar
  •  Materi pokok
  •  Indicator
  •  Strategi pembelajaran
  •  Alokasi waktu
  •  Bahan atau alat serta media

 

Manfaat Silabus :

  • Pedoman bagi pengembangan pembelajaran lebih lanjut:
  •  Pembuatan rencana satuan pembelajaran
  •  Pengelolaan kegiatan pembelajaran
  •  Penyediaan sumber belajar
  •  Pengembangan sistem penilaian

Prinsip pengembangan silabus :

  • Ilmiah  : Materi pembelajaran yang diberikan dalam silabus harus memenuhi kebenaran secara ilmiah.
  • Memperhatikan perkembangan dan kebutuhan siswa : Cakupan,kedalaman, tingkat kesukaran, dan urutan penyajian materi dalam silabus disesuaikan dengan tingkat perkembangan fisik dan psikologis siswa
  •  Sistematis : Silabus dianggap sebagai suatu system sesuai konsep dan prinsip system, penyusunan silabus dilakukan secara sistematis, sejalan dengan pendekatan system atau langkah-langkah pemecahan masalah.
  •  Relevansi,Konsitensi, dan Kecakupan : Dalam penyusunan silabus diharapkan adanya kesesuaian\, keterkaitan, konsitensi dan kecakupan antara standar kompetensi, kompetnsi dasa, materi pokok, pengalaman belajar,system penilaian dan sumber bahan(DepDIknas, 2004:11)

Prosedur Pengembangan :
• Persiapan – Needs/diagnostic analysis
• Penyusunan silabus – Design
• Perbaikan – Validation
• Pemantapan – pengesahan
• Pelaksanaan – Implementation
• Penilaian – Monev

Prosedur Pengembangan

Tahapan Penyusunan :
• Identifikasi Kompetensi Dasar
• Silabus
• Program Semester
• Satuan Pembelajaran
• Skenario Pembelajaran

Komponen Silabus :
1. Identitas mata pelajaran

  – Nama Mata Pelajaran
  - Semester
  - Deskripsi singkat MP
  – Kedudukan MP
  - Karakteristik MP
  - Cakupan materi pokok
2.Standar kompetensi

  • Merupakan seperangkat kompetensi yang dibakukan dan harus dicapai siswa sebagai hasil belajarnya dalam setiap satuan pendidikan (SKL)
  •  Digunakan untuk memandu penjabaran kompetensi dasar menjadi pengalaman belajar
  •  Urutan (sekuens) standar kompetensi menggunakan pendekatan prosedural dan hierakhis
  •  Pendekatan prosedural digunakan apabila standar kompetensi yang diajarkan berupa serangkaian langkah-langkah secara urut dalam mengerjakan suatu tugas pembelajaran.
  •  Pendekatan hierarkis menunjukkan hubungan yan bersifat subordinate/berjenjang antara beberapa standar kompetensi yang ingin dicapai. Dengan demikian ada yang mendahului dan ada yang kemudian. Standar kompetensi yang mendahului merupakan prasyarat bagi standar kompetensi yang berikutnya.

3. Kompetensi dasar

  • Rincian dari standar kompetensi, berisi pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang secara minimal harus dikuasai siswa
  •  Urutannya (sekuens) menggunakan pendekatan: prosedural, hierarkis, mudah-sukar, konkrit-abstrak, spiral, tematik/ terpadu, dsb.

4. Indikator

  •  Merupakan kompetensi dasar yang lebih spesifiK
  • Dikembangkan oleh guru sesuai dengan kebutuhan dan potensi siswa
  • Menggunakan kata kerja operasional yang dapat diukur dan cakupan materinya terbatas, contoh: menghitung, menafsirkan, membandingkan, membedakan, menyimpulkan, dsb.
  • Digunakan lebih lanjut dalam pengembangan instrumen tes

 

Contoh Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar

5.Materi pokok :

  • Pokok-pokok materi pembelajaran yang harus dipelajari siswa untuk mencapai kompetensi dasar
  • Jika ditetapkan secara nasional, tugas pengembang silabus menjabarkannya menjadi uraian materi pembelajaran
  •  Jenis materi: fakta, konsep, prinsip, prosedur.
  •  Dirumuskan dalam bentuk kata benda atau kata kerja yang dibendakan
  •  Buku teks hanya merupakan salah satu bahan rujukan penetapan materi pokok

 

Contoh Materi Pokok

Reigeluth, (1987:98) mengklasifikasi materi pembelajarna menajdi 4 jenis,yaitu:

  •  Fakta adalah asosiasi anatara objek, peristiwa, atau symbol yang ada atau mungkin ada dalam lingkungan nyata.
  •  Konsep adalah sekelompok objek atau peristiwa atau symbol yang memiliki karakteristik umu
  •  Prinsip adalah hubungan sebab akibat antara konsep.
  •  Prosedur adalah urutan langkah untuk mencapai suatu tujuan

6.Pengalaman belajar :

  • Pengalaman dan kegiatan siswa menunjukan aktivitas belajr dalam mencapai penguasaan standar kompetensi,kompetensi dasar, dan materi pembelajaran.
  • Pengalamn belajar adalah kegiatan fisik maupun mental yang perlu dilakukan oleh siswa dalam menacapi kompetensi dasar dan materi pembelajaran.
  • Pengalaman  belajar ranah KOgnitif, Psikomotorik dan Afektif
    -Kompetensi ranah kognitif meliputi menhafal, memahami, mengaplikasikan, menganalisa,, mensitesiskan, dan menilai
    - Kompetensi ranah psikomotorik meliputi tingkatan gerkan awal, semi rumit, gerakan rutin.
    - Kompetensi Afektif meliputi tingkatan pemberian respon, apresiasi, penilaian, dan internalisasi.

7.Strategi pembelajaran :

  • Merupakan bentuk/pola umum kegiatan pembelajaran yang akan dilaksanakan, terdiri atas :
    -Kegiatan tatap muka, berupa kegiatan pembelajaran dalam bentuk interaksi langsung antara guru dengan siswa (ceramah, tanya jawab, diskusi, presentasi seminar, kuis, tes).
    - Kegiatan non tatap muka, berupa:
      Kegiatan pembelajaran yang bukan interaksi guru-siswa (mendemonstrasikan, mempraktikkan, mengukur, mensimulasikan, mengadakan eksperimen, mengaplikasikan, menganalisis, menemukan, mengamati, meneliti, menelaah).
    - Kegiatan pembelajaran kontekstual
     -Kegiatan pembelajaran kecakapan hidup

 

8.Alokasi waktu :

Adalah perkiraan berapa lama siswa mempelajari materi yang telah ditentukan dengan memperhatikan tingkat kesulitan materi, luas materi, lingkup/cakupan materi, tingkat pentingnya materi
-Perlu memperhatikan alokasi waktu per semester dalam kalender pendidikan
-perlu dipertimbangkan juga waktu untuk remedial, pengayaan, tes/ulangan, dan cadangan
-Jika alokasi waktu ditetapkan secara nasional, maka pengembang silabus tinggal mendistribusikannya dalam program semester

9.Sumber bahan/acuan/rujukan :

  • Rujukan, referensi atau literatur yang bisa digunakan
  •  Bukan hanya buku teks, tetapi juga: jurnal, hasil riset, internet, dsb
  •  Mengikuti cara penulisan yang standar (nama pengarang, tahun terbit, judul buku, kota, nama penerbit)Contoh Format Silabus

 

10.Landasan Pengembangan SILABUS :

  • Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan pasal 17 ayat (2)
  • Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan pasal 20

 

B. Pengertian GBPP (Garis –Garis Besar Progam Pengajaran) 

                       Garis – Garis Besar Progam Pembelajaran (GBPP) adalah pokok – pokok pembelajaran yang disusun secara sisitematis dan mencakup deskripsi materi, tujuan, pokok bahasan, metode dan media,serta sumber bahan.

                       Pada dasarnya GBPP merupakan pedoman mengajar bagi guru yang berisikan materi minimal yang perlu dipelajari oleh semua siswa untuk mencapai tujuan pengajaran. Karena itu untuk siswa tertentu yang mempunyai kemampuan lebih dapat diberikan suatu materi pengayaan.

                       Materi pengayaan dimaksudkan sebagai tambahan materi untuk siswa atau kelompok siswa yang berminat dalam mata pelajaran tertentu dan lebih cepat dalam belajar pelajaran tersebut. Sedangkan siswa yang lambat dalam menerima pelajaran,diberikan pengajaran perbaikan. Dalam rambu – rambu GBPP pelaksanaan kegiatan belajar mengajar, guru hendaknya memilih dan menggunakan strategis yang melibatkan siswa aktif belajar, baik secara mental fisik, maupun social.

Di dalam GBPP memuat hal –hal beriut:

-          Pengetahuan dan fungsi mata pelajaran

-          Tujuan pengajaran mata pelajaran

-          Ruang lingkup bahan kajian/pelajaran

-          Pokok bahasan.

-          Konsep atau tema serta uraian keluasaan serta kedalaman materi

-          Rambu – rambu cara penyelenggaraan kegiatan belajar mengajar.

 

C. Perbedaan antara Silabus, dan GBPP

  • Silabus merupakan Merupakan hasil atau produk pengembangan disain pembelajaran, seperti GBPP
  •  Isi yang terkandung dalam GBPP lebih umum/luas, tapi dalam silabus lebih kusus
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.